Header Ads

http://www.bankdki.co.id/en/product-services/layanan/modern-banking/jakone-mobile-bank-dki

Sriwijaya Air Dekati Group Salim Guna Bangun Perwatan Pesawat

Sriwijaya Air Group mendekati Group Salim untuk bangun pusat perawatan pesawat di Bintan. 
Kelompok maskapai besutan Chandra Lie, Sriwijaya Air Group, menjajaki peluang kerja sama dengan perusahaan yang berbasis di Singapura, Gallant Venture Ltd. guna membangun pusat perawatan pesawat di Bintan. 

Sebelumnya, Gallant Venture Ltd pernah meneken nota kesepahaman dengan PT Garuda Indonesia Tbk untuk membentuk aliansi bisnis perawatan pesawat di Bintan.

Sayangnya, kerja sama itu tidak berlanjut hingga kini. Direktur Utama PT Sriwijaya Maintenance Facility (SMF) Richard Budihadianto mengatakan pihaknya bersama Galant Venture masih melakukan pembahasan terkait skema kerja sama dalam bisnis perawatan pesawat (maintenance repair overhaul/MRO). 

“Terus terang masih ada beberapa skema yang dipikirkan. Apakah hanya sewa tanah, atau melakukan joint venture. Nah ini kita sedang jajaki, namun tentu saja kami terbuka apabila ada opsi skema kerja sama lainnya,” katanya di Jakarta, Selasa (14/3).

Richard menegaskan pengembangan pusat perawatan pesawat di Bintan merupakan rencana strategis Sriwijaya Air Group. Selain biaya tanah dan pekerja lebih murah, posisi Bintan juga dekat dengan Singapura. 

Menurutnya, Singapura merupakan pusat industri jasa angkutan udara di Asia Tenggara. Bahkan, seluruh pabrikan pesawat, termasuk gudang suku cadang, workshop dan lainnya sudah memiliki kantor cabang di negeri itu.

“Mereka center aviation di region kita. Semua pabrikan punya kantor di sana, punya workshop, sparepart dan lain sebagainya. Kalau kita mau bangun bengkel, memang paling bagus itu dekat dengan sumber itu,” tuturnya. 

Di samping itu, lanjutnya, kerja sama dengan Gallant Venture juga sejalan dengan keinginan Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan agar Indonesia dapat berkolaborasi dengan Singapura guna menggarap pangsa pasar MRO.

Gallant Venture Ltd adalah unit usaha investasi Grup Salim yang berkantor pusat di Singapura. Perusahaan itu memiliki lini bisnis seperti bidang otomotif, utilitas, properti, resort dan kawasan industri. 

Gallant melalui anak usaha PT Bintan Aviation Investment juga berencana membangun kawasan Bintan Airport & Aerospace Industry Park di Bintan. Nantinya, kawasan tersebut akan menjadi pusat MRO yang terintegrasi.

Sementara itu, Managing Director PT Bintan Aviation Investment (BAI) Michael B.K. Wudy mengatakan proyek pengembangan aerospace tahap pertama masih berjalan. Salah satunya yang tengah di bangun antara lain landas pacu. 

“Saat ini, landas pacu sepanjang 3.000 meter itu sudah di pondasi sekitar 80%. Setelah itu, kami akan bangun juga terminal dengan kapasitas 1 juta penumpang. Pembangunan tahap pertama ditargetkan ram pung 2018,” kata Wudy.

Wudy menyebutkan dana yang dialokasikan untuk aerospace tahap pertama itu sekitar US$$100 juta–US$150 juta atau setara dengan Rp1,33 triliun – Rp2 triliun. Rencananya, luas lahan yang dialokasikan perseroan untuk bandara sekitar 700 hektare. Sementara itu, luas lahan yang dialokasikan untuk pengem bangan MRO sekitar 500 hektare. Adapun, luas lahan yang dimiliki perseroan untuk me ngembangkan Aerospace Industry di Bintan mencapai 4.000 hektare.

Di sisi lain, Richard yang juga menjabat Ketua Asosiasi Perawatan Pesawat Indonesia (Indonesia Aircraft Maintenance Services Association/ IAMSA) menilai pasar luar negeri sebenarnya cukup prospektif untuk digarap. Menurutnya, pasar luar negeri memberikan margin yang terbilang cukup tinggi ketimbang pada pasar dalam negeri.

Meski begitu, pasar dalam negeri juga tetap prospektif mengingat jumlah pesawat yang beroperasi di Indonesia sangat besar. “Nilai biaya MRO dalam negeri kita mendekati US$920 juta. Dari total biaya MRO nasional itu, perusahaan MRO dalam negeri hanya mengerjakan sekitar 40%. Sementara sisanya, terpaksa dikerjakan di luar negeri,” katanya.

Untuk tahap pertama, SMF akan mulai mengerjakan seluruh armada Sriwijaya Air dan NAM Air. Kemudian, SMF akan menyasar pangsa pasar MRO regional. Setelah itu, SMF baru akan menyasar pasar MRO dunia. 

Sekadar informasi, pangsa pasar industri MRO saat ini mencapai US$72 miliar. Dari total nilai tersebut, perusahaan AS menggarap sebanyak 32%. Disusul, Eropa Barat sebesar 28% dan Asia. 

“Namun, pangsa pasar MRO kini sudah bergeser. Saat ini, di posisi kedua sudah ditempati Asia. Nah diharapkan pada 2018, berdasarkan order dari maskapai, posisi pertama itu akan ditempati Asia dan China,” ujar Richard.(BI)

No comments

Powered by Blogger.