Header Ads

http://www.ipctpk.co.id/

Akhirnya, Tjoetjoe Bersedia Kembali Pimpin KAI

Suasana Konggres Nasional KAI ke-3 di Surabaya, 26-29 April 2019. Foto: KAI. 
Surabaya - Kongres Advokat Indonesia (KAI) kembali menyelenggarakan Kongres Nasional. Konggres yang ketiga ini dihelat di Hotel Empire Palace Surabaya Jawa Timur pada tanggal 26-29 April 2019.

Kongres Nasional KAI itu dihadiri oleh peserta dari 24 Dewan Piimpinan Daerah (DPD) KAI  seluruh Indonesia. Selain itu, turut hadir dalam kongres itu Ketua Pengadilan Tinggi Surabaya, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Surabaya, utusan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, wakil dari  Pengadilan Tinggi Agama Surabaya, wakil dari Pangdam V Brawijaya, dan pejabat dari provinsi Jawa Timur.

Menurut keterangan dari situs KAI, Kongres Nasional (KN) itu berjalan lancar, akan tetapi memasuki sidang paripurna IV dengan agenda pemilihan Presiden KAI periode 2019-2024 sempat mengalami dead-lock dan macet beberapa kali.

Hal itu, masih menurut situs resmi DPP KAI, dikarenakan proses pemilihan calon presiden KAI begitu demokratis, cair dan menegangkan. Ada tiga orang bakal calon (Balon) Presiden KAI yang diusulkan peserta Kongres yaitu Rizal Haliman, Henry Indraguna dan Tjoetjoe Sandjaja Hernanto.

Setelah ada tiga bakal calon, maka Presidum kongres menanyakan kepada masing-masing bakal calon. Pertama kepada Rizal Haliman Presidium bertanya “apakah advokat Rizal Haliman bersedia memimpin KAI untuk periode 2019-2024?”. Rizal Haliman menyatakan tidak bersedia dengan berbagai pertimbangan dan mengundurkan diri dari pencalonannya.

Kedua kepada bakal calon Henry Indraguna. Presidium menanyakan hal yang sama “apakah saudara advokat Hendry bersedia memimpin KAI sebagai presiden untuk periode 2019-2024?”. Henry Indraguna menyatakan tidak bersedia dan mengundurkan diri dari pencalonannya.

Akhirnya hanya tinggal satu bakal calon, Tjoetjoe Sanjaja Hernanto (TSH). Presidium menanyakan dengan pertanyaan yang sama “apakah Saudara Tjoetjoe Sandjaja Hernanto bersedia mempimpin KAI sebagai presiden untuk periode 2019-2024?”. Jawaban Tjoetjoe Sandjaja sangat mengagetkan karena ternyata juga menyatakan tidak bersedia untuk memimpin sebagai Presiden KAI periode 2019-2024. Karena tak ada bakal calon yang bersedia untuk dicalonkan maka gaduhlah suasana Kongres dan ini merupakan persoalan yang sangat substantif dan serius—ternyata benar kongres akhirnya dead-lock.

Presidium akhirnya berembuk dan menskors sidang paripurna dan meminta 24 DPD untuk berembuk dengan presidium untuk mencari solusi, jalan keluar dalam menyikapi kondisi faktual yang sedang terjadi. Maka berembuklah para ketua DPD KAI dari 24 provinsi dengan presidium untuk mencari solusi.

Dinamika pertemuan sangat mengharukan. Semua pimpinan DPD KAI menyampaikan pendapat serta uneg-unegnya dan meminta TSH untuk bersedia memimpin kembali KAI. Beberapa ketua DPD menyampaikan apabila TSH tidak bersedia untuk memimpin KAI kembali, maka mereka akan kembali ke daerah masing-masing.

Ketua DPD Sulawesi Selatan, Muhammad Israq, mengatakan “ malam ini kami akan kembali ke Makassar jika TSH tidak mau  memimpin KAI lagi”.

Ketua DPD Papua Barat, DPD Aceh, DPD Gorontalo, DPD Kaltim menyampaikan hal serupa bahwa mereka datang dengan berbagai sarana transportasi ke Surabaya bahkan ada yang sampai empat hari perjalanan via darat dan kapal laut hanya untuk mensukseskan Kongres Nasional KAI dan mendukung TSH untuk menjadi presiden KAI kembali. Ketua DPD NTB, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur semuanya menyampaikan aspirasinya dan menunggu reaksi Tjoetjoe Sandjaja Hernanto. Berbagai argumentasi disampaikan oleh pimpinan-pimpinan DPD tersebut.

Atas desakan seluruh peserta Kongres Nasional III KAI, Tjoetjoe gagal mempertahankan konsep satu periode

Bagaimana reaksi TSH atas semua tanggapan 24 DPD tersebut? TSH tetap menyatakan tidak bersedia dengan menyampaikan beberapa alasan, dan terutama ia mengatakan tidak ingin dikenang sebagai pemimpin yang ingkar janji. Karena dalam kongres sebelumnya TSH pernah berjanji hanya akan memimpin KAI satu periode saja. “Saya tidak mau menjilat ludah saya lagi”, kata TSH.

Akhirnya musyawarah buntu kembali. Presidium kemudian berembuk kembali dan menyampaikan sikap bahwa kongres adalah kekuasaan dan kedaulatan tertinggi KAI. Kita tidak mungkin mengorbankan harapan dari peserta kongres yang berjumlah 572 advokat dari seluruh pelosok negeri, demikian dikatakan Presidium. Akhirnya presidium harus mengambil keputusan.

Keputusan presidium adalah meminta TSH untuk memimpin kembali sebagai Presiden KAI periode 2019-2024. “Itu yang akan kita putuskan sebagai keputuan kongres dalam sidang nanti. Presiden demisioner harus melanjutkan kepemimpinannya, kecuali Pak Tjoetjoe akan keluar dan berhenti sebagai anggota KAI” kata Heru S Notonegoro. Akhirnya meskipun tahu sangat berat amanah yang diberikan, TSH harus tunduk pada keputusan Presidium Konggres. Oleh karenanya TSH akhirnya bersedia untuk memimpin kembali KAI sebagai presiden.

Bahwa Presidium akhirnya mengambil sumpah TSH sebagai Presiden KAI periode 2019-2024. Pengambilan sumpah dipimpin oleh salah satu anggota presidium, seorang advokat senior Agus Slamet Hidayat.

Kepemimpinan Presiden KAI 2019-2024 akan didampingi oleh beberapa Wakil Presiden (Vice President) yaitu: Heru S Notonegoro, Umar Husin, TM. Luthfi Yazid, Aldwin Rahardian, Hendry Indraguna, Prof. Denny Indrayana,  dan Pheo Marajohan Hutabarat.

Sumber : website resmi DPP KAI (www.kai.or.id)

No comments

Powered by Blogger.