Header Ads

http://www.ipctpk.co.id/

Mahasiswa Bergerak, Tunda Legislasi Bermasalah


Aksi mahasiswa di Jember, Jawa Timur, menolak RKUHP, RUU Ketenagakerjaan, RUU Pertanahan, sejumlah isu lainnya. Foto : Oriza
JAKARTA - Mahasiswa hari ini, Senin (23/9), kembali turun ke jalan. Tak hanya di Jakarta, hampir di penjuru Nusantara, mereka bergerak untuk menyuarakan aspirasi mereka terhadap perkembangan terbaru di negeri ini.

Di Yogyakarta, mahasiswa menggelar aksi di seputar Jalan Gejayan, Senin (23/9) siang sekitar pukul 13:00 WIB. Selain mahasiswa, ada juga dosen dan masyarakat ikut bergabung bersama aksi itu. Mereka menolak UU KPK yang baru saja disahkan. Selain itu mereka juga menolah RKUHP, RUU Ketenagakerjaan, RUU Pertanahan, menuntut penyelesaian kasus pembakaran hutan di beberap wilayah di Indonesia, dan menuntut pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) serta mendorong proses demokratisasi di Indonesia dan menghentikan penangkapan aktivis di berbagai sektor.

Aksi mahasiswa juga terjadi di Makassar. Mahasiswa di sana meminta Presiden Joko Widodo untuk mundur. Mereka juga menolak UU KPK, RUU Ketenagakerjaan, RUU Pertanahan, dan produk legislasi lain yang mementingkan pengusaha ketimbang rakyat.

Aksi mahasiswa juga terjadi di Jombang, Malang, dan Jember. Di Malang, mereka menggunakan baju serba hitam dan menuntut Presiden Joko Widodo untuk mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) untuk mencabut UU KPK dan UU Sumber Daya Air. Mereka juga menuntut agar DPR menunda pengesahan RKUHP, RUU Ketenagakerjaan, RUU Pertanahan, dan produk legislasi yang kontroversi lainnya.

Aksi menggunakan pakaian serba hitam ini memprotes nurani penguasa yang diduga telah mati. Lantaran kepentingan kelompok dan golongan, penguasa diduga abai terhadap hak-hak rakyat. Kini, ribuan bahkan jutaan rakyat di Sumatera dan Kalimantan berjuang melawan asap karena hutan mereka dibakar. Lantaran hal itulah, mereka meminta agar Presiden Joko Widodo mencabut izin korporasi pembakar hutan.

Aksi warga di Wamena yang berujung rusuh.
Malahan untuk demonstrasi di Wamena berlangsung rusuh. Diduga dipicu oleh isu adanya ucapan sara oleh guru di sana. Mereka membakar gedung kantor pemerintahan, perusahaan daerah, toko dan kendaraan bermotor. Kantor Bupati Wamena tak luput dari aksi mereka itu. Anggota Brimob yang berjaga-jaga di kantor Bupati Wamena pun turut menjadi korban. Saat mereka menenangkan massa, mereka terkena amukannya dan ada enam orang meninggal karena kekerasan massa itu.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.