Header Ads

http://www.ipctpk.co.id/

Agar Tak Asal Comot Foto

Suasana sidang gugatan hak cipta fotografi di Pengadilan Niaga Jakarta. Foto : Zonautara
JAKARTA - Di era kemajuan teknologi informasi, pelanggaran hak cipta fotografi begitu mudah dilakukan. Ketika suatu foto terunggah di situs web tertentu, tanpa pikir panjang, sejurus kemudian foto milik orang pun dengan mudah diambil dan ditampilkan di laman miliknya.

Mungkin kejadian asal comot itu tak disadari, apalagi ketika kita berdalih foto tersebut sudah dipublikasikan. Seolah foto yang berada di ruang publik itu miliknya, dan hak moral apalagi hak ekonomi penciptanya pun dipinggirkannya.

Di Indonesia, pelanggaran terhadap hak cipta seolah masih riak kecil. Entah lantaran belum faham hak-haknya atau karena takut ribet apabila sang empunya hak cipta diambil karyanya oleh pihak lain. Mereka terkesan pasrah dan menyerahkan pada nasib.

Masih sedikit pula yang membawa pelanggaran hak cipta fotografi itu ke ranah hukum.

Mengenai kegigihan mempertahankan hak cipta fotografi, ada seorang fotografer paruh waktu Jefri Tarigan yang foto-foto Arya Permana, seorang anak asal Karawang, Jawa Barat yang mengalami obesitas, digunakan tanpa seizinnya oleh portal berita milik grup media tenama.

Foto karya Jefri Tarigan tersebut pertama kali didistribusikan oleh Kantor Berita Barcroft Inggris. Kemudian, tanpa seizin pemilik foto, yakni Jefri Tarigan, media siber milik grup besar itu memuat foto karya Jefri itu.

Jefri pun akhirnya menempuh jalur hukum melalui Pengadilan Niaga Jakarta. Menurut Kuasa Hukumnya dari LBH Pers, Gading Yonggar Ditya, tribunnews.com sebagai media siber harusnya menghormati karya cipta orang lain.

Gading menandaskan, seharusnya mereka izin penggunaan foto disertai dengan kompensasi. Seandainya hal itu dilakukan, kata Gading, maka tidak perlu ada pengajuan gugatan ke Pengadilan Niaga.

Sidang gugatan Jefri Tarigan pada Kamis (17/10) mendatang agenda sidangnya berupa pengambilan putusan.

Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Jakarta Grandyos Zafna berharap agar Jefri Tarigan dapat memenangkan guguatannya. Ia memandang, dampak putusan dari kasus ini sangat besar. Secara psikologis, para pewarta maupun orang yang berkecimpung di dunia fotografi berani mempertahankan haknya ketika karyanya diambil orang. "Kami ingin pewarta foto di seluruh Indonesia lebih peduli dengan hak cipta," tandas Grandyos.

Kasus Jefri Tarigan ini mengingatkan kita akan kasus serupa yang menimpa fotografer Haiti, Daniel Morel. Ia berseteru dengan Kantor Berita AFP (Agence France-Presse).

Kala itu AFP menggunakan foto gempa Haiti milik Daniel Morel yang dia unggah di twitternya. AFP kemudian menyebarkan ke jaringannya.

Atas tindakan AFP itu, Daniel melayangkan gugatan. Ia berhasil memenangkannya dan mendapatkan ganti rugi sebesar 1,2 juta US Dollar.

Tindakan main comot foto milik orang lain tersebut melanggar Pasal 9 ayat 3 UU No.28/2014 tentang Hak Cipta. Selain itu dalam Peraturan Dewan Pers nomor 1/Peraturan-DP/III/2012 tentang Pedoman Pemberitaan Media Siber, khususnya pada poin 7.

Dengan mempertimbang berbagai hal tersebut, harapan agar Jefri Tarigan mendapatkan keadilan pun tak muluk. Apalagi bila melihat fakta persidangan yang mana Jefta, begitu ia kerap disapa, dapat memperlihatkan link berita yang mempergunakan foto-foto miliknya, maka kemenangan seharusnya bukanlah hal yang mustahil. Semoga keadilan masih berpihak kepada pemilik karya cipta. (Rep4)


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.