Header Ads

http://www.ipctpk.co.id/

Sayub-sayub Jerit Warga di Wamena dan Riuhnya Pelantikan di Senayan

Kerusuhan Wamena, Papua, Senin (23/9). Foto: Ist
JAKARTA - Jerit ketakutan masih terdengar di Wamena, Papua. Teriakan yang sudah semingguan ini, seolah tak keluar suaranya. Letih dan tak terperi lagi rasa di hati.

Sejak amarah tertumpah pada Senin (23/9) lalu, anak pertiwi seolah tak tentu arah. Tangis pilu bersahutan menabuh genderang amarah di sana. Pribumi, pendatang dibuat kontradiksi.

Amarah membuncah. Sosok yang dahulu begitu ramah menyapa, berbalik mengerikan. Nyawa seolah tak berharga. Persaudaraan menjadi tak bermakna. Angakara kian digdaya di sana.

Angan kita belakangan tertuju pada sosok dokter Soeko Marsetyo. Insan medis yang begitu tulus mengabdi di pedalaman Papua ini bernasib nahas saat amarah warga Wamena meledak-ledak. Ia gugur dengan cara tak manusiawi dan tak terbayangkan akan ada warga yang begitu beringas kepada almarhum dokter Soeko yang dikenal begitu dekat dengan masyarakat di sana.

32 orang lain menemui ajal sejak kerusuhan pecah di Wamena, Jayawijaya, Papua. Bagunan kantor pemerintahan, toko, BUMN, BUMD, hingga kendaraan termasuk yang dijadikan sasaran amarah.

Jerit tangis warga pendatang dihimpit rasa ketakutan. Mereka tak membayangkan akan mengalami hal ini di negerinya sendiri.

Kondisi mencekam ini bukan terjadi di luar negeri. Ini terjadi di dalam negeri. Antar anak negeri terpaksa membenci lantaran ada ruang hampa tak segera terisi. Kesejahteraan dan kesenjangan itu yang senantiasa dijadikan alasan mengapa amarah itu terjadi.

Luka-luka yang menganga itu belum terobati. Teriakan anak negeri di sana seolah tak terdengar.

Video, foto dan timeline bertebaran di jagad maya. Mengabarkan peristiwa demi peristiwa memilukan itu.

Lagi-lagi, harapan agar pemimpin dan pembesar negeri memberikan perhatian lebih bagi warga di Wamena dan Papua pada umumnya tak jua terealisasi.


Kelu lidah penguasa. Ucapan duka cita atas warga yang meninggal karena amarah di Wamena pun tak jua ada.

Bagi-bagi kuasa seolah itu yang utama. Pelantikan baginya itu yang dicita. Malah keinginan tuk seraga duduk membahana.

Penguasa, ribuan warga di sana menanti disapa. Tak hanya kata-kata, namun langkah nyata di sana.

Ya Tuhan, lindungilah hambaMu di Indonesia, khususnya Papua. Jangan biarkan mereka tenggelam dalam amarah dan durjana.

Semoga pula, wakil rakyat yang dahulu kami pilih di April 2019 lampau, ingat akan janjinya. Hari Selasa (1/10) ini, mereka bersuka cita. Dilantik sebagai salah satu pemegang kuasa negara. Semoga jerit, tangis, dan teriakan warga di Wamena terdengar membahana di Senayan sana.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.