Header Ads

https://daihatsu.co.id/

Ini yang Dipergunakan Dokter Indonesia untuk Obati Pasien Covid-19

Pengobatan terhadap virus Covid-19 diungkapkan dengan menggunakan obat flu burung maupun lainnya.
Jakarta - Para ilmuwan kesehatan masih berjibaku menemukan vaksin dan obat untuk mengakhiri wabah virus corona. Begitu pula para tenaga medis yang sedang berjuang menyembuhkan para pasien yang terpapar virus corona jenis baru penyebab penyakit COVID-19 yang menyerang sistem pernapasan itu.

Dari penuturan seorang dokter spesialis penyakit paru yang juga terlibat dalam penanganan pasien positif coronavirus, terungkap bagaimana perawatan COVID-19 di Indonesia yang diberikan oleh tenaga medis selama ini.

Prof. Dr. dr. Faisal Yunus, Sp.P (K), FCCP yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menjelaskan, ada beberapa treatment atau jenis perawatan yang diberikan kepada pasien COVID-19.

Faisal mengaku, salah satu tindakan suportif yang dilakukan tim medis adalah pemberian obat yang dulunya pernah digunakan untuk menangani wabah penyakit sebelum kemunculan SARS-CoV-2.
“Kita memberikan oseltamivir, obat yang juga digunakan untuk kasus flu burung,” ujarnya saat dihubungi kumparanSAINS, Minggu (22/3).

Sebagaimana diketahui, perhatian dunia kesehatan juga pernah tersita dengan merebaknya wabah flu burung yang disebabkan virus influenza H5N1. Penyakit itu menghampiri Indonesia pada 2005 silam.
Oseltamivir (tamiflu) merupakan jenis obat antiviral yang dipakai dalam pengobatan influenza.

Dalam riset berjudul Avian Influenza A (H5N1): Patogenesis, Pencegahan dan Penyebaran pada Manusia, peneliti Maksum Radji menjelaskan bahwa oseltamivir merupakan inhibitor neuraminidase yang gunanya untuk menghentikan replikasi virus.

Juru bicara penanganan virus corona di Indonesia, Achmad Yurianto, pernah memaparkan beberapa gejala klinis dialami para pasien COVID-19 di Indonesia. Gejala awal yang timbul umumnya meliputi demam, batuk dan pilek.

Yurianto mengimbuhkan, apabila gejala klinis yang ringan tersebut terlambat ditangani, maka akan berkembang menjadi berat karena pasien mengalami kesulitan bernapas, yakni ditandai dengan munculnya pneumonia.

Pneumonia, seperti yang dijelaskan oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), merupakan infeksi atau peradangan akut di jaringan paru yang disebabkan oleh mikroorganisme, seperti bakteri, virus, parasit, jamur, pajanan bahan kimia, atau kerusakan fisik paru.Menurut penjelasan Faisal, untuk para pasien COVID-19 yang menderita pneumonia, intervensi medis yang dilakukan ialah dengan memberikan antibiotik. Selain oseltamivir dan antibiotik, pasien COVID-19 juga mengonsumsi vitamin C dosis tinggi dengan pengawasan dokter.

“Kita juga memberikan obat-obat lain kalau diperlukan. Misalnya kalau ada gangguan hati, kita berikan hepatoprotector,” imbuhnya. 

Dari situs resmi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) diketahui bahwa hepatoprotektor merupakan suatu senyawa obat yang dapat memberikan perlindungan pada hati dari kerusakan yang ditimbulkan oleh racun, obat atau virus.

Terapi menggunakan klorokuin juga dilakukan
Yang menarik, Faisal mengungkapkan bahwa penggunaan obat klorokuin yang sempat mengundang kontroversi itu juga telah diterapkan tim medis di Indonesia untuk merawat pasien positif coronavirus.

“Kita juga menggunakan klorokuin,” kata Faisal.

Beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi telah membocorkan bahwa akan ada dua obat yang disiapkan untuk mengobati pasien COVID-19, yakni avigan dan klorokuin.

Klorokuin sendiri dikenal sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit malaria. Penggunaan obat yang telah teruji aman secara klinis ini tetap harus dengan resep dan pengawasan dari dokter.

Guru Besar Bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik Universitas Padjadjaran, Dr. Keri Lestari, M.Si., Apt. menjelaskan bahwa di dunia medis, terapi obat yang sedianya diproduksi untuk menyembuhkan suatu penyakit tertentu, bisa digunakan pula sebagai terapi untuk jenis penyakit lain. Hal itu menurutnya, sudah jamak dijumpai dan dikenal dengan istilah repurposing drug.

Di dunia internasional, penggunaan klorokuin untuk mengatasi COVID-19 mendapat sorotan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (Food and Drug Administration/FDA). FDA menyatakan klorokuin belum disetujui untuk mengobati virus corona. (KUM)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.