Header Ads

https://daihatsu.co.id/

Jokowi Bisa Dilengserkan Jika Sengaja Pertaruhkan Keselamatan Rakyat Dari Virus Corona Demi Pariwisata

*Oleh: Rahmat Thayib, Penggiat Demokrasi Berkeadaban
 
Sebelumnya, Pemerintah kompak soal zero virus corona di Indonesia. Pokoke Indonesia kebal virus corona! Mau seluruh negara-negara jiran kompak buka data negaranya sudah kedapatan kasus virus corona kek. Mau Arab Saudi menangguhkan visa jamaah umroh Indonesia demi antipasti virus kek. Mau PM Australia Scott Morrison ragukan Indonesia kebal virus corona kek. Masa bodoh!

Hari ini “istana kartu” zero virus corona itu runtuh. Presiden Jokowi sendiri yang mengumumkan. Dua orang sudah jadi sucpectvirus corona. Konon lokasinya di Depok, Jawa Barat. Pemerintah juga belum menjelaskan sudah sejauh mana penyebaran wabah ini. Apakah paramedis atau pengunjung rumah sakit lokal di Depok itu—sebelum di bawa ke Rumah Sakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso—tidak ada yang terjangkit?

Ketidakjelasan Pemerintah keruan membuka sumbatan kecemasan daerah akan wabah virus corona. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan buka kartu perkembangan pengawasan virus corona di ibu kota, termasuk membentuk tim pengawasan. Gubernur Ridwan Kamil menaikkan status Jawa Barat menjadi siaga 1. Ada pula kabar sucpect virus corona di Padang, dan sebelumnya di Bali. Ke depannya, saya yakin kabar-berita semacam ini akan berlanjut. Rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke pasti makin heboh.

Keruan publik bertanya-tanya? Kok bisa kebobolan begini?

Sejak awal publik memang tidak percaya bahwa Indonesia zero virus corona. Pasalnya, setiap tahun setidaknya 2 juta pelancong Tiongkong bertandang ke Indonesia. Apalagi virus corona sudah mewabah di negara-negara jiran. Ditambah dengan wilayah yang begitu luas, banyak pulau, dan ratusan pintu masuk resmi dan tidak resmi ke tanah air. Tapi Pemerintah ngotot. Dan publik dipaksa untuk percaya. Soal suspect virus corona di Jateng yang tewas itu misalnya diumumkan terjangkit flu babi. Padahal setahu kita flu babi ini sudah ada obatnya?Jadi ketika pemerintah ngotot Indonesia zero virus corona sesungguhnya sudah ada ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah. Dan kini, ketika benar-benar sudah ada, publik makin tidak percaya lagi.

Apalagi pemerintah terkesan “santuy”. Lihat saja Presiden Jokowi yang membahas wabah ini dengan cara duduk di sofa bersama Menkes Terawan Agus Putranto. Pemerintah seolah-olah ingin menegaskan bahwa virus corona ini cuma soal sepele.  Mungkin pemerintah khawatir isu virus corona bakal membikin rontok sektor pariwisata Indonesia. Bukankah demi hal ini pemerintah sampai berencana membayar influencer?

Kebijakan ini kontradiktif dengan banyak negara lain yang memberlakukan kebijakan khusus untuk melindungi warga negaranya dari virus corona. Mulai dari pembatasan orang asing masuk ke negaranya, membatalkan ajang-ajang internasional, hingga pembatasan wilayah tertentu.

Rakyat Indonesia bertanya: apakah duit pariwisata itu sebanding dengan keselamatan rakyat Indonesia? Bukankah konstitusi secara tegas menyatakan bahwa tujuan negara adalah “melindungi segenap tumpah darah Indonesia?”

Kengototan pemerintah akan Indonesia zero virus corona harus diusut. Benarkah ada unsur keteledoran  dalam mengantisipasi ancaman virus corona. Benarkah ada kesengajaan membangun citra Indonesia zero virus corona untuk mendongkrak sektor pariwisata. Benarkah pemerintah rela mempertaruhkan keselamatan rakyat Indonesia demi pendapatan negara semata?

Menkes Terawan harus bertanggungjawab. Juga Menkopolkam Mahfud MD dan Menlu Retno Marsudi. Bahkan jika unsur kesengajaan ini terbukti, tidak tertutup kemungkinan Presiden Jokowi dilengserkan atas tuduhan melanggar konstitusi.

Kita bisa berkaca pemakzulan ini lewat kehebohan yang melanda Korea Selatan. Ratusan ribu rakyat negeri ginseng itu telah mengajukan petisi menuntut pemunduran diri Presiden Moon Jae-in karena dianggap keliru mengatasi wabah virus corona.*

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.