Header Ads

https://daihatsu.co.id/

Dr. Chandra Motik, SH, M.Sc; Kartini Hukum Maritim Indonesia

Chandra Motik, SH, MSc, PhD. Kartini Hukum Maritim Indonesia
Hari ini, 21 April 2020. Mungkin ada yang terlewati dari perasaan khawatir di tengah pandemi virus corona (covid-19). Ya, hari ini diperingati setiap tahunnya sebagai HARI KARTINI. 

Di era modern saat ini, Kartini-Kartini tangguh terus menunjukkan eksistensinya. Chandra Motik, satu dari sedikit ahli hukum atau hukum maritim di Indonesia. Wanita cantik ini konsisten menggeluti bidang hukum maritim, bukan hanya karena passion-nya, tetapi sebagai indikator keresahannya terhadap hukum maritim di Indonesia.

Ia pun dijuluki “Srikandi Maritim” yang menjiwai bidangnya dengan segenap cinta. Ketika berbicara hukum maritim di hadapannya, grafik adrenalin Chandra Motik akan langsung naik sebagai bentuk semangatnya untuk terus menggali lebih dalam lagi sisi hukum kelautan di Indonesia yang sangat luas.

Chandra Motik sewaktu menyerahkan buku kepada mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla
Ibarat nahkoda yang tangguh melawan ganasnya ombak di lautan, begitulah sosok Chandra Motik, yang terus bertarung melawan ketidakadilan hukum maritim di tanah air. Wanita cantik kelahiran 18 Februari 1954 ini sangat antusias bicara soal hukum maritim.

Siapa sangka wanita yang murah senyum ini melabuhkan hatinya dalam dunia kelautan, dan memutuskan untuk menggeluti bidang hukum maritim yang cukup jarang dilirik banyak orang dengan penuh  dedikasi dan pengabdian. Ia jatuh hati terhadap hukum maritim di Indonesia ketika pertama kali hadir di persidangan dalam kasus terkait hukum maritim. 

“Musibah tenggelamnya KMP Tampomas II sekitar tahun 1981 yang memakan banyak korban jiwa saat itu menjadi musibah paling menghebohkan. Dari sinilah saya mulai tertarik menggeluti tentang hukum maritim. Jadi makin senang lihat laut,” ujar Chandra dengan senyumnya yang khas.


Sebagai Pakar Hukum Maritim di Indonesia.
Saat itu, merupakan momen pertama kali bagi Chandra Motik berada di ruang persidangan. Ia melihat hakim yang sedang tidak memiliki mood untuk menyidangkan kasus. Ia juga menilai pengetahuan hakim tersebut tentang maritim belum memadai. Saat itulah, muncul dorongan dan keinginan kuatnya untuk belajar lagi tentang hukum maritim.

Chandra Motik mengakui awalnya bercita-cita untuk menjadi astronot. Namun istri dari Ing Yusuf Djemat yang menikah pada tahun 1983 ternyata berubah haluan dan menjatuhkan hatinya untuk menggeluti bidang hukum maritim. Motivasi kuat menjalani karir di bidang hukum maritim, tak hanya didorong oleh pengalamannya saat menghadiri sidang kasus musibah tenggelamnya KMP Tampomas II, namun ia juga menyukai laut.

“Saya senang laut. Apalagi lihat kapal, bisa menjelajah dunia. Dan jadi ingat cerita-cerita jaman dulu, seperti kehebatan Sriwijaya dan Majapahit. Ini jelas bukti sejarah, bahwa dulu itu Indonesia jaya lho jika di laut. Kok sekarang nggak. Dan setelah saya menyimak, ini karena paradigma kita masih di darat. Sedangkan lautnya masih kurang. Jadi, kalau beli kapal tidak boleh sedikit. Tapi karena masih belum bisa beli kapal, makanya jadi lawyer-nya saja dulu,” kata Chandra Motik tertawa lepas.

Laut Bagian dari Jiwa Kartini Hukum
Sebagian besar hidupnya untuk penegakan hukum laut.
Wanita cantik ini mewujudkan mimpinya sebagai seorang praktisi hukum maritim dengan mengambil kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Ia pun menggali ilmu hukum laut. Namun, dia merasa heran, sebagai negara kepulauan, Indonesia hanya punya segelintir ahli hukum maritim, kalau tidak mau dianggap tidak ada.

Setelah lulus Fakultas Hukum UI tahun 1977, Chandra Motik melanjutkan studinya ke Berlitz Sprach Schule, Deeseldorf Jerman, University of Hamburg West Germany (Lecture’s Attendance). Kemudian mengambil magister di Kennedy-Western University, USA (Master of Science Degree /M.Sc.). Chandra Motik juga  mengambil program doktor di universitas yang sama, Kennedy-Western University USA, (Doctor of Phlisophy/Ph.D.).

Singkat cerita, Chandra Motik akhirnya bersama suami mendirikan kantor firma hukum sendiri, Chandra Motik Yusuf & Associates, di Jakarta Pusat. Sejak itulah, Chandra Motik menekuni berbagai kasus yang berkaitan dengan hukum laut.

Chandra Motik masih ingat,  di tahun 1981, ada beberapa kasus dan kejadian menarik mengenai hukum laut selain kasus KMP Tampomas II. Seperti kasus kapal milik Pelni, BUMN di bidang perhubungan yang terbakar di perairan Masalembo, perairan antara Pulau Jawa, Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi. “Dari kasus-kasus yang ada, membuat saya jadi ingin terus belajar menggali lebih dalam lagi sisi hukum kelautan di Indonesia yang sangat luas,” ungkapnya.

Sebagai seorang praktisi hukum di dunia kelautan, ia menilai bidang  ini berperan sangat penting, apalagi melihat obsesi Presiden Jokowi mengenai Poros Maritim. Ia pun mengungkapkan bahwa di tahun 2004-2009, era ketika Jusuf Kalla menjadi Wakil Presiden, terjadi perbaikan yang cukup signifikan dalam dunia maritim di Indonesia. Chandra Motik pun sangat mengagumi Jusuf Kalla dan menjadi tokoh yang menurutnya patut diteladani, khususnya di dunia maritim.


Mengambil peran penting bagi penegakan hukum maritim.
“Sayangnya, setelah beliau tidak lagi menduduki posisi tersebut (2009-2014), sepertinya sudah mulai dilupakan lagi dunia kelautan. Tetapi saya berharap, dengan kembalinya Pak Jusuf Kalla menjadi Wapres sekarang ini, dunia kelautan khususnya hukum laut di Indonesia kembali mendapat perhatian yang signifikan. Apalagi kalau melihat obsesi pak Jokowi dengan Poros Maritim-nya,” kata Chandra Motik.

Alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) tahun 1977 mengantongi segudang prestasi fenomenal. Kesuksesan yang diraihnya pun tidak didapat semudah membalikkan telapak tangan atau hanya sekadar mengharapkan bintang jatuh dari langit. Ia banyak menangani kasus-kasus seperti tabrakan kapal atau kapal penumpang yang terbakar dan menimbulkan korban jiwa, sehingga masuk ke ranah pidana.

“Saya melihat kalau ada kecelakaan kapal yang jatuh korban, nahkodanya pasti disalahkan, karena ada korban jiwa yang meninggal. Padahal belum tentu. Jadi, sebenarnya banyak sekali pekerjaan rumah yang harus kita perbaiki di dunia kelautan. Tidak hanya sarana dan prasarana kapalnya saja, tapi hukumnya juga. Karena semua tidak akan berjalan tanpa ada kepastian hukum,” kata Chandra Motik.

Dari pemetaannya terhadap permasalahan maritim di Indonesia, menurut Chandra Motik, ada dua pekerjaan yang menjadi perhatian utama. Yakni hukum maritim Indonesia dan hukum kelautan.

“Kalau hukum laut Indonesia sudah dibuatkan draftnya. Saya diminta oleh Dewan Maritim Indonesia, sekarang namanya Dewan Kelautan Indonesia, sama teman-teman membuat draft itu. Sudah diterima di Baleg (Badan Legislasi DPR), tapi belum jadi-jadi,” kata Chandra Motik yang menyayangkan kinerja DPR yang belum juga merampungkan draft hukum laut yang sudah mereka ajukan.

Hingga kini ia masih menyimpan keresahan dengan kondisi hukum laut di Indonesia. Ia menemukan banyak hal menarik yang harus diperbaiki. Misalnya dalam pengangkutan barang lewat laut. Hampir setiap ada kasus penangkapan kapal yang tidak memiliki izin lengkap, maka yang disalahkan adalah kapal yang mengangkut barang tersebut. “Dianggap barang yang dibawa itu ilegal. Misalnya  illegal logging, seperti kayu. Jadi, dulu kalau kapal mengangkut kayu, tapi surat-suratnya tidak lengkap, maka langsung kapalnya ditahan. Padahal, menurut saya, tindakan itu salah. Begitu kapal sudah mendapatkan ijin berlayar, berarti kapalnya sudah layak untuk melaut. Sehingga tidak ada hubungannya dengan kargo. Kalau barangnya yang tidak punya surat, jangan kapalnya yang disita, melainkan barangnya itu yang disita,” katanya.

Wanita yang dipercaya sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) ingin terus menjalani passion-nya di dunia hukum laut dan maritim dengan segenap cintanya. Ia menilai memang berat untuk menjalaninya dengan berbagai permasalahan yang ada. Tetapi laut sudah tidak bisa dipisahkan dari kehidupannya. Laut sudah menjadi bagian dari jiwa seorang “Srikandi Maritim”Indonesia, sehingga sesulit apapun tantangannya, ia akan tetap menjalani demi penegakan hukum di Indonesia.***

MENEGAKKAN HUKUM LAUT
Senantiasan menaruh perhatian pada penegakan hukum laut dan antikorupsi di Indonesia.

Banyak kasus hukum laut atau maritim yang begitu menantang bagi Chandra Motik saat ditangani. Misalnya kapal Thailand yang berlayar dari Somalia ketika mau kembali ke negara asalnya. Pada waktu itu, melewati Selat Malaka, sekitar 50 mil dari luar laut kita.  Kapal itu ditangkap oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) yang sebenarnya tidak berhak untuk melakukan penangkapan. Menariknya, mereka dituduh illegal fishing karena tertangkap tangan. “Sayangnya, mereka datang ke saya sudah terlambat. Kasusnya sudah bergulir, dan waktu itu sudah P2W. Saya sudah usahakan ke Kejaksaan, tapi memang susah. Karena formnya sudah masuk ke pengadilan juga,” katanya sedikit menyesal.

Namun, Chandra Motik tak patah semangat dan melewati begitu saja kasus tersebut. Dia justru mempelajari dan mendalami kasus tersebut.“Ternyata mereka tidak illegal fishing seperti yang dituduhkan. Saya beranikan untuk meminta buktinya kepada pihak Kejaksaan. Apalagi mereka dari pihak asing. Sebagai seorang lawyer, saya tetap fight sepanjang itu untuk keadilan, apakah untuk pihak Indonesia maupun asing,” katanya tegas.

Chandra menilai, nahkoda dan awak kapal Thailand tersebut tidak diperlakukan dengan baik. Barang-barang mereka sudah disita, dan banyak perlakukan yang tidak pantas. Ia lalu menagih lagi untuk buktinya dan setelah melihat rekaman TV, ternyata waktu kapal dibawa di atas kapalnya tidak ada peralatan-peralatannya. Akhirnya setelah ia mengusut terus kasus ini dengan teliti, hasilnya mereka tidak terbukti melakukan illegal fishing.


Senantiasa terdepan dalam hukum maritim di Indonesia.
“Tapi dalam UU kita, salahnya sampai sekarang adalah masih ada yang belum diperbaiki, bahwa jika ada alat tangkap di atas kapal, itu tetap dianggap melakukan pelanggaran. Ini memang bukan pekerjaan yang sederhana. Butuh political will dari pemerintah yang benar-benar mendukung akan hal ini,” tambah Chandra Motik.

Melihat kondisi tersebut, Chandra Motik sangat resah dengan kondisi hukum laut dan maritim di Indonesia. Selama 30 tahun ia membuat draft-nya, dari belum menikah sampai sudah menikah, memiliki anak dan memiliki cucu, tetapi belum selesai juga.

Banyak hal yang menurut Chandra Motik perlu menjadi perhatian serius dalam memperbaiki hukum laut dan maritm Indonesia. Mulai dari masalah keamanan kapal, mengenai navigasi dan alat bantu navigasinya, hingga masalah polusi. “Ditambah lagi dengan economic regulation, termasuk pelayaran dan pelabuhan. Nah, semuanya itu ada di dalam draft tersebut. Sehingga sudah komprehensif sekali. Dan kita waktu itu mendapat bantuan juga dari konsultan luar,” tambahnya.

Sayang draft itu hingga kini seperti menjadi setumpukan kertas. Chandra Motik begitu gemas melihat semua kenyataan itu. Bagaimana mungkin Indonesia sebagai negara maritim tidak memiliki hukum laut dan maritim yang memadai. Presiden Jokowi juga memiliki obsesi untuk mengembangkan Poros Maritim, sehingga keinginan Chandra Motik untuk menegakkan hukum laut dan maritim di Indonesia dapat terwujud.***

MENJADI PRIBADI PANTANG MENYERAH

Senantiasa menjadi tauladan bagi keluarganya.
Chandra Motik adalah sosok yang tegas dengan jalan hidup yang sudah ia rencanakan dan dicita-citakan. Meskipun ayahnya ingin agar ia menjadi Notaris saja, namun ia tetap dengan keputusannya untuk menjadi praktisi hukum.

Kendati tidak menjadi seorang Notaris seperti keinginan ayahnya, namun Chandra Motik mengakui, didikan ayahnya yang keras yang membuat dia menjadi seorang wanita sukses dalam profesinya sebagai seorang lawyer di dunia kelautan.

“Terus terang, saya tidak akan pernah melupakan didikan dari Ayah. Meski mendidik dengan keras, orangnya tetap seorang pendidik yang baik. Ayah tidak pernah membeda-bedakan pendidikan anak-anaknya. Tidak pernah membedakan apakah laki-laki atau perempuan. Apa pun itu namanya, selama anaknya mau sekolah, pasti Ayah akan memperjuangkannya habis-habisan sampai anaknya mendapatkan pendidikan yang baik,” kenangnya.


Menjadi dosen tamu di almamaternya.
Ia pun mengenang masa kecilnya yang tidak akan dilupakan semasa hidup. Chandra Motik kecil termasuk anak yang bandel dan tomboy. “Bayangkan saja, pernah rambut saya itu pendek sekali. Kerjaannya naik motor terus. Sering berantem. Pokoknya tomboi banget-lah. Pernah suatu kali habis berantem, saya pulang ke rumah dan menangis. Tapi begitu di rumah bukannya dikasihani sama Ayah, malah sebaliknya. Ayah bilang supaya saya balik lagi dan lawan lagi orang itu. Dari situ saya belajar, Ayah mau supaya saya punya fighting spirit yang kuat,” ceritanya.

Ia pun termasuk bandel ketika remaja apalagi ketika duduk di bangku SMA. Saat temannya menolak memberikan contekan, ia tidak segan-segan menarik kepala temannya. “Makanya kalau ingat ternyata saya itu bandelnya setengah mati. Teman-teman saya sekarang saja sampai bingung melihat saya. Karena dulu Chandra Motik itu anak yang sangat bandel,” kenangnya.

Namun ada satu pengalaman yang membuatnya merasa takut untuk pertama kali. “Jujur saya mau katakan, ini pertama kalinya saya punya rasa takut. Waktu itu sekitar tahun 1975, saya pernah masuk lift suatu gedung di Singapura saat mau ke tempat teman. Tetapi karena hari sudah, malam tiba-tiba lift-nya mati. Ya ampun, itu peristiwa yang tidak akan saya lupakan. Mengerikan sekali. Karena dulu belum canggih. Sementara semua tombol sudah saya tekan, sampai saya habis akal tidak tahu lagi mau ngapain. Kalau berdua sih masih mending. Nah, ini saya sendirian di dalam lift tersebut,” kata Chandra Motik tentang peristiwa yang membuatnya takut untuk pertama kalinya itu.

Chandra Motik bersyukur ada seseorang yang menolongnya. Ia tidak tahu persis orang tersebut dari lantai tujuh atau lantai delapan. Yang jelas, orang tersebut naik tangga dari bawah untuk menolongnya. “Itu pengalaman  yang tak terlupakan. Saya jadi mikir, seberani-beraninya saya, ternyata dengan kejadian ini, terbukti saya masih punya rasa takut juga,” katanya tergelak.

Ketika beranjak dewasa, Chandra Motik baru mengerti didikan yang ditanamkan sang ayah bahwa untuk menjalani hidup jangan pernah cepat putus asa. Dan jika mendapatkan hambatan, harus tetap dijalani. Bahkan, meski gagal sekali pun. Jangan pernah menyerah. Mencoba, mencoba dan mencoba lagi. Ia pun menjadi pribadi yang fighter, tak pernah menyerah dengan keadaan.

Merasakan Mukjizat saat Hamil

Mengajarkan ilmu yang dimilikinya dimana pun berada.
Ada momen berkesan yang dirasakan Chandra Motik mampu mengubah seluruh perilaku dan hidupnya ketika ia hamil anak kedua (laki-laki). Kebetulan anak pertama Chandra Motik seorang perempuan. Saat ia memeriksakan kandungannya ke dokter, ternyata setelah dokter melihat hasil foto,  lalu mengatakan bayinya perempuan. Dokter juga mengatakan kalau dia mengandung anak kembar yang ada dalam satu kantong dan sedang berebut makanan.

Sebelumnya ketika usia kandungannya masih tiga bulan, perut Chandra Motik memang sudah kelihatan besar sekali seperti lebih dari tiga bulan. Hanya saja waktu itu, dokter belum berani mengatakan kalau ia sedang hamil anak kembar.

Ketika usia kandungan lima bulan, dokter mengatakan kalau dia harus menjalani operasi caesar. “Saya ingat betul, dokter sarankan supaya saya siapkan mental. Wah terus terang hati saya ketar-ketir, makanya saya jadi rajin sholat setiap hari. Setelah itu, saya beranikan diri untuk menceritakan kondisi yang ada ke bunda, mertua dan keluarga. Supaya semuanya ikut mendoakan saya dan anak yang lagi ada dalam kandungan saya. Syukurlah proses persalinan berjalan lancar dan tidak ada sedikitpun masalah,” kata Chandra Motik.

Chandra Motik percaya betul proses kelahirannya ketika itu adalah murni karena mukjizat Allah SWT. Karena ketika dia mau melahirkan, dia sudah langsung berada pada fase pembukaan delapan. Sementara ketika itu jatuh pada hari Minggu sehingga tidak ada dokter yang bertugas saat itu.


Senantiasa mengambil peran penting pada jalur kemaritiman di Indonesia.
“Dokter kemudian datang sekitar pukul 10.00 WIB. Sementara pukul 12.00 WIB, saya sudah pembukaan 10. Dokter langsung memberi bantuan meski saya melahirkan sudah dengan kondisi ketuban pecah. Allah Maha Besar, semua karena kebesaran Allah. Awalnya saya diprediksi akan melahirkan caesar tapi semuanya dimudahkan. Saya benar-benar bersyukur untuk semua yang Allah kerjakan dan kedua anak saya pun lahir normal dengan sehat,” kata Chandra Motik dengan penuh rasa syukur.

Berbagai kejadian yang dialaminya, kata Chandra Motik, membuat dirinya membuat bertobat atas segala perilakunya yang bandel. “Saya merasa, kalau bukan karena Allah, saya tidak mungkin bisa ada sampai hari ini. Dan saya tahu Allah mau berikan saya kesempatan untuk berubah. Saya pun berdoa supaya ketiga anak saya semuanya jadi anak yang baik, tidak bandel seperti ibunya,” terangnya.

Keluarga Selalu Mendukung

Keluarga selalu utama dan mendukung setiap aktivitasnya.
Keluarga Chandra Motik berasal dari Palembang, Sumatera Selatan. Kebetulan ia juga mendapatkan suami yang juga berasal dari Palembang. Keluarga mereka saling kenal lama, namun karena selalu terpisahkan sehingga ia dan suaminya saat masih kecil tidak pernah pernah bergaul atau bermain bersama.

“Keponakan saya dulu menikah dengan kakaknya suami saya. Jadi masing-masing sudah tahulah. Tapi karena tidak pernah main bersama, sehingga belum kenal dengan baik. Sampai mas Yusuf pergi ke Jerman terlebih dahulu untuk menjalani pendidikan. Setelah lulus SMA ia langsung ke sana. Sedangkan saya ke Jerman belakangan,” ungkap Chandra Motik.

Ketika sama-sama belajar di Hamburg, Jerman, Chandra Motik juga tidak pernah bertemu dengan suaminya. “Lucunya, ketemunya itu justru saat kembali di Jakarta, tahun 1982-an. Hanya berselang sekitar satu tahun kemudian, kami berdua memutuskan untuk menikah. Tepatnya tahun 1983,” kenangnya.

Chandra Motik mengakui, dari sisi karakter, keduanya sebenarnya berbeda sekali. Chandra mengakui, dia orang yang cerewet. Sebaliknya suaminya tipe lelaki pendiam. “Dulu, saya paling suka pergi kemana-mana. Tetapi suami malah tidak terlalu suka. Itulah dua hal yang berbeda di antara kami. Tetapi jadi ikatan yang sangat menarik karena bisa saling mengisi. Dan menurut saya, Allah sudah memberikan pasangan hidup yang terbaik buat saya,” katanya penuh rasa syukur.

Dukungan suami dan ketiga anaknya diakui Chandra Motik berperan penting dalam kesuksesan yang ia capai sekarang ini. Ia pun sangat bersyukur, karena keluarganya sangat mendukung untuk kemajuan kariernya.”Mereka sangat berharga buat hidup saya. Tanpa adanya dukungan dari suami dan anak, anak tidak akan mungkin saya berhasil,” katanya dengan penuh keyakinan.

Maka dari itu, di tengah-tengah waktu bekerja yang sangat padat, quality time bersama suami dan anak-anaknya  tetap menjadi prioritasnya. Setiap pekan, khususnya saat weekend, ia selalu bersama suami dan anak-anaknya. Entah itu di hari Sabtu atau hari Minggu. Namun, karena kini anak-anaknya sudah besar dan berkeluarga, untuk acara bersama harus direncanakan terlebih dahulu dan tidak bisa dilakukan secara mendadak.

“Saya juga harus pahami bahwa mereka mungkin sudah punya rencana untuk bersama dengan teman-temannya. Pengertian-pengertian inilah yang saya pupuk ke anak-anak sejak mereka kecil. Makanya, setelah mereka sudah besar seperti sekarang, bahkan setelah mereka menikah pun masih tetap jalan-jalan ke mal bersama saya,” kata Chandra Motik.

Dalam keluarga, Chandra Motik dan suami tercinta selalu mengajarkan kepada anak-anak arti dari kebersamaan. “Kami satu paket untuk sama-sama mendidik anak-anak termasuk terhadap kami berdua untuk saling menghargai, saling menghormati dan saling mencintai satu sama lain,” tambahnya.

Pengacara Favorit Yap Thiam Hien


Menjadi tauladan bagi mitra kerja dan karyawannya.
Saat ditanya siapa pengacara favoritnya, Chandra Motik dengan lugas menyebut nama Yap Thiam Hien. “Beliau benar-benar menjadi inspirasi saya. Sampai akhir hidupnya, beliau tahu benar komitmennya dan terus mengajari kita untuk menegakkan keadilan. Yap Thiam Hien tidak pernah tergiur dengan apa pun juga. Berbeda dengan jaman sekarang yang sudah seringkali kita lihat,” tegasnya.

“Perjalanan hidup Yap Thiam Hien benar-benar menginsipirasi saya untuk memutuskan menjadi praktisi hukum yang menangani kasus-kasus berat di dunia kelautan. Paling tidak, meski beda dengan apa yang Ayah saya mau, yah hanya beda tipislah. Karena yang terpenting ada juga anaknya yang berprofesi di dunia hukum,” kata Chandra Motik tergelak.

Meski memiliki kakak ipar seorang pengacara terkenal, namun dalam keluarga, hanya Chandra Motik yang benar-benar menjadi praktisi hukum. Khususnya hukum laut dan maritim. “Memang kakak (Denila Motik) dan adik saya (Faiza Motik) lulusan sarjana hukum. Tapi mereka tidak mengembangkannya sampai menjadi praktisi hukum seperti saya. Karena mereka lebih ke perusahaan,” katanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, Chandra Motik tentu saja tidak selalu berkutat dengan kasus hukum yang ditangani. Ia juga meluangkan waktu untuk hobinya menulis dan mengajar. Bahkan, ada buku-buku yang sudah ia tulis. Selain itu, ia juga senang dengan kesenian khususnya kain songket. “Nah, untuk hal ini saya punya galeri, punya salon-salonanlah. Pernah bersama teman-teman membuat songket terpanjang, kami dapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Panjangnya 12 meter-an dan kami membuatnya di Palembang,” katanya.

Pengalamannya ini ditularkan kepada temannya yang berasal dari Riau. Ia menyarankan agar membuat hal yang sama tapi yang lebih panjang. Ternyata saran Chandra Motik itu diikuti. Benar saja, sahabatnya itu berhasil mendapat rekor MURI, karena panjang songketnya sampai 17 meter. “Belum selesai sampai di situ, teman saya buat lagi dengan ukuran 17 meter, 18 meter, 45 meter dan dapat MURI lagi. Saat pemberian penghargaan, dia undang saya sebagai tamu kehormatan,” katanya tergelak.


Seanggun Kartini.
Chandra Motik juga senang traveling terutama melihat pemandangan laut. Suatu kali ada kejadian yang membuatnya terkagum-kagum saat berada di Pulau Seribu Jakarta. Ketika itu acara pra wedding anaknya. “Kata orang Pulau Seribu itu jelek, sudah rusak dan segala macam. Hanya saja, ada nelayan saat itu yang mengajak saya ke pulau karang yang masih di Pulau Seribu. Wow, di situ saya bisa kasih makan ikan di tengah laut, di atas batu-batu karang dan ikannya terlihatn malah bergerak-gerak di kaki kita. Sepertinya tidak mungkin, but it is true,” kata Chandra Motik tentang pengalamannya yang tak terlupakan itu.

Pengalamannya itu membuat Chandra Motik merasakan betapa luar biasanya keindahan alam Indonesia, terutama laut dan segenap isinya.  Sebuah anugerah Tuhan yang sangat mengagumkan. Menurutnya, sebagai orang yang besar Jakarta, dia tidak pernah tahu seumur hidupnya bahwa ada tempat sebagus dan seindah itu.

“Saya pernah ke Hawaii, dan banyak orang bangga sekali bisa ke sana. Tetapi sejujurnya menurut saya itu tidak ada apa-apanya. Jauh lebih bagus keindahan alam laut kita. Ini belum bicara lagi tentang keindahan Indonesia lainnya, seperti Wakatobi atau Raja Ampat. Indonesia itu luar biasa indah dan sangat mempesona,” kata Chandra Motik.

Tempat traveling paling berkesan bagi Chandra Motik adalah Pulau Dewata Bali. “Nggak tahu juga sih. Padahal, orang-orang ada yang mengaku bosan. Tapi bagi saya kalau sudah ke tempat itu rasanya suasana liburan terus. Meskipun lagi kerja, kalau namanya di Bali tetap saja suasananya liburan,” kata wanita yang gemar olahraga berenang.(Tim Penulis/DD)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.