Header Ads

https://daihatsu.co.id/

Gula Pasir Langka dan Meroket Harganya; Ada Kartel?

Stok gula pasir di toko swalayan atau minimarket langka, dan harganya melambung. Ada kartel dalam industri gula? KPPPU harus bertindak. Foto : Ist
Jakarta - Hingga kini gula pasir di pasaran masih langka. Di ritel-ritel modern stoknya tak ada, kalaupun ada pembeliannya dibatasi dan harganya begitu mahal jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.

Perlu diketahui, HET gula pasir yang ditetapkan pemerintah adalah sebesar Rp.12.500,- per kilogramnya, dan hingga tulisan ini diturunkan harga gula pasir sekitar Rp20.000,- an per kilogramnya. Malah untuk gula bermerek, harga jual per kilogramnya mencapai Rp.25.000,- untuk wilayah Jabodetabek.

Kelangkaan ini mulai terlihat sebelum bulan Ramadhan. Pada akhir Maret sudah mulai langka dan harganya naik. Penjual mengatakan, dari agennya sudah menipis persediaannya dan pembeliannya juga dibatasi.

Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) pun buka-bukaan penyebab kelangkaan gula pasir dan terus melambungnya harga bahan pokok ini. Buwas mengungkapkan, salah satunya disebabkan oleh tak terbitnya izin impor gula kristal mentah atau raw sugar yang rencananya diolah oleh anak usaha Bulog yakni Pabrik Gula (PG) PT Gendhis Multi Manis (GMM) menjadi gula kristal putih (GKP) atau gula konsumsi.

Buwas juga mengungkapkan, pihaknya sudah memprediksi kelangkaan stok gula pasir sejak akhir tahun 2019 silam. Hal itu berdasarkan analisis sejumlah lembaga seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia (BI), Badan Intelijen Negara (BIN), dan lainnya. Pada November 2019, Bulog mengajukan impor raw sugar kepada pemerintah, namun belum juga disetujui.

"Karena kami sudah memprediksi jauh hari, setiap tahun itu kita akan kekurangan bahan-bahan yaitu salah satunya gula. Pada saat itu pabrik GMM sudah selesai masa giling tebu, maka harus dipasok dengan raw sugar. Maka kami mengajukan impor raw sugar, sehingga kami bisa menyetok gula yang dibutuhkan karena tugas Bulog kesiapan untuk operasi pasar," ungkap Buwas dalam rapat virtual dengan Komisi IV DPR RI, Kamis (9/4/2020) lalu.

Meskipun demikian, pemerintah rupanya tak kunjung menerbitkan izin impor gula kepada Bulog. Impor tersebut baru dikabulkan pada akhir Maret 2020 di mana lonjakan harga gula sudah terjadi di seluruh Indonesia.

Izin impor atas 29.000 ton raw sugar itu pun menurut keterangannya, diperoleh dengan cara "memaksa".

"Pada saat itu kami juga sedikit memaksa, pada bulan Maret akhir untuk kami bisa impor GKP. Yang mana kami waktu itu mengajukan minimal 20.0000 ton GKP. Tapi karena prosedur tidak mudah, pada akhirnya ada keterlambatan. Kami sudah berupaya untuk mempercepat barang itu sampai di Indonesia, tapi memang sulit," papar Buwas.

Sebelum izin impor raw sugar terbit, tepatnya ada Februari 2020, pihaknya kembali mengajukan permohonan impor GKP karena stok semakin langka dan harga sudah naik bahkan hingga dua kali lipat dari harga acuan sebesar Rp 12.500/kg.

"Pada bulan Februari karena kebutuhan sudah sangat mendesak, waktu itu harga gula sudah sangat naik, kami mengusulkan impor GKP. Tapi itu ternyata tidak langsung bisa mudah turun. Karena itu juga melalui prosedur dan sulit sekali, yang pada akhirnya terlambat semua itu, sehingga stok di pasaran itu sudah tipis. Nah ini dampak dari pada mahalnya gula," tutup Buwas.

Permainan Kartel?

Kelangkaan gula pasir di pasaran, bahkan di ritel-ritel modern pun persediaannya minim bahkan kosong. Menyikapi kondisi demikian, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan salah satu penyebabnya adalah dugaan masih ada pabrik gula yang menahan stok gula di gudang mereka, bahkan menjurus ke kartel.

“Mereka tidak mengeluarkannya dengan 1.001 alasan,” kata Roy dalam konferensi pers online HIPMI Jaya di Jakarta, Senin, 23 Maret 2020. Walhasil, Roy menyebut stok gula di toko retail seperti Alfamart hingga Hypermart mulai berkurang.

Roy mencontohkan, ada empat perusahaan gula yang ada di Lampung. Akan tetapi, harga gula pasir di Lampung tetap berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yaitu sebesar Rp 12.500 per kilogram.

Namun, Roy tidak menjelaskan apakah pabrik yang dia maksud adalah empat perusahaan tersebut. Ia hanya mengatakan keberadaan kartel pabrik gula ini bukanlah rahasia umum di Indonesia.

Respon Kemendag
 
Kemendag pun menerbitkan lagi Surat Perizinan Impor (SPI) untuk 550 ribu ton gula. Kebijakan ini menyusul kebijakan sebelumnya yang telah menerbitkan izin impor bagi 438,8 ribu ton gula kristal mentah atau raw sugar. Namun, impor gula ini masih dalam proses pengiriman Sehingga, kondisi di pasaran belum banyak berubah.

Roy membenarkan, saat ini hanya dua dari enam pelabuhan di Cina yang beroperasi, untuk mendatangkan gula impor. Sesampainya di Indonesia, gula impor pun juga harus  diolah terlebih dahulu untuk bisa menjadi gula pasir siap edar. “Jadi butuh waktu lagi,” kata dia.

Tak hanya itu, Roy juga mengkritik data antar instansi pemerintah yang tidak akurat. Hasilnya, keputusan impor baru diterbitkan akhir Februari 2019. Sehingga, tidak ada prediksi sama sekali di pemerintah, sebelum akhirnya  terjadi kelangkaan gula.

Sehingga dalam situasi seperti ini, Roy mengatakan salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah mengatakan stok gula di pabrik harus segera disalurkan. Pemerintah, kata dia, harus tegas dalam melakukan penegakan hukum. “Kami pun berusaha agar pasokan ini tidak hilang. Tapi, butuh juga kepedulian dari pelaku usaha untuk tidak menahan dan menimbun,” ujarnya.

Perlu diketahui, pabrik gula yang tergabung dalam Asosiasi Gula Indonesia (AGI) yakni pabrik gula milik BUMN, termasuk PT Perkebunan Nusantara, maupun milik swasta. Jumlah pabrik gula yang bernaung di AGI itu ada sembilan BUMN dengan 51 pabrik gula dan pihak swasta dengan 10 pabrik gula. Meski demikian, tidak semua pabrik gula swasta menjadi anggota AGI.

Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Budi Hidayat mengatakan perjalanan stok gula ini sebenarnya cukup panjang. Dimulai dari Oktober 2019. Saat itu, kata Budi, rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan sudah ada rekomendasi impor gula sebesar 495 ribu ton. "Ini untuk antisipasi konsumsi gula di luar masa giling pabrik gula," kata dia.

Lalu pada 9 Maret 2020, kata Budi, pabrikan gula juga diundang oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri untuk mengklarifikasi stok di masing-masing pabrik gula dan realisasi impornya. Dari data yang ada, lima importir yang mendapat jatah impor gula pada 2019 telah merealisasikan 100 persen dengan jumlah 252.630 ton.

Pada 2020, baru satu dari delapan importir yang merealisasikan impor gula. Realisasi impor baru 30 ribu ton, dari 216.172 ton Persetujuan Impor (PI) yang diterbitkan Kemendag. Namun, sebagian besar dari perusahaan ini baru mendapat PI dari Kemendag pada 6 Maret 2020. Sementara, satu importir yang sudah mendatangkan gula impor mendapat PI sejak 20 Februari 2020.

Meski demikian, Budi menyebut Kementerian Perdagangan biasanya bisa mengundang para pedagang gula yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Gula Indonesia (APGI). Sehingga, lanjutnya, apabila impor datang tepat waktu dan para pedagang melepas semua stok, maka seharusnya tidak sampai ada kesulitan gula di pasaran. "Memang kunci stok bukan di pabrik gula, tapi di distributor atau pedagang, itu yang susah dideteksi," ujarnya.

Selain itu, ia juga mengatakan penimbunan biasanya tidak terjadi di pabrik. Sebab, pabrik memiliki kewajiban untuk melaporkan secara rutin stok yang mereka miliki. "Kalaupun ada di pabrik tapi milik pedagang yang belum diambil, yang masih di gudang pabrik gula, mereka (pedagang) kalau terlambat ya kena denda," kata Budi.

Sementara itu, Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga, Kementerian Perdagangan, Very Anggrijono belum banyak berkomentar soal indikasi penimbunan stok gula di pabrik ini. Termasuk, adanya kabar penimbunan 160 ribu ton gula pasir di sebuah gudang di Tasikmalaya, Jawa Barat yang diberitakan sejumlah media online. "Saya cari tahu tentang hal ini," kata dia.(AR/DT/TM)
 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.