Header Ads

https://daihatsu.co.id/

Kota Tikep Ditetapkan Zona Merah Covid-19, Siapkan Skenario PSBB

Pemerintah Kota Tidore Kepulauan ditetapkan sebagai zona merah dan akan menyiapkan skenario isolasi wilayah. Foto : Sukadi.
Tidore - Kota Tidore Kepuluan (Tikep) perkembangan pandemi covid-19 kian mengkhawatirkan. Dengan memperhatikan permasalahan dan langkah yang sudah dilaksanakan oleh pemerintah daerah tersebut maka perlu pemokusan penanganan terhadap orang tanpa gejala (OTG), orang dalam pengawasan (ODP) dan yang melakukan isolasi mandiri tersebut, sambil pemerintah daerah menutup pintu masuk keluar orang untuk dapat mencegah dan mengendalikan lalu lintas orang untuk sementara waktu.

Oleh karena itu pilihan kebijakan yang paling tepat adalah melakukan Karantina Wilayah di Kota Tikep yang merupakan jawaban atas berbagai permasalahan di atas, dengan 3 langkah aksi yang perlu disiapkan segera yaitu (1) memastikan ketersediaan bahan pokok sampai 3 bulan ke depan (2) Melakukan Pemetaan dan Skema Bencana serta konsolidasi perencanaan Keuangan serta (3) Segera menyiapkan Kebijakan Karantina Wilayah dari Aspek Hukum serta tahapan impelementasinya.

Wali Kota Tidore Kepulauan Capt. Ali Ibrahim mengatakan berdasarkan hasil analisis beberapa jenis komoditi utama yang menjadi konsumsi masyarakat Kota Tidore Kepulauan baik per minggu, per bulan khususnya bulan April, dan beberapa bulan ke depan. Hasil ini dengan asumsi bahwa penduduk Kota Tidore Kepulauan berjumlah 110.000 jiwa. Selain itu data yang dipakai sebagai dasar analisis adalah data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang merupakan salah satu sumber data sosial ekonomi rumah tangga yang penting di Indonesia. Data hasil Susenas telah banyak digunakan oleh berbagai kalangan.

"Konsumsi secara nasional untuk beras 111,4 kg/kapita/tahun, maka konsumsi nasional/kapita/hari 308, 00 gr. Untuk Kota Tidore Kepulauan konsumsi/kapita/hari/orang 200,03 gr, maka total konsumsi beras per kapita/hari 22,00 ton. Secara keseluruhan konsumsi beras per bulan 660,10 ton. Ketersediaan stok 1.067,11 ton, maka stok lebih 407,01 ton," ungkap Wali Kota Tidore Kepulauan. Cpt. Ali Ibrahim.

Lanjut orang nomor satu di Kota Tikep itu, konsumsi secara nasional untuk gula pasir 22,3 kg/kapita/tahun, maka konsumsi nasional/kapita/hari 62,00 gr. Untuk Kota Tidore Kepulauan konsumsi/kapita/hari/orang 23,87 gr, maka total konsumsi gula per kapita/hari 2,63 ton. Secara keseluruhan konsumsi gula per bulan 78,77 ton. Ketersediaan stok 195,46 ton, maka stok lebih 116,69 ton.

"Konsumsi secara nasional untuk minyak goreng 7,7 kg/kapita/tahun, maka konsumsi nasional/kapita/hari 21,4 gr. Untuk Kota Tidore Kepulauan konsumsi/kapita/hari/orang 19,67 gr, maka total konsumsi minyak goreng per kapita/hari 2,16 ton. Secara keseluruhan konsumsi minyak goreng per bulan 64,91 ton. Ketersediaan stok 79,14 ton, maka stok lebih 14,23 ton". Kata Orang No 1 di kota ridore kepulauan," paparnya.

Dia juga menambahkan, konsumsi secara nasional untuk daging sapi 2,9 kg/kapita/tahun, maka konsumsi nasional/kapita/hari 8,06 gr. Untuk Kota Tidore Kepulauan konsumsi/kapita/hari/orang 0,13 gr, maka total konsumsi daging sapi per kapita/hari 0,1 ton. Secara keseluruhan konsumsi daging sapi per bulan 0,43 ton. Ketersediaan stok 1.14 ton, maka stok lebih 0,71 ton.

"Secara nasional untuk daging ayam 5,68 kg/kapita/tahun, maka konsumsi nasional/kapita/hari 15,8 gr. Untuk Kota Tidore Kepulauan konsumsi/kapita/hari/orang 2,77 gr, maka total konsumsi daging ayam per kapita/hari 0,30 ton. Secara keseluruhan konsumsi daging ayam per bulan 9,14 ton. Ketersediaan stok 39 ton, maka stok lebih 29,86 ton," tukasnya.

Konsumsi secara nasional untuk telur ayam 125 (7,8)  kg/kapita/tahun, maka konsumsi nasional/kapita/hari 21,7 gr. Untuk Kota Tidore Kepulauan konsumsi/kapita/hari/orang 62,50 gr, maka total konsumsi telur ayam per kapita/hari 6,88 ton. Secara keseluruhan konsumsi telur ayam per bulan 206,25 ton. Ketersediaan stok 251,07 ton, maka stok lebih 44,82 ton

Konsumsi secara nasional untuk susu 11 kg/kapita/tahun, maka konsumsi nasional/kapita/hari 30,55 gr. Untuk Kota Tidore Kepulauan konsumsi/kapita/hari/orang 2,80 gr, maka total konsumsi susu per kapita/hari 0,31 ton. Secara keseluruhan konsumsi beras per bulan 9,24 ton. Ketersediaan stok 9,994 ton, maka stok lebih 0,75 ton

Konsumsi secara nasional untuk jagung 2,48 kg/kapita/tahun, maka konsumsi nasional/kapita/hari 6,90 gr. Untuk Kota Tidore Kepulauan konsumsi/kapita/hari/orang 7,50 gr, maka total konsumsi beras per kapita/hari 0,83 ton. Secara keseluruhan konsumsi jagung per bulan 24,75 ton. Ketersediaan stok 23 ton, maka stok kurang 1,75 ton.

Konsumsi secara nasional untuk bawang merah 2,86 kg/kapita/tahun, maka konsumsi nasional/kapita/hari 7,94 gr. Untuk Kota Tidore Kepulauan konsumsi/kapita/hari/hari 5,97 gr, maka total konsumsi bawang merah per kapita/hari 0,66 ton. Secara keseluruhan konsumsi bawang merah per bulan 19,70 ton. Ketersediaan stok 20,12 ton, maka stok lebih 0,42 ton

Konsumsi secara nasional untuk cabe 2,93 kg/kapita/tahun, maka konsumsi nasional/kapita/hari 8,14 gr. Untuk Kota Tidore Kepulauan konsumsi/kapita/hari/orang 4,50 gr, maka total konsumsi cabe per kapita/hari 0,50 ton. Secara keseluruhan konsumsi beras per bulan 14,85 ton. Ketersediaan stok 15,79 ton, maka stok lebih 0,94 ton.

Konsumsi secara nasional untuk mentega 5,4 kg/kapita/tahun, maka konsumsi nasional/kapita/hari 15,00 gr. Untuk Kota Tidore Kepulauan konsumsi/kapita/hari/orang   0,90 gr,   maka   total   konsumsi   mentega  per kapita/hari 0,10 ton. Secara keseluruhan konsumsi mentega per bulan 2,97 ton. Ketersediaan stok 3,198 ton, maka stok lebih 0,23 ton.

Konsumsi secara nasional untuk terigu 24,00 kg/kapita/tahun, maka konsumsi nasional/kapita/hari 66,67 gr. Untuk Kota Tidore Kepulauan konsumsi/kapita/hari/orang 2,93 gr, maka total konsumsi terigu per kapita/hari 0,32 ton. Secara keseluruhan konsumsi terigu per bulan 9,67 ton. Ketersediaan stok 163,06 ton, maka stok lebih 153,39 ton.

Konsumsi secara nasional untuk ikan 50,49 kg/kapita/tahun, maka konsumsi nasional/kapita/hari 140,14 gr. Untuk Kota Tidore Kepulauan konsumsi/kapita/hari/orang 158,14 gr, maka total konsumsi ikan per kapita/hari 17,40 ton. Secara keseluruhan konsumsi ikan per bulan 521,86 ton. Ketersediaan stok ikan tidak dapat data dari Dinas Kelautan dan Perikanan, tetapi untuk terpenuhi kebutuhan ikan maka harus tersedianya ikan diatas 521,86 ton per bulan.

Ketersediaan stok komoditi beras untuk Minggu pertama 342,00 ton, Minggu kedua 195,11 ton, Minggu ketiga 190,00 ton, dan Minggu keempat 340,00 ton. Total ketersediaan beras sebanyak 1.067,11 ton.

Ketersediaan stok komoditi cabe merah untuk Minggu pertama 2,85 ton, Minggu kedua 0,75 ton, Minggu ketiga 0,75 ton, dan Minggu keempat 2,60 ton. Total ketersediaan cabe merah sebanyak 6,95 ton.

Ketersediaan stok komoditi cabe rawit untuk Minggu pertama 4,20 ton, Minggu kedua 0,27 ton, Minggu ketiga 0,27 ton, dan Minggu keempat 4,10 ton. Total ketersediaan cabe rawit sebanyak 8,84 tonKetersediaan stok komoditi bawang merah untuk Minggu pertama 8,50 ton, Minggu kedua 2,17 ton, Minggu ketiga 2,25 ton, dan Minggu keempat 4,20 ton. Total ketersediaan bawang merah sebanyak 20,12 ton.

Ketersediaan stok komoditi bawang putih untuk Minggu pertama 1,95 ton, Minggu kedua 2,92 ton, Minggu ketiga 2,92 ton, dan Minggu keempat 0,50 ton. Total ketersediaan bawang putih sebanyak 8,29 ton.

Ketersediaan stok komoditi gula pasir untuk Minggu pertama 59,50 ton, Minggu kedua 38,23 ton, Minggu ketiga 38,23 ton, dan Minggu keempat 59,50 ton. Total ketersediaan gula pasir sebanyak 195,46 ton.

Ketersediaan stok komoditi minyak goreng untuk Minggu pertama 12,40 ton, Minggu kedua 29,17 ton, Minggu ketiga 27,17 ton, dan Minggu keempat 10,40 ton. Total ketersediaan minyak goring sebanyak 79,14 ton.

Ketersediaan stok komoditi tepung terigu untuk Minggu pertama 62,50 ton, Minggu kedua 20,06 ton, Minggu ketiga 18,00 ton, dan Minggu keempat 62,50 ton. Total ketersediaan sebanyak 163,06 ton.

Ketersediaan stok komoditi daging sapi untuk Minggu pertama 0,00 ton, Minggu kedua 0,42 ton, Minggu ketiga 0,24 ton, dan Minggu keempat 0,48 ton. Total ketersediaan daging sapi sebanyak 1.14 ton.

Ketersediaan stok komoditi daging ayam ras untuk Minggu pertama 3,50 ton, Minggu kedua 18,50 ton, Minggu ketiga 11,50 ton, dan Minggu keempat 5,50 ton. Total ketersediaan daging ayam ras sebanyak 39,00 ton.

Ketersediaan stok komoditi telur ayam ras untuk Minggu pertama 205,20 ton, Minggu kedua 15,29 ton, Minggu ketiga 15,29 ton, dan Minggu keempat 15,29 ton. Total ketersediaan telur ayam ras sebanyak 251,07 ton.

Ketersediaan stok komoditi telur ikan untuk Minggu pertama 130,46 ton, Minggu kedua 150,03 ton, Minggu ketiga 172,53 ton, dan Minggu keempat 201,86 ton. Total ketersediaan ikan sebanyak 654,88 ton

Terkait dengan analisis untuk ketersediaan stok pangan bulan April 2020 terhadap komoditi sapi adalah local, sedangkan yang lainnya di datangkan dari Surabaya, Manado, Ternate Wasile. Untuk ikan tidak dapat data dari Dinas Kelautan dan Perikanan, maka yang menyangkut dengan ketersediaan ikan perminggu maka harus melebihi 69,60 ton melebihi, dimana kebutuhan ikan perminggu 17,40 ton. Untuk lebih jelas lihat tabel 02 Ketersediaan Pangan (Stok) Per Minggu.

Ketersediaan pangan komoditi beras untuk konsumsi per bulan 660,10 ton, maka untuk bulan April 1.660,10 ton, Mei 1.067,11 ton, Juni 905,65 ton, dan Juli 927,50 ton. Maka ketersediaan stok beras seluruhnya berjumlah 3.950,76 ton.

Ketersediaan pangan komoditi cabe untuk konsumsi merah per bulan 7,43 ton, maka untuk bulan April 6,95 ton, Mei 6,82 ton, Juni 6,05 ton, dan Juli 5,90 ton. Maka ketersediaan stok cabe merah seluruhnya berjumlah 25,72 ton.

Ketersediaan pangan komoditi cabe rawit untuk konsumsi per bulan 7,55 ton, maka untuk bulan April 8,84 ton, Mei 7,52 ton, Juni 5,14 ton, dan Juli 4,70 ton. Maka ketersediaan stok cabe rawit seluruhnya berjumlah 26,20 ton. 

Ketersediaan pangan komoditi bawang merah untuk konsumsi per bulan 19,70 ton, maka untuk bulan 20,12 ton, Mei 19,15 ton, Juni 13,25 ton, dan Juli 19,72 ton. Maka ketersediaan stok bawang merah seluruhnya berjumlah 72,24 ton. 

Ketersediaan pangan komoditi bawang putih untuk konsumsi per bulan 0,13 ton, maka untuk bulan April 8,29 ton, Mei 8,10 ton, Juni 5,93 ton, dan Juli 5,95 ton. Maka ketersediaan stok bawang putih seluruhnya berjumlah 28,28 ton.

Ketersediaan pangan komoditi gula pasir untuk konsumsi per bulan 78,77 ton, maka untuk bulan April 195,46 ton, Mei 182,53 ton, Juni 185,40 ton, dan Juli 188,90 ton. Maka ketersediaan stok gula pasir seluruhnya berjumlah 752,29 ton. 

Ketersediaan pangan komoditi minyak goreng untuk konsumsi per bulan 64,91 ton, maka untuk bulan April 79,14 ton, Mei 78,42 ton, Juni 69,15 ton, dan Juli 72,05 ton. Maka ketersediaan stok minyak goreng seluruhnya berjumlah 298,76 ton. 

Ketersediaan pangan komoditi tepung terigu untuk konsumsi per bulan 9,67 ton, maka untuk bulan April 163,06 ton, Mei 120,72 ton, Juni 108,18 ton, dan Juli 102,00 ton. Maka ketersediaan stok tepung terigu seluruhnya berjumlah 493,96 ton. 

Ketersediaan pangan komoditi daging sapi untuk konsumsi per bulan 0,43 ton, maka untuk bulan April 1,14 ton, Mei 2,25 ton, Juni1,10 ton, dan Juli 1,27 ton. Maka ketersediaan stok daging sapi seluruhnya berjumlah 5,76 ton.

Ketersediaan pangan komoditi daging ayam ras untuk konsumsi per bulan 9,14 ton, maka untuk bulan April 39,00 ton, Mei 39,15 ton, Juni 24,50 ton, dan Juli 29,85 ton. Maka ketersediaan stok daging ayam ras seluruhnya berjumlah 132,38 ton. 

Ketersediaan pangan komoditi telur ayam ras untuk konsumsi per bulan 206,25 ton, maka untuk bulan April 251,07 ton, Mei 235,84 ton, Juni 242,35 ton, dan Juli 253,12 ton. Maka ketersediaan stok telur ayam ras seluruhnya berjumlah 982,38 ton. 

Ketersediaan pangan komoditi super mi untuk konsumsi per bulan 58,53 ton, maka untuk bulan April 65,55 ton, Mei 75,38 ton, Juni 84,43 ton, dan Juli 84,43 ton. Maka ketersediaan stok super mi seluruhnya berjumlah 368,32 ton.

Ketersediaan pangan komoditi ikan untuk konsumsi per bulan 581,86 ton, maka untuk bulan April 600,14 ton, Mei 720,42 ton, Juni 786,87 ton, dan Juli 765,56 ton. Maka ketersediaan stok ikan seluruhnya berjumlah 2.872,99 ton.

Proyeksi ketersediaan pangan untuk dikonsumsi selama bulan April – Juli 2020 ini dalam rangka mengantisipasi kelangkaan pangan, kemudian data yang ada tiap bulan tersebut apabila dapat terpenuhi denagn baik, maka kestabilan harga tetap terjaga. Untuk lebih jelas tentang proyeksi ketersediaan komoditi pangan untuk dikonsumsi selama beberapa bulan kedepan dapat dilihat pada Tabel 03 Proyeksi Ketersediaan Pangan bulan April – Juli 2020.

Dengan demikian, berdasarken analisis di atas, maka ketersediaan pangan Kota Tidore Kepulauan dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut, Konsumsi pangan merupakan kebutuhan pokok bagi setiap individu, sehingga wajib bagi individu untuk memenuhinya.

Rata-rata ketersediaan pangan saat ini khusus beras dan gula masih cukup, namun terdapat beberapa komoditi termasuk dalam kategori rendah.

Langkah yang dilakukan pemerintah adalah bagaimana memperkuat ketahanan pangan rumah tangga sebagai fokusnya, bukan pada tataran nasional saja tapi daerah, yang meliputi ketersediaan pangan yang cukup untuk masa tertentu dan keterjangkauan (harga yang layak.

Instansi atau Organisasi Perengkat Daerah (OPD) terkait agar tetap melakukan operasi pasar apabila terjadi kenaikan harga dan kekurangan pangan tertentu.

Pemerintah tetap menjaga ketersediaan pangan pokok yang cukup, karena kita tidak tahu kapan wabah corona berakhir.

Berdasarkan analisis menggunakan metode Covid-19 Hospital Impact Model for Epidemics (CHIME) yang di kembangkan oleh Pen Medicine University of Pennsylvania AS menghasilkan, Proyeksi Utilisasi, Rumah Sakit Untuk Kasus Baru Covid-19 di Kota Tidore Kepulauan Puncak Kunjungan RS  pada 15 Juni sekitar 83 kasus covid-19.
 
Kebutuhan ICU sebanyak 24 pada 16 Juni Kebutuhan Ventilator sebanyak 12 pada tanggal 16 Juni.

Proyeksi pasien sensus. Proyeksi Pasien COVID-19 yang dirawat di Kota Tidore Kepulauan 2020 puncak kunjungan RS pada 17 Juni dengan jumlah kasus banyak  256.

Puncak ICU sensus  sebanyak 25  pada tanggal 18 Juni 2020 Puncak ventilator Census sebanyak  18  pada tanggal 21 Juni 2020, Proyeksi COVID-19 Malut Diproyeksikan telah terjadi infeksi di masyarakat sekitar 75 kasus.  Hal tersebut berdasarkan jumlah pasien yang telah positip dirawat (2 orang), angka penggunaaan RS sebesar 2 % dengan populasi 112.000, dan  market share sebesar 15%. Waktu penggandaan kasus 4 hari dengan waktu pemulihan 14 hari sehingga diperoleh waktu reproduksi Ro sebesar 3.65 dan angka pertumbuhan kasus sebesar 18.92%. Upaya Mitigasi berupa kontak sosial sebesar 30% menurunkan waktu kasus berlipat ganda menjadi 6.6 hari dan angka pertumbuhan kasus menurun menjadi 11%.

Hasil kajian tersebut dapat disimpulkan bahwa : melakukan karantina pulau serta melaksanakan screning secara massive/tracing  kasus untuk memutus rantai penularan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan menyiapkan Rumah Sakit dengan kapasitas sekitar  10-50 bed untuk mengantisipasi puncak pandemik pada pertengahan  Juni 2020.  ICU Sebanyak 13 dan  6 ventilator untuk kasus baru.

Jika RS Rujukan Utama Chasan Bousori Ternate Tidak dapat lagi menampung pada puncak Epidemik   Tanggal 17 Juni kebutuhan akan meningkat dengan jumlah kasus sekitar  256.  ICU sebanyak  25 dan Ventilator sebanyak 11. APD untuk seluruh Petugas di Rumah Sakit dan Puskesmas.

Meningkatkan cakupan mitigasi; social distancing/physical distancing, pembatasan lalu lintas kendaraan, penghentian pusat keramaian, perbaikan lingkungan, Karantina WILAYAH  pulau dan stay at home di atas  30% untuk melandaikan curva epidemik.

Menghentikan penularan kasus baru dengan memberi perlindungan pada kelompok rentan,  Memper cepat penyembuhan dengan terapi supportive yang tepat dan efisien. Melaksanakan Intervensi skala menengah.

Dana tak terduga yang disediakan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan adalah sebesar 15,8 milyar, yang berasal dari persedian DTT sebesar 3,8 milyar dan hasil refocusing sebesar 12 milyar. Adapun dana yang sudah dikeluarkan  sebesar 9,9 milyar dan sisa persediaan dana tak terduga sebesar 5,9 milyar.

Dari Rencana Kebutuhan Belanja dari sejumlah OPD, masih menunjukkan fokus penanganan kita masih tertuju pada penanganan kesehatan, sementara Berdasarkan Instruksi Mendagri Nomro 1 Tahun 2020, harus memperhatikan 3 prioritas anggaran yaitu penanganan kesehatan, penanganan dampak ekonomi dan penyediaan social safety net.
Terhadap pembiayaan prioritas social safety net, jika kita menghitung bantuan sebesar Rp.665.000 yang terdiri atas, Beras 25 Kg, 300.000 Telur 1 Rak, 80.000 Kajang Ijo 2 Kg, 50.000 Sabun Cuci Tangan 2 Batang,  10.000 Vitamin 2 Strip,  20.000 Susu 1 Kaleng, 15.000 Minyak Kelapa 3 liter  40.000 Tomat Rica Bawang  100.000 Gula Pasir 2 kg 50.000.

Dari jumlah bantuan tersebut, jika dikali 33.111 Jumlah Kepala Keluarga di Kota Tidore Kepulauan, maka dalam satu bulan penyediaan jarring pengaman sosial (social safety net) sebesar Rp.22.018.815.000,-.

Berdasarkan UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang kekarantinaan kesehatan maka pembatasan sosial berskala besar (PSBB) merupakan respon dari status kedaruratan kesehatan masyarakat. Berkaitan dengan itu, maka dalam Pasal 1 ayat 2 menyebutkan bahwa kedaruratan kesehatan masyarakat, adalah kejadian kesehatan masyarakat yang berakibat luar biasa dengan di tandai penyebaran penyakit menular dan/atau kejadian yang disebabkan oleh radiasi nuklir, pencemaran biologi, kontaminasi kimia, bioterorisme dan pangan yang menimbulkan bahaya kesehatan dan berpotensi menyebar lintas wilayah atau lintas Negara.

Sementara dalam pasal 1 ayat 11 menjelaskan bahwa Pembatasan Sosial Berskala Besar adalah pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi penyakit dan/atau  tekonta minasi sademkian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran  penyakit atau kontaminasi.

Penyelengaran kekarantinaan kasehatan merupakan tanggung jawab bersama pemerintah dan Pusat dan Pemerintah Daerah sebagai bentuk perlindungan terhadap masyarakat dari penyakit dan/atau faktor resiko kesehatan masyarakat yang berpotensi menimbulkan  kedaruratan Kesehatan Masyarakat. Karantina kesehatan dilakukan melalui kegiatan pengamatan penyakit dan faktor resiko kesehatan masyarakat terhadap alat angkut, orang dan/atau lingkungan, serta respon terhadap kedaruratan kesehatan masyarakat dalam bentuk tindakan karantina kesehatan.

Pembatasan Sosial Berskala Besar hendak di ambil dalam meminimalisir penyebaran virus corona berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah perlu berkoordinasi antar wilayah yang bertujuan memberikan batasan yang jelas tentang kewenangan pemda selama karantina wilayah, kemudian memastikan tidak ada kendala dalam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Jangan sampai misalnya Tidore Kepulauan tutup tetapi tetangga tidak tutup, atau sebaliknya, terus mau distribusi barang (pangan) atau kebutuhan lainmasuk atau keluar tapi tidak bisa lewat, jadi tetangga terpengaruh kena imbas.

Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSB) yang dikeluarkan pada 31 Maret 2021 tersebut bertujuan untuk mempercepat penanganan covid-19. Hal ini perlu dilakukan dengan sterilisasi di tempat- tempat umum  seperti pelabuhan, pasar, terminal, masjid-masjid dan  termasuk warga yang keluar masuk.  Makanya perlu ada himbauan bagi warga jika tidak ada kepentingan  atau sesuatu yang mendesak agar lebih baik ditunda dulu agar tidak ke luar rumah. Bertitik tolak dan beberapa alasan dan ketentuan di atas maka Pemerintah Kota Tidore menetapkan lokasi-lokasi tertentu sebagai lokasi wajib pake pelindung atau masker atau topeng.

Pemerintah Daerah bisa melakukan karantina wilayah provinsi/kabupaten/kota : Sesuai Pasal 14 (2) dan Pasal 60 UU 6/2018, ketentuannya diatur dalam Peraturan Pemerintah, tetapi sampai sekarang PP tersebut belum dikeluarkan. Pemerintah Daerah dapat melakukan karantina wilayah dengan dua cara mengambil kebijakan sendiri melakukan karantina wilayah dengan berdasarkan UU 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana sepanjang tujuannya untuk melindungi masyarakat dan dampak bencana (Pasal 8b dan Pasal 9a). Adapun kebijakan yang diambil bisa dalam bentuk Peraturan Daerah maupun Peraturan Walikota. Adapun Langkah-langkahnya adalah (1) Meminta pertimbangan medis terkait kedaruratan dan eskalasi kesehatan serta pertimbangan akademisi dan stakehoder lainnya terkait dampak kerugian sosial ekonomi masyarakat, (2) Mensosialisasi kepada masyarakat atas kondisi kedarutan yang mengancam keselamatan dan kehidupan warga, (3) Berkoordinasi dengan Kesultanan, DPRD, Forkopimda, Ormas dan Pers serta stakeholder untuk sinergi dalam pengambilan kebijakan, (4)    Menghitung dan memastikan jaminan kebutuhan masyarakat yang terdampak, (5) Mengumumkan waktu pemberlakuan keputusan karantina wilayah minimal 10 (sepuluh) hari sebelumnya, agar terdapat ruang kesiapan lain, semisal pemulangan mahasiswa dari luar daerah, kesiapan personil, perlengkapan, dan penyiapan infrastruktur lainnya, (6) Menyampaikan pemberitahuan kepada Pemerintah Pusat setelah ditetapkan.

Kota Tidore Kepulauan adalah wilayah kepulauan dengan luas wilayahnya di batasi dengan laut, maka  yang harus dilakukan untuk mencegah penyebab Covid-19 membuat kebijakan atau peraturan yang tepat dan jelas.  Hal ini perlu dilakukan daerah ini sangat minim dengan fasilitas kesehatan, tenaga medis dan tempat isolasi untuk pasien corona.  Kebijakan yang perlu diambil adalah sebagai berikut,

Menerapkan kebijakan bekerja di rumah Menutup sementara pelabuhan-pelabuhan tertentu, Masyarakat di minta  untuk mengurangi kegiatan pada malam hari Mendata setiap orang yang masuk dan keluar Setiap orang yang berkendaraan baik kendaraan umum maupun kendaraan wajib memakai masker (termasuk sopir) Setiap tempat umum dan semua Toko harus menyediakan tempat cuci  tangan yang memadai.

Dengan memperhatikan penjelasan diatas, maka alternatif pemecahan masalah adalah pemfokusan penanganan terhadap OTG, ODP dan yang melakukan isolasi mandiri tersebut, sambil pemerintah daerah menutup pintu masuk keluar orang untuk dapat mencegah dan mengendalikan lalu lintas orang untuk sementara waktu.

Oleh karena itu pilihan kebijakan yang paling tepat adalah melakukan KARANTINA WILAYAH DI KOTA TIDORE KEPULAUAN  dengan 3 langkah aksi yang perlu disiapkan segera yaitu (1) memastikan ketersediaan bahan pokok sampai 3 bulan kedepan (2) Melakukan Pemetaan dan Skema Bencana serta konsolidasi perencanaan Keuangan serta (3) Segera menyiapkan Kebijakan Karantina Wilayah dari Aspek Hukum serta tahapan impelementasinya.(LAK)

2 komentar:

  1. Bila perlu tutup itu pelabuhan

    BalasHapus
  2. Banyak juga bantuannya tapi kenapa sampai saat ini masyarakat oba belum satupun menerima bantuan tersebut

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.