Muhammad Rusdi Taher, SH, MH; PEGANG TEGUH EMPAT PRINSIP UNTUK JADI ADVOKAT HANDAL
Muhammad Rusdi Taher telah menggeluti bidang hukum sejak
1976. Dia mengawali kariernya sebagai Jaksa. Namun, pada akhirnya nasib
membawanya menjadi Advokat. Mereguk pahit getir
dunia hukum, banyak pelajaran yang ingin dia bagi untuk generasi mendatang.
Usianya tak muda lagi. Ratusan kasus telah ditangani Advokat senior ini dengan penuh integritas. Itulah
yang mendatangkan rasa hormat para pelaku hukum di Tanah Air kepada Muhammad
Rusdi Taher, yang kini menjabat sebagai KETUA DEWAN
PENASEHAT KONGRES ADVOKAT INDONESIA ( KAI ).
Awalnya
Rusdi meniti karier sebagai Jaksa angkatan tahun 1976. Rusdi adalah juga Lulusan Terbaik dalam Pendidikan
Pembentukan Jaksa pada tahun 19977-1978.
Ternyata, menjadi jaksa bukan
satu-satunya pengalamannya. Pada sebagian
masa-masa emasnya, Rusdi pernah mengabdi sebagai wakil rakyat. Dalam usia yang relatif muda yaitu 33 tahun, Rusdi menjadi
anggota MPR RI utusan daerah pada periode 1982-1987. Rusdi juga pernah menjadi
anggota DPR RI / MPR RI selama 2 Periode yaitu 1987-1992 dan periode
1992-1997.
![]() |
M. Rusi Taher, SH, MH. |
Pada Periode keduanya dia menjabat sebagi Wakil Ketua Komisi III DPR
RI bidang Hukum. Namun, pada akhirnya bidang hukum yang menjadi
pelabuhan terakhirnya meskipun posisinya berubah dari Jaksa
menjadi Advokat.
Rusdi Taher mengaku ingin tetap
mengabdikan ilmu yang dimilikinya sehingga memilih menjadi Advokat. Dia lebih suka menjadi corporate lawyer,
sementara untuk kasus-kasus litigasi diserahkan pada asistennya. Pekerjaan
tersebut sangat dicintainya sehingga Rusdi Taher sangat ketat menjaga etika
profesinya.
“Menurut saya advokat senior itu harus memberikan keteladanan pada
advokat muda, dan bukan memberikan contoh tidak baik,” katanya.
Rudi Taher
sangat tidak sependapat dengan segelintir orang
yang berprinsip bahwa hidup glamor penting bagi Advokat
agar dihargai oleh klien dan masyarakat. Menurutnya, pandangan seperti ini bisa
merusak moral advokat muda.
Pola pikir seperti
ini menyebabkan advokat muda akan berlomba-lomba dengan segala cara bukan untuk
menegakkan keadilan dan kebenaran, tapi untuk
menggapai gaya hidup hedonisme. “Justru di tengah kondisi kehidupan yang
seperti sekarang ini, pentingnya para Advokat senior
memberikan keteladanan yang baik dan benar, Perlu
sikap yang benar dan baik,” ujar pria yang aktif di banyak organisasi ini.
Menurut
dia, saat ini di dunia hukum sangat minim sosok yang bisa diteladani termasuk
di profesi Advokat. Dulu, ada Yap Thiam Hien,
sosok Advokat sejati, yang membela kliennya dari
kasusnya bukan melihat individunya -- kaya atau miskin, pandangan politiknya
dan agamanya.
Di Kejaksaan ada sosok Baharuddin Lopa, yang pernah menjabat
Jaksa Agung yang jujur. Untuk Kepolisian, ada Jenderal Polisi (Purn.) Drs.
Hoegeng Imam Santoso yang sangat berani demi kebenaran.
Menjadi Advokat yang sukses namun berbudi baik butuh perjuangan. Rusdi Taher menyebut Advokat harus memiliki empat karakter yang dia singkat dengan “IPTN” yakni Idealis, Patriotik, Toleransi dan Nasionalis.
![]() |
Etika dalam berprofesi selalu dijunjungnya. |
Sikap
Idealis bisa digambarkan sebagai sikap advokat yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip hukum, keadilan dan kebenaran, dan tidak mudah terpengaruh oleh
rayuan dan godaan untuk menyimpang dari hukum.
Sikap Patriotik adalah sikap
Advokat Pejuang dan Pejuang Advokat, yang berjuang tanpa ada rasa takut dalam
membela keadilan dan kebenaran, serta tidak mudah tergoyahkan oleh tekanan dari
manapun dalam menjalani Profesinya.
Toleransi adalah sikap Advokat yang dapat
menerima dengan lapang dada dan Berjiwa besar dalam menyikapi setiap perbedaan
dan dapat memahami keragaman suku, agama dan budaya.
Sikap Nasionalis adalah
Sikap Advokat yang senantiasa mementingkan kepentingan negara di atas
kepentingan pribadi dan golongan.
Penegakkan Kode Etik
Rusdi Taher mengaku kecewa melihat fenomena sekarang ini karena kode etik Advokat terkadang kurang dipatuhi oleh advokat
itu sendiri.
Kondisi seperti itu dapat menjatuhkan
harkat dan martabat advokat. Contoh sikap yang dianggap Rusdi tidak sehat adalah seperti yang
baru-baru ini terjadi, ketika dua Advokat saling
berbalas mengeluarkan kata-kata ejekan.
Menurutnya, ada segelintir Advokat yang mempertontonkan, sikap saling
menghina, merendahkan martabat sesama Advokat,
mencemarkan nama baik, dan sebagainya. Hal seperti itu
seyogianya tidak dilakukan oleh para Advokat sebagai teman sejawat.
Dalam tata krama bermasyarakat berbangsa dan bernegara,
seharusnya kita harus saling hormat menghormati, saling menghargai, dan tidak
boleh menghina seseorang, menjatuhkan seseorang dan merendahkan harkat
dan martabat seseorang. Advokat sebagai Profesi yang
Terhormat yang biasa di sebut sebagai Officium Nobile, sepatutnya tidak
mempertontonkan kepada masyarakat sikap saling merendahkan dan saling menghina
maupun memamerkan moralitas yang tidak terpuji, karena kondisi tersebut bisa membuat masyarakat melihat betapa moralitas dan akhlak yang terpuji bukan
menjadi Sesuatu hal yang penting bagi Advokat.
“Bagaimana orang mau menghormati seorang
Advokat bila diantara Advokat sendiri tidak bisa saling menghormati, ”
ujarnya.
![]() |
Bimbingan keluarga yang berlatar belakang NU. |
Menurut Rusdi, Advokat-advokat yang muda harus diberi motivasi agar mereka menjadi Pejuang
Keadilan dan Kebenaran, dan bukan memberikan motivasi bagaimana
mereka cepat kaya dan punya Lamborgini. Menurut Rusdi Taher tugas advokat
senior adalah memberikan keteladanan dan dapat menjadi sumber inspirasi bagi para Advokat muda untuk menjadi Advokat yang benar dan baik serta berakhlak.
“Karena pada
kenyataannya ada segelintir Advokat malah menjadi racun bagi Advokat lainnya,” ungkapnya kembali.
Sikap hedonisme yaitu suatu sikap yang mendewa-dewakan
harta benda, memburu kekayaan, bisa menjerumuskan Advokat melakukan tindakan kurang terpuji bahkan ada yang sampai melanggar hukum. Rusdi Taher
mencontohkan beberapa Advokat ada yang ditangkap karena ingin cepat hidup mewah
dengan menghalalkan segala macam cara.
![]() |
Perlu dibentuk Dewan Kehormatan Advokat Tunggal. |
Perlunya Dewan Kehormatan
Advokat Tunggal
Seiring dengan proses demokrasi di
Indonesia, dunia Advokat telah berkembang pesat. Profesi ini juga kian
diminati generasi muda. Rusdi Taher menilai banyaknya berdiri organisasi Advokat pun tak bisa dihindari. Karenanya, dibutuhkan
Dewan Kehormatan Advokat Tunggal, agar seluruh Advokat yang terhimpun dalam berbagai organisasi ini
memiliki pandangan dan tujuan yang sama.
Nantinya, mereka yang duduk di Dewan Kehormatan Advokat Tunggal berasal dari pimpinan-pimpinan organisasi Advokat
dengan syarat memiliki track record atau rekam jejak yang baik.
Adanya Dewan Kehormatan Advokat Tunggal sudah menjadi keharusan,
salah satunya untuk menegakkan Kode etik Advokat.
Lihat saja, kondisi saat ini, sekarang ini
jika seorang Advokat dipecat dari organisasinya karena melanggar kode etik, maka dia
akan pindah ke organisasi lain. Bahkan, mereka saat ini bisa dengan gampangnya
mendirikan organisasi Advovat baru.
Begitu
mudahnya mendirikan organisasi Advokat sangat disesalkan
oleh Rusdi Taher. “Saya pikir perlu ada regulasi
atau aturan untuk mendirikan organisasi Advokat seperti mendirikan
parpol , yaitu salah satunya harus memiliki cabang di
berbagai provinsi. Namun pada kenyataannya, saat
ini mendirikan organisasi Advokat sangat
mudah, seperti hanya dengan segelintir orang, dapat
mendirikan Organisasi Advokat, bahkan penyumpahannya pun disahkan dan dilakukan
oleh Pengadilan Tinggi setempat. Ini tidak sehat,” ungkap pria kelahiran
Bone, pada 3 Maret 1949 tersebut.
Rusdi Taher mengatakan hingga saat ini tidak ada
indikator bahwa salah satu Organisasi Advokat lebih
bagus dari yang lain. Masyarakat memilih orang bukan organisasinya. Makanya,
dia berharap para pemimpin organisasi Advokat jangan ada peseteruan. “Tapi
seharusnya ada pertemuan antara pemimpin Organisasi Advokat, dan hal tersebut sekarang sudah jarang
dilakukan, padahal itu sangat penting,” harapnya.
Menjaga Etika
Sebagai Advokat, Rusdi Taher
selalu mengutamakan etika dalam menjalankan profesinya. Menurutnya, dia ingin
hidup tenang dan tidak mau konflik dengan siapapun.
Menjadi Advokat menurut Rusdi bukan untuk mencari kehidupan yang enak, akan tetapi yang
lebih utama adalah untuk membantu “pencari keadilan”.
Dia berprinsip bahwa hidup bukan semata-mata untuk mencari kekayaan
tetapi yang paling utama adalah hidup untuk memperoleh amal dan pahala yang diridhoi Sang Khalik. Oleh karena itu, menurut Rusdi, profesi Advokat juga adalah ladang untuk beramal dan juga sebagai ibadah.
![]() |
Menegakkan keadilan dan kebenaran. |
Mengenai kondisi penegakan
hukum saat ini, Rusdi Taher mengatakan dia dan beberapa temannya sering berdiskusi
mengenai hal tersebut. Menurutnya,
kedzaliman yang terorganisasi bisa mengalahkan kebenaran yang tidak
terorganisasi.
Ada beberapa kasus yang ia lihat bila tidak melakukan
langkah-langkah untuk mempertahankan hak dan kebenaran, bisa-bisa kebenaran itu kalah dan menjadi salah.
Terkait banyaknya Advokat yang tertangkap karena
kasus suap, Rusdi Taher mengatakan,”Seharusnya para Advokat
itu menjunjung tinggi Profesionalisme dan Integritas dalam menangani suatu
kasus. Bila klien ingin menyalahi aturan, dia harus berani menolaknya.”
Rusdi Taher menambahkan, apabila para Advokat memiliki visi dan misi yang sama untuk
menegakkan keadilan dan kebenaran di tanah air,
maka yakinlah suatu hari nanti kondisi hukum di Indonesia akan lebih
baik. Mungkin waktunya masih panjang, tapi kita tidak boleh pesimis,
caranya berusaha memperbaiki dan bukan menjadi bagian yang merusak. Bila orang
bermain kotor , kita jangan ikut dalam permainan tersebut.(*)
Hikayat Sang Juara : Putera Kyai Aktivis PMII
Sejak dari SD sampai Perguruan
Tinggi seorang Rusdi Taher dikenal cerdas dan selalu mendapatkan juara dalam
pendidikannya. Rusdi menghabiskan masa mudanya , dari Sekolah Dasar
(SD) hingga SMP di Bone. Kemudian, melanjutkan ke SMA Negeri 3 Ujung Pandang ,
yang kemudian berganti menjadi Makassar.
Dia lahir di
Bone pada tanggal 3 Maret 1949, di lingkungan keluarga yang religius. Ayahnya KH.M. Taher Rachim, adalah
mantan Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama
(NU) Provinsi Sulawesi Tenggara dan pernah menjadi anggota
DPRD Sulawesi Tenggara. Kyai Taher Rahim bersahabat
dengan Haji Kalla, orang tua tokoh Makassar yang pernah dua kali menjabat wakil
presiden, Jusuf Kalla.
“Kami semua dididik dalam lingkungan keluarga yang taat kepada ajaran agama. Karena Ayah saya adalah seorang Kyai, makanya
hingga saat ini ajaran tersebut terus saya pegang teguh, “ ujar Rusdi.
Keluarga Rusdi berasal dari Kota Bone.
Bone sebagai salah satu daerah yang berada di pesisir timur
Sulawesi Selatan memiliki posisi strategis dalam perdagangan barang dan jasa di
Kawasan Timur Indonesia yang saat ini secara administratif terdiri dari 27
kecamatan, 328 desa dan 44 kelurahan.
Kabupaten itu terletak 174 km ke arah
timur Kota Makassar, Sulawesi Selatan, tergolong kabupaten yang besar dan luas
dengan rata-rata jumlah penduduk sebanyak 162 jiwa per km2. Orang Bugis Bone sudah lama di kenal dengan
kelembutanya mengintonasikan kata-kata ketika berbicara. Suku Bugis memiliki
karakter yang kuat seperti Manyameng kininnawa (nikmat pikirannya, ceria,
bahagia atau berpikir positif), Mappasitinaja (memperlakukan sesuatu secara
proporsional dan adil), Malabo (dermawan), Malempu (lurus), Magetteng
(konsisten), Macca (pintar, kemampuannya mengurai dan memberikan solusi), dan
Warani (keberanian membela terhadap kaum yang
lemah).
![]() |
Orang Bugis suka mengembara. |
Sejak dulu sampai sekarang, orang Bugis memegang teguh prinsip itu.
Apapun resiko dan hambatannya. Di kota kecil ini, Kyai
Taher sangat dikenal masyarakat karena jabatannya sebagai Kepala Kantor Urusan
Agama (KUA) Kabupaten Bone. Sekitar 1965, saat
terjadi pemisahan Sulawesi Tenggara dari Sulawesi Selatan, ayahnya memutuskan
pindah ke Kendari, seiring dengan promosi
dirinya sebagai Kepala Bidang Agama Islam di Departemen Agama Provinsi Sulawesi Tenggara.
Aktivitas dan ketokohan ayah Rusdi
makin menonjol di Sulawesi Tenggara. Meskipun masih menjadi Pegawai
Negeri Sipil (PNS), Kyai Taher tercatat sebagai Ketua
Umum Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Nahdlatul Ulama. Aktivitas dan
nilai-nilai NU yang dianut keluarga Rusdi membawa pengaruh kuat terhadap
karakter dan perilakunya sehari-hari. Nilai-nilai nahdiyin itulah yang membedakan dirinya dengan orang
lain.
“Kita harus punya warna. Tidak boleh abu-abu,” katanya.
Darah NU yang
mengalir deras dalam nadinya memacu Rusdi mengikuti gerakan pemuda yang
berafiliasi dengan organisasi kenamaan tertua di Tanah Air itu. Dia menjadi
bagian dari Gerakan Pemuda (GP) Anshor. Puncak aktivitas sebagai pemuda NU
terjadi saat dirinya menempuh kuliah di Fakultas Hukum Universitas Hassanudin
dan menjadi Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Tidak mengherankan apabila pada
perjalanan kariernya kemudian dia bersahabat karib dengan almarhum Slamet
Effendi Yusuf, aktivis PMII. Menjadi ketua sebuah organisasi mahasiswa (PMII) tidak
membuat Rusdi abai dengan akademiknya. Jika pada waktu itu banyak aktivis yang
menjadi “mahasiswa abadi” karena kuliahnya tidak kelar-kelar akibat aktif di
organisasi, Rusdi mampu menyelesaikan studi hukum pada 1974 dengan hasil yang
cemerlang.
Maka, tidak sulit baginya untuk melangkahkan kakinya menuju gerbang
pengabdian selanjutnya sebagai penegak hukum. Pada
awalnya Rusdi mengikuti tes CPNS di Kejaksaan Tinggi Kendari Sulawesi Tenggara.
SK pengangkatan sebagai PNS terbit pada 1976. Satu
setengah tahun kemudian, dia mengikuti Pendidikan Pembentukan Jaksa
(PPJ) di Jakarta.
![]() |
M. Rusdi Taher lulusan terbaik Pendidikan Pembentukan Jaksa. |
“Saya lulusan terbaik, lulus nomor satu di
antara mereka,” tuturnya.
Saat itu, Jaksa Agung Ali Said memberikan penghargaan
kepada alumnus pendidikan Jaksa terbaik untuk
memilih tempat tugas dimanapun yang dikehendaki.
Semula, Rusdi Taher tidak berniat untuk berkarier di Jakarta. Sebagai Jaksa muda, dia berpikir ladang pengabdiannya di tanah
leluhur masih terbuka lebar. Lagi pula, sudah banyak orang pintar di Ibu Kota.
Para sarjana sebaiknya membangun daerah masing-masing, agar bersama-sama
mencapai kemajuan, mengimbangi pesatnya pembangunan di Jakarta.
![]() |
Selalu mengharap ridho Alloh. |
Tapi, dalam
tubuh Rusdi mengalir darah Bugis, suku yang dikenal gemar mengembara. Apalagi,
Kepala Biro Kepegawaian Kejaksaan Agung saat itu, A.Y. Adnan, menyarankan untuk pindah ke
Jakarta.
“Dia mengatakan kalau kau mau maju, pindah ke Jakarta,” katanya.
Saran
itu ternyata benar. Begitu pindah ke Jakarta, Rusdi mulai bergaul dengan
tokoh-tokoh nasional. Pergaulan Jakarta
tidak sanggup mengubah ikatannya dengan tanah leluhur. Rusdi aktif dalam
Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKM Bone), bahkan menjadi salah satu
ketuanya. Tokoh-tokoh nasional pernah menjadi ketua KKM Bone seperti Andi
Ghalib, mantan Jaksa Agung.
Potensi besar yang dimiliki Rusdi terus dipantau atasannya
di Kejaksaan. Belum satu tahun bertugas, dia mendapat tugas sebagai Jaksa
Penuntut Umum pengganti dalam kasus besar, perkara subversi yang
melibatkan Abdul Qadir Djaelani, sebagai koordinator Presidium Front Aksi
Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (Front Akasi).
Dalam persidangan itu, bertindak sebagai Majelis Hakim masing-masing Slamet Riyanto SH, Riyanto SH dan
Kustrini SH, sedangkan bertindak sebagai Penuntut Umum Jaksa Suhanjono SH dan
Rusdi Taher SH. Tim Pembela adalah masing-masing
H. Hartono Mardjono SH dan A.B. Lubis SH dari Lembaga Keadilan Hukum.
“Pak Suhanjono
ini adalah JPU. Saya Jaksa Penuntut Umum pengganti.
Tetapi di tengah persidangan, Pak Suhanjono dikirim ke Amerika Serikat untuk
sekolah. Terpaksa saya yang melanjutkan persidangan tersebut,dan saya berhasil
membuktikan kesalahan dari terdakwa dan yang
bersangkutan mendapatkan hukuman, ” kenang Rusdi.
Persidangan
perkara subversive tersebut pada masa itu bukan perkara mudah. “Sayalah jaksa
yang masih muda sekali, menyidangkan perkara yang sangat besar. Itu kenangan
saya waktu masih muda,” ceritanya.
Kala itu, usianya baru 27 tahun. Sejak itu,
Rusdi Taher kerap menjadi perbincangan. Kasus-kasus besar dan sensitif pernah
ditanganinya. Sewaktu menjabat Kepala Kejaksaan Negeri
Jakarta Barat Rusdi adalah orang pertama yang berani menahan Walikota Jakarta
Barat Sutarjianto, dan pada saat menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Bengkulu
Rusdi juga menetapkan Walikota Bengkulu Kholik Effendi menjadi Tersangka dalam
Perkara Korupsi yang dikenal dengan PL Gate.
Dia juga pernah menangani kasus
korupsi di Bea Cukai Jakarta dan pelakunya dihukum 18 tahun penjara. Kasus
dugaan korupsi senilai Rp.2,2 miliar yang melibatkan Walikota Jakarta Barat
merupakan ujian besar bagi jabatannya sebagai Jaksa. Untuk menaikkan Wibawa
Kejaksaan, dia mengambil tindakan tegas dan melaporkan masalah
berlarut-larutnya kasus ini ke Jaksa Agung. Walikota Jakarta Barat langsung
ditahan.
![]() |
Perjalanan hidupnya merupakan ilmu yang tak terlupakan. |
Karena prestasinya yang menonjol,
Rusdi Taher akhirnya di angkat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta pada
tahun 2005-2007. Semasa menjabat sebagai Kajati DKI Jakarta, Rusdi Taher banyak
menangani kasus kasus besar yang menarik perhatian masyarakat. Antara lain;
Menangkap dan menahan Syafrudin Tumenggung mantan Ketua BPPN dalam dugaan
Korupsi pada pabrik Gula di Gorontalo, namun Rusdi menyesalkan bahwa ternyata
kemudian Jaksa Agung menghentikan penuntutan perkara tersebut padahal Syafrudin
Tumenggung sudah ditahan selama beberapa bulan.
Rusdi juga yang telah
memerintahkan menangkap dan menahan Muhammad Taufik, dalam kasus tindak pidana
Korupsi Penyimpangan anggaran di KPU ( Komisi Pemilihan Umum ) DKI Jakarta
di mana M.Taufik adalah sebagai ketua KPU saat itu, dan kasus tersebut berhasil
dibuktikan di pengadilan dan M. Taufik dihukum.
Rusdi Juga yang memerintahkan
untuk melakukan Eksekusi terhadap Probosutedjo, dalam kasus Tindak pidana
Korupsi walaupun pada saat itu banyak desakan kepada Rusdi untuk menunda
pelaksanaan eksekusi, dan masih banyak lagi kasus kasus besar lainnya yang
telah dia tangani.
![]() |
Mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan negara. |
Setelah Pensiun dari Kejaksaan RI,
Rusdi Taher memilih menjadi seorang Advokat, karena Rusdi berprinsip “ TAK ADA
KATA BERHENTI UNTUK MENGABDIKAN DIRI KEPADA MASYARAKAT, BANGSA DAN NEGARA“.
Dan kini Rusdi Taher merasa berbahagia menekuni profesinya sebagai Advokat
karena bisa membantu orang orang yang lemah dan
terdzolimi yang membutuhkan perlindungan dan bantuan hukum. Rusdi Taher
juga merasa saat ini lebih nyaman dan tentram karena saat ini dia memiliki lebih
banyak waktu bersama keluarganya.
Pria yang selalu bergaya necis dan perlente disetiap penampilannya selalu mengatakan “Dalam menjalani kehidupan, Saya Enjoy Life dengan selalu memohon keberkahan dan Ridho dari Allah SWT dan ikhlas menjalani Hidup, KARENA SETIAP ORANG ADA MASANYA DAN SETIAP MASA ADA ORANGNYA.”
Rusdi Taher juga membagi Tips kesehatan yang selalu dia terapkan dalam kesehariannya “ Bahwa ada 3 hal yang harus selalu dilakukan dalam menjalani hidup yaitu : Jangan Pernah berhenti bergerak agar hidup sehat, oleh karena itu olah raga adalah salah satu aktifitas yang rutin dilakukannya, jangan pernah berhenti berpikir agar tidak mudah pikun dan yang sangat penting adalah Jangan pernah berhenti beramal dan beribadah karena hal tersebut yang akan kita bawa menghadap sang Khalik. (Tim Penulis)
Post a Comment