Header Ads

https://daihatsu.co.id/

Muhammad Rusdi Taher, SH, MH; PEGANG TEGUH EMPAT PRINSIP UNTUK JADI ADVOKAT HANDAL


Muhammad Rusdi Taher telah menggeluti bidang hukum sejak 1976. Dia mengawali kariernya sebagai Jaksa. Namun, pada akhirnya nasib membawanya menjadi Advokat. Mereguk pahit getir dunia hukum, banyak pelajaran yang ingin dia bagi untuk generasi mendatang.

Usianya tak muda lagi. Ratusan kasus telah ditangani Advokat senior ini dengan penuh integritas. Itulah yang mendatangkan rasa hormat para pelaku hukum di Tanah Air kepada Muhammad Rusdi Taher, yang kini menjabat sebagai KETUA DEWAN PENASEHAT KONGRES ADVOKAT INDONESIA ( KAI )

Awalnya Rusdi meniti karier sebagai Jaksa angkatan tahun 1976. Rusdi adalah juga Lulusan Terbaik dalam Pendidikan Pembentukan Jaksa pada tahun 19977-1978. 

Ternyata, menjadi jaksa bukan satu-satunya pengalamannya. Pada sebagian masa-masa emasnya, Rusdi pernah mengabdi sebagai wakil rakyat. Dalam usia yang relatif muda yaitu 33 tahun, Rusdi menjadi anggota MPR RI utusan daerah pada periode 1982-1987. Rusdi juga pernah menjadi anggota DPR RI / MPR RI selama 2 Periode yaitu 1987-1992 dan periode 1992-1997.

M. Rusi Taher, SH, MH.
Pada Periode keduanya dia menjabat sebagi Wakil Ketua Komisi III DPR RI bidang Hukum. Namun, pada akhirnya bidang hukum yang menjadi pelabuhan terakhirnya meskipun posisinya berubah dari Jaksa menjadi Advokat. 

Rusdi Taher mengaku ingin tetap mengabdikan ilmu yang dimilikinya sehingga memilih menjadi Advokat. Dia lebih suka menjadi corporate lawyer, sementara untuk kasus-kasus litigasi diserahkan pada asistennya. Pekerjaan tersebut sangat dicintainya sehingga Rusdi Taher sangat ketat menjaga etika profesinya. 

“Menurut saya advokat senior itu harus memberikan keteladanan pada advokat muda, dan bukan memberikan contoh tidak baik,” katanya. 

Rudi Taher sangat tidak sependapat dengan segelintir orang yang berprinsip bahwa hidup glamor penting bagi Advokat agar dihargai oleh klien dan masyarakat. Menurutnya, pandangan seperti ini bisa merusak moral advokat muda. 

Pola pikir seperti ini menyebabkan advokat muda akan berlomba-lomba dengan segala cara bukan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, tapi untuk menggapai gaya hidup hedonisme. “Justru di tengah kondisi kehidupan yang seperti sekarang ini, pentingnya para Advokat senior memberikan keteladanan yang baik dan benar, Perlu sikap yang benar dan baik,” ujar pria yang aktif di banyak organisasi ini. 

Menurut dia, saat ini di dunia hukum sangat minim sosok yang bisa diteladani termasuk di profesi Advokat.  Dulu, ada Yap Thiam Hien, sosok Advokat sejati, yang membela kliennya dari kasusnya bukan melihat individunya -- kaya atau miskin, pandangan politiknya dan agamanya. 

Di Kejaksaan ada sosok Baharuddin Lopa, yang pernah menjabat Jaksa Agung yang jujur. Untuk Kepolisian, ada Jenderal Polisi (Purn.) Drs. Hoegeng Imam Santoso yang sangat berani demi kebenaran. 


Menjadi Advokat yang sukses namun berbudi baik butuh perjuangan. Rusdi Taher menyebut Advokat harus memiliki empat karakter yang dia singkat dengan “IPTN” yakni Idealis, Patriotik, Toleransi dan Nasionalis. 


Etika dalam berprofesi selalu dijunjungnya.
Sikap Idealis bisa digambarkan sebagai sikap advokat yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip hukum, keadilan dan kebenaran, dan tidak mudah terpengaruh oleh rayuan dan godaan untuk menyimpang dari hukum. 

Sikap Patriotik adalah sikap Advokat Pejuang dan Pejuang Advokat, yang berjuang tanpa ada rasa takut dalam membela keadilan dan kebenaran, serta tidak mudah tergoyahkan oleh tekanan dari manapun dalam menjalani Profesinya. 

Toleransi adalah sikap Advokat yang dapat menerima dengan lapang dada dan Berjiwa besar dalam menyikapi setiap perbedaan dan dapat memahami keragaman suku, agama dan budaya. 

Sikap Nasionalis adalah Sikap Advokat yang senantiasa  mementingkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Penegakkan Kode Etik


Rusdi Taher mengaku kecewa melihat fenomena sekarang ini karena kode etik Advokat terkadang kurang dipatuhi oleh advokat itu sendiri. 

Kondisi seperti itu dapat menjatuhkan harkat dan martabat advokat. Contoh sikap yang dianggap Rusdi tidak sehat adalah seperti yang baru-baru ini terjadi, ketika dua Advokat saling berbalas mengeluarkan kata-kata ejekan. 

Menurutnya, ada segelintir Advokat yang mempertontonkan, sikap saling menghina, merendahkan martabat sesama Advokat, mencemarkan nama baik, dan sebagainya. Hal seperti itu seyogianya tidak dilakukan oleh para Advokat sebagai teman sejawat. Dalam tata krama bermasyarakat berbangsa dan bernegara, seharusnya kita harus saling hormat menghormati, saling menghargai, dan tidak boleh menghina seseorang, menjatuhkan seseorang dan merendahkan harkat dan martabat seseorang. Advokat sebagai Profesi yang Terhormat yang biasa di sebut sebagai Officium Nobile, sepatutnya tidak mempertontonkan kepada masyarakat sikap saling merendahkan dan saling menghina maupun memamerkan moralitas yang tidak terpuji, karena kondisi tersebut bisa membuat masyarakat melihat betapa moralitas dan akhlak yang terpuji bukan menjadi Sesuatu hal yang penting bagi Advokat.

“Bagaimana orang mau menghormati seorang Advokat bila diantara Advokat sendiri tidak bisa saling menghormati, ” ujarnya. 

Bimbingan keluarga yang berlatar belakang NU.
Parahnya, apa yang dilakukan segelintir advokat ini seperti tidak mendapat tindakan tegas dari organisasi Advokat dimana mereka bernaung. “Mereka dibiarkan saja. Padahal, hal seperti ini yang penting untuk diperbaiki,” tandasnya. 

Menurut Rusdi, Advokat-advokat yang muda harus diberi motivasi agar mereka menjadi Pejuang Keadilan dan  Kebenaran, dan bukan memberikan motivasi bagaimana mereka cepat kaya dan punya Lamborgini. Menurut Rusdi Taher tugas advokat  senior adalah memberikan keteladanan dan dapat menjadi sumber inspirasi bagi para Advokat muda untuk menjadi Advokat yang benar dan baik serta berakhlak. 

“Karena pada kenyataannya ada segelintir Advokat malah menjadi racun bagi Advokat lainnya,” ungkapnya kembali. 

Sikap hedonisme yaitu suatu sikap yang mendewa-dewakan harta benda, memburu kekayaan, bisa menjerumuskan Advokat melakukan tindakan kurang terpuji bahkan ada yang sampai melanggar hukum. Rusdi Taher mencontohkan beberapa Advokat ada yang ditangkap karena ingin cepat hidup mewah dengan menghalalkan segala macam cara.

Perlu dibentuk Dewan Kehormatan Advokat Tunggal.
Perlunya Dewan Kehormatan Advokat Tunggal

Seiring dengan proses demokrasi di Indonesia, dunia Advokat telah berkembang pesat. Profesi ini juga kian diminati generasi muda. Rusdi Taher menilai banyaknya berdiri organisasi Advokat pun tak bisa dihindari. Karenanya, dibutuhkan Dewan Kehormatan Advokat Tunggal, agar seluruh Advokat yang terhimpun dalam berbagai organisasi ini memiliki pandangan dan tujuan yang sama. 

Nantinya, mereka yang duduk di Dewan Kehormatan Advokat Tunggal berasal dari pimpinan-pimpinan organisasi Advokat dengan syarat memiliki track record atau rekam jejak yang baik. 

Adanya Dewan Kehormatan Advokat Tunggal sudah menjadi keharusan, salah satunya untuk menegakkan Kode etik Advokat. 

Lihat saja, kondisi saat ini, sekarang ini jika seorang Advokat dipecat dari organisasinya karena melanggar kode etik, maka dia akan pindah ke organisasi lain. Bahkan, mereka saat ini bisa dengan gampangnya mendirikan organisasi Advovat baru. 

Begitu mudahnya mendirikan organisasi Advokat sangat disesalkan oleh Rusdi Taher. “Saya pikir perlu ada regulasi atau aturan untuk mendirikan organisasi Advokat seperti mendirikan parpol , yaitu salah satunya harus memiliki cabang di berbagai provinsi. Namun pada kenyataannya, saat ini  mendirikan organisasi Advokat sangat mudah, seperti hanya dengan segelintir orang, dapat mendirikan Organisasi Advokat, bahkan penyumpahannya pun disahkan dan dilakukan oleh Pengadilan Tinggi setempat. Ini tidak sehat,” ungkap pria kelahiran Bone, pada 3 Maret 1949 tersebut. 

Rusdi Taher mengatakan hingga saat ini tidak ada indikator bahwa salah satu Organisasi Advokat lebih bagus dari yang lain. Masyarakat memilih orang bukan organisasinya. Makanya, dia berharap para pemimpin organisasi Advokat jangan ada peseteruan. “Tapi seharusnya ada pertemuan antara pemimpin Organisasi Advokat, dan hal tersebut  sekarang sudah jarang dilakukan, padahal itu sangat penting,” harapnya.

Menjaga Etika


Sebagai Advokat, Rusdi Taher selalu mengutamakan etika dalam menjalankan profesinya. Menurutnya, dia ingin hidup tenang dan tidak mau konflik dengan siapapun. 

Menjadi Advokat menurut Rusdi bukan untuk mencari kehidupan yang enak, akan tetapi yang lebih utama adalah untuk membantu “pencari keadilan”. 

Dia berprinsip bahwa hidup bukan semata-mata untuk mencari kekayaan tetapi yang paling utama adalah hidup untuk memperoleh amal dan pahala yang diridhoi Sang Khalik. Oleh karena itu, menurut Rusdi, profesi Advokat juga adalah ladang untuk beramal dan juga sebagai ibadah. 

Menegakkan keadilan dan kebenaran.
Mengenai kondisi penegakan hukum saat ini, Rusdi Taher mengatakan dia dan beberapa temannya sering berdiskusi mengenai hal tersebut. Menurutnya, kedzaliman yang terorganisasi bisa mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisasi. 

Ada beberapa kasus yang ia lihat bila tidak melakukan langkah-langkah untuk mempertahankan hak dan kebenaran, bisa-bisa kebenaran itu kalah dan menjadi salah. Terkait banyaknya Advokat yang tertangkap karena kasus suap, Rusdi Taher mengatakan,”Seharusnya para Advokat itu menjunjung tinggi Profesionalisme dan Integritas dalam menangani suatu kasus. Bila klien ingin menyalahi aturan, dia harus berani menolaknya.”

Rusdi Taher menambahkan, apabila para Advokat memiliki visi dan misi yang sama untuk menegakkan keadilan dan kebenaran di tanah air,  maka yakinlah suatu hari nanti kondisi hukum di Indonesia akan lebih baik. Mungkin waktunya masih panjang, tapi kita tidak boleh pesimis, caranya berusaha memperbaiki dan bukan menjadi bagian yang merusak. Bila orang bermain kotor , kita jangan ikut dalam permainan tersebut.(*)


Hikayat Sang Juara : Putera Kyai Aktivis PMII


Sejak dari SD sampai Perguruan Tinggi seorang Rusdi Taher dikenal cerdas dan selalu mendapatkan juara dalam pendidikannya. Rusdi menghabiskan masa mudanya , dari Sekolah Dasar (SD) hingga SMP di Bone. Kemudian, melanjutkan ke SMA Negeri 3 Ujung Pandang , yang kemudian berganti menjadi Makassar. 

Dia lahir di Bone pada tanggal 3 Maret 1949, di lingkungan keluarga yang religius. Ayahnya KH.M. Taher Rachim, adalah mantan  Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (NU) Provinsi Sulawesi Tenggara dan pernah menjadi anggota DPRD Sulawesi Tenggara. Kyai Taher Rahim bersahabat dengan Haji Kalla, orang tua tokoh Makassar yang pernah dua kali menjabat wakil presiden, Jusuf Kalla. 

“Kami semua dididik dalam lingkungan keluarga yang taat kepada ajaran agama. Karena Ayah saya adalah seorang Kyai, makanya hingga saat ini ajaran tersebut terus saya pegang teguh, “ ujar Rusdi. 

Keluarga Rusdi berasal dari Kota Bone.


Bone sebagai salah satu daerah yang berada di pesisir timur Sulawesi Selatan memiliki posisi strategis dalam perdagangan barang dan jasa di Kawasan Timur Indonesia yang saat ini secara administratif terdiri dari 27 kecamatan, 328 desa dan 44 kelurahan. 

Kabupaten itu terletak 174 km ke arah timur Kota Makassar, Sulawesi Selatan, tergolong kabupaten yang besar dan luas dengan rata-rata jumlah penduduk sebanyak 162 jiwa per km2. Orang Bugis Bone sudah lama di kenal dengan kelembutanya mengintonasikan kata-kata ketika berbicara. Suku Bugis memiliki karakter yang kuat seperti Manyameng kininnawa (nikmat pikirannya, ceria, bahagia atau berpikir positif), Mappasitinaja (memperlakukan sesuatu secara proporsional dan adil), Malabo (dermawan), Malempu (lurus), Magetteng (konsisten), Macca (pintar, kemampuannya mengurai dan memberikan solusi), dan Warani (keberanian membela terhadap kaum yang lemah). 

Orang Bugis suka mengembara.
Sejak dulu sampai sekarang, orang Bugis memegang teguh prinsip itu. Apapun resiko dan hambatannya. Di kota kecil ini, Kyai Taher sangat dikenal masyarakat karena jabatannya sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kabupaten Bone. Sekitar 1965, saat terjadi pemisahan Sulawesi Tenggara dari Sulawesi Selatan, ayahnya memutuskan pindah ke Kendari, seiring dengan promosi dirinya sebagai Kepala Bidang Agama Islam di Departemen Agama Provinsi Sulawesi Tenggara.

Aktivitas dan ketokohan ayah Rusdi makin menonjol di Sulawesi Tenggara. Meskipun masih menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), Kyai Taher tercatat sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Nahdlatul Ulama. Aktivitas dan nilai-nilai NU yang dianut keluarga Rusdi membawa pengaruh kuat terhadap karakter dan perilakunya sehari-hari. Nilai-nilai nahdiyin itulah yang membedakan dirinya dengan orang lain. 

“Kita harus punya warna. Tidak boleh abu-abu,” katanya. 

Darah NU yang mengalir deras dalam nadinya memacu Rusdi mengikuti gerakan pemuda yang berafiliasi dengan organisasi kenamaan tertua di Tanah Air itu. Dia menjadi bagian dari Gerakan Pemuda (GP) Anshor. Puncak aktivitas sebagai pemuda NU terjadi saat dirinya menempuh kuliah di Fakultas Hukum Universitas Hassanudin dan menjadi Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Tidak mengherankan apabila pada perjalanan kariernya kemudian dia bersahabat karib dengan almarhum Slamet Effendi Yusuf, aktivis PMII. Menjadi ketua sebuah organisasi mahasiswa  (PMII) tidak membuat Rusdi abai dengan akademiknya. Jika pada waktu itu banyak aktivis yang menjadi “mahasiswa abadi” karena kuliahnya tidak kelar-kelar akibat aktif di organisasi, Rusdi mampu menyelesaikan studi hukum pada 1974 dengan hasil yang cemerlang. 

Maka, tidak sulit baginya untuk melangkahkan kakinya menuju gerbang pengabdian selanjutnya sebagai penegak hukum. Pada awalnya Rusdi mengikuti tes CPNS di Kejaksaan Tinggi Kendari Sulawesi Tenggara. SK pengangkatan sebagai PNS terbit pada 1976. Satu setengah tahun kemudian, dia mengikuti Pendidikan Pembentukan Jaksa (PPJ) di Jakarta. 

M. Rusdi Taher lulusan terbaik Pendidikan Pembentukan Jaksa.
Kecemerlangan Rusdi terbukti saat dia dinobatkan sebagai alumnus terbaik PPJ 1978. Teman-teman seangkatannya ketika itu adalah  Mochtar Arifin (Mantan Wakil Jaksa Agung), Chairuman Harahap (Mantan Ketua Komisi II DPR RI), dan Wisnu Subroto (Mantan JAM Intel). 

“Saya lulusan terbaik, lulus nomor satu di antara mereka,” tuturnya. 

Saat itu, Jaksa Agung Ali Said memberikan penghargaan kepada alumnus pendidikan Jaksa terbaik untuk memilih tempat tugas dimanapun yang dikehendaki. Semula, Rusdi Taher tidak berniat untuk berkarier di Jakarta. Sebagai Jaksa muda, dia berpikir ladang pengabdiannya di tanah leluhur masih terbuka lebar. Lagi pula, sudah banyak orang pintar di Ibu Kota. Para sarjana sebaiknya membangun daerah masing-masing, agar bersama-sama mencapai kemajuan, mengimbangi pesatnya pembangunan di Jakarta. 

Selalu mengharap ridho Alloh.
Tapi, dalam tubuh Rusdi mengalir darah Bugis, suku yang dikenal gemar mengembara. Apalagi, Kepala Biro Kepegawaian Kejaksaan Agung saat itu, A.Y.  Adnan, menyarankan untuk pindah ke Jakarta. 

“Dia mengatakan kalau kau mau maju, pindah ke Jakarta,” katanya. 

Saran itu ternyata benar. Begitu pindah ke Jakarta, Rusdi mulai bergaul dengan tokoh-tokoh nasional.  Pergaulan Jakarta tidak sanggup mengubah ikatannya dengan tanah leluhur. Rusdi aktif dalam Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKM Bone), bahkan menjadi salah satu ketuanya. Tokoh-tokoh nasional pernah menjadi ketua KKM Bone seperti Andi Ghalib, mantan Jaksa Agung.   

Potensi besar yang dimiliki Rusdi terus dipantau atasannya di Kejaksaan. Belum satu tahun bertugas, dia mendapat tugas sebagai Jaksa Penuntut Umum pengganti dalam kasus besar, perkara subversi yang melibatkan Abdul Qadir Djaelani, sebagai koordinator Presidium Front Aksi Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (Front Akasi). 

Dalam persidangan itu, bertindak sebagai Majelis Hakim masing-masing Slamet Riyanto SH, Riyanto SH dan Kustrini SH, sedangkan bertindak sebagai Penuntut Umum Jaksa Suhanjono SH dan Rusdi Taher SH. Tim Pembela adalah masing-masing H. Hartono Mardjono SH dan A.B. Lubis SH dari Lembaga Keadilan Hukum. 

“Pak Suhanjono ini adalah JPU. Saya Jaksa Penuntut Umum pengganti. Tetapi di tengah persidangan, Pak Suhanjono dikirim ke Amerika Serikat untuk sekolah. Terpaksa saya yang melanjutkan persidangan tersebut,dan saya berhasil membuktikan kesalahan dari terdakwa dan yang bersangkutan mendapatkan hukuman, ” kenang Rusdi. 

Persidangan perkara subversive tersebut pada masa itu bukan perkara mudah. “Sayalah jaksa yang masih muda sekali, menyidangkan perkara yang sangat besar. Itu kenangan saya waktu masih muda,” ceritanya. 

Kala itu, usianya baru 27 tahun. Sejak itu, Rusdi Taher kerap menjadi perbincangan. Kasus-kasus besar dan sensitif pernah ditanganinya. Sewaktu menjabat Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Barat Rusdi adalah orang pertama yang berani menahan Walikota Jakarta Barat Sutarjianto, dan pada saat menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Bengkulu Rusdi juga menetapkan Walikota Bengkulu Kholik Effendi menjadi Tersangka dalam Perkara Korupsi yang dikenal dengan PL Gate.

Dia juga pernah menangani kasus korupsi di Bea Cukai Jakarta dan pelakunya dihukum 18 tahun penjara. Kasus dugaan korupsi senilai Rp.2,2 miliar yang melibatkan Walikota Jakarta Barat merupakan ujian besar bagi jabatannya sebagai Jaksa. Untuk menaikkan Wibawa Kejaksaan, dia mengambil tindakan tegas dan melaporkan masalah berlarut-larutnya kasus ini ke Jaksa Agung. Walikota Jakarta Barat langsung ditahan.

Perjalanan hidupnya merupakan ilmu yang tak terlupakan.
Ada satu kenangan yang tidak akan pernah di lupakan, Pada Tahun 2004 Rusdi Taher menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Bengkulu, adalah ketika Rumah Dinas Kajati Bengkulu dibakar dan mobil dinas serta dua motor ikut dibakar sebagai akibat dari penetapan Walikota Bengkulu sebagai tersangka. Namun masalah tersebut tidak membuat seorang Rusdi Taher gentar.


Karena prestasinya yang menonjol, Rusdi Taher akhirnya di angkat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta pada tahun 2005-2007. Semasa menjabat sebagai Kajati DKI Jakarta, Rusdi Taher banyak menangani kasus kasus besar yang menarik perhatian masyarakat. Antara lain; Menangkap dan menahan Syafrudin Tumenggung mantan Ketua BPPN dalam dugaan Korupsi pada pabrik Gula di Gorontalo, namun Rusdi menyesalkan bahwa ternyata kemudian Jaksa Agung menghentikan penuntutan perkara tersebut padahal Syafrudin Tumenggung sudah ditahan selama beberapa bulan. 

Rusdi juga yang telah memerintahkan menangkap dan menahan Muhammad Taufik, dalam kasus tindak pidana Korupsi Penyimpangan anggaran di KPU ( Komisi Pemilihan Umum ) DKI Jakarta di mana M.Taufik adalah sebagai ketua KPU saat itu, dan kasus tersebut berhasil dibuktikan di pengadilan dan M. Taufik dihukum. 

Rusdi Juga yang memerintahkan untuk melakukan Eksekusi terhadap Probosutedjo, dalam kasus Tindak pidana Korupsi walaupun pada saat itu banyak desakan kepada Rusdi untuk menunda pelaksanaan eksekusi, dan masih banyak lagi kasus kasus besar lainnya yang telah dia tangani.

Mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan negara.
Setelah Pensiun dari Kejaksaan RI, Rusdi Taher memilih menjadi seorang Advokat, karena Rusdi berprinsip “ TAK ADA KATA BERHENTI UNTUK MENGABDIKAN DIRI KEPADA MASYARAKAT, BANGSA DAN NEGARA“.

Dan kini Rusdi Taher merasa berbahagia menekuni profesinya sebagai Advokat karena bisa membantu orang orang yang lemah dan  terdzolimi yang membutuhkan perlindungan dan bantuan hukum. Rusdi Taher juga merasa saat ini lebih nyaman dan tentram karena saat ini dia memiliki lebih banyak waktu bersama keluarganya.

Pria yang selalu bergaya necis dan perlente disetiap penampilannya selalu mengatakan “Dalam menjalani kehidupan, Saya Enjoy Life dengan selalu memohon keberkahan dan Ridho dari Allah SWT dan ikhlas menjalani Hidup, KARENA SETIAP ORANG ADA MASANYA DAN SETIAP MASA ADA ORANGNYA.” 

Rusdi Taher juga membagi Tips kesehatan yang selalu dia terapkan dalam kesehariannya “ Bahwa ada 3 hal yang harus selalu dilakukan dalam menjalani hidup yaitu : Jangan Pernah berhenti bergerak agar hidup sehat, oleh karena itu olah raga adalah salah satu aktifitas yang rutin dilakukannya, jangan pernah berhenti berpikir agar tidak mudah pikun dan yang sangat penting adalah Jangan pernah berhenti beramal dan beribadah karena hal tersebut yang akan kita bawa menghadap sang Khalik. (Tim Penulis)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.