Header Ads

https://daihatsu.co.id/

Ni Wayan Umi Martina, SH, MH; Belajar dari Falsafah Umi Martina: Bekerja Tanpa Pamrih

Pengabdiannya tidak hanya di jalur profesi Advokat, namun juga menjadi dosen di almamaternya.
Ni Wayan Umi Martina merupakan satu dari sedikit sosok perempuan yang disegani dalam dunia hukum Indonesia. Sepak terjangnya sebagai seorang Advokat seolah mendobrak dominasi kaum Adam yang begitu lekat dengan profesi ini.

Umi, demikian sapaan akrabnya sadar betul akan resiko pekerjaan yang dilakoninya. Sarat pro-kontra, kecaman, hingga anggapan sinis menjadi 'makanannya' sehari-hari. Semua ia terjang dengan prinsip dan keilmuan yang ia punya. Baginya yang ter­penting adalah bekerja secara profesional dan jujur. Hambatan seperti apapun akan ia terabas.

Wanita kelahiran Bali ini merupakan pengacara sekaligus founder Law Firm Arjaya Umi Martina & Partners. Berkat usaha keras serta kegigihannya, Umi Martina bersama koleganya Dr. I Made Arjaya, SH, MH, sukses membawa law firm miliknya semakin terkemuka dan terpercaya di Indonesia.

Perjalanan Karir
 
Kepiawaiannya dalam litigasi menjadikannya dia Srikandi hukum yang disegani.
Perjalanan Advokat senior ini tidaklah mulus. Pada awalnya tak terbesit sedikitpun untuk melakoni profesi Advokat. Hal itu lantaran kedua orang tuanya menginginkan Umi Martina menjadi seorang Notaris.

Namun haluan itu seketika berubah saat sahabatnya Dr. I Made Arjaya, SH, MH mengajak dirinya untuk menjadi Advokat dan bergabung bersamanya. Meski awalnya bimbang dan ragu, namun setelah memutuskan untuk mengubah haluan menjadi Advokat, ia sungguh menikmatinya.

Tadinya, Umi bekerja sebagai Advokat di kantor sahabatnya itu. Seiring waktu ia akhirnya membuka kantor bersama yang diberi nama Arjaya Umi Martina & Partners. Kepercayaan ini tentunya bukan hanya ia dapatkan karena pertemanan, melainkan karena ia menunjukkan kualitas dirinya dalam bekerja dan sukses menangani berbagai kasus yang dipercayakan kepadanya.

Keberanian, disliplin dan mampu menjaga kepercayaan adalah kunci sukses utama bagi Umi.
Ia pun berpandangan, profesi Advokat merupakan profesi mulia sekaligus menantang. Membantu klien dalam bersengketa dan mendapatkan keadilan adalah kepuasan yang tiada tara. Sebagai seorang Advokat, Umi bertekad memberikan pemahaman hukum yang baik, yang adil ke seluruh lapisan masyarakat. Karena menurutnya di Indonesia masih banyak orang yang belum mendapatkan perlindungan hukum secara maksimal.

"Yang paling berkesan menjadi Advokat, bila kita bisa membantu banyak orang untuk mendapatkan rasa keadilan,” tutur Umi.

Bersama partnernya sewaktu membela klien di Pengadilan.
Cinta Ilmu

Umi Martina berpendapat salah satu syarat menjadi pengacara handal nan berkualitas adalah memiliki keilmuan di atas rata-rata. Aspek ini dianggapnya begitu penting.

Umi Martina adalah lulusan Fakultas Hukum Universitas Udayana Bali. Pendalaman ilmu hukum mulai dari Strata I hingga Strata III ia jalan di kampus ternama tersebut.

Menuntut ilmu begitu ia cintai. Baginya, seorang Advokat harus terus menggali ilmu, karena dunia hukum terus berkembang. Seiring perkembangan zaman berbagai jenis kasus baru pun bermunculan, karenanya bila tidak mau mengikuti, akan sulit bagi seorang Advokat membantu kliennya.

"Begitu pentingnya menimba ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi sebagai penopang kehidupan manusia. Tantangan saya sebagai Advokat adalah terus belajar agar bisa bersaing, bukan saja dengan Advokat Indonesia, tetapi tantangannya menghadapi Advokat asing, kerena adanya perdagangan bebas,” ujar ibu empat orang anak ini.

Sebagai bentuk pengabdian terhadap ilmu pengetahuan, kantor hukum yang dipimpinnya berdedikasi menjadi dosen praktisi di Fakultas Hukum Universitas Udayana.

Meskipun aktivitasnya padat, Umi senantiasa terus belajar.
"Ini adalah bentum rasa cinta dan kebanggaan saya terhadap almamater untuk mencetak Advokat handal di masa yang akan datang," tegasnya.

Buah dari kecintaannya pada ilmu pengetahuan adalah kesuksesan dalam menangani berbagai permasalahan hukum. Salah satu kasus yang sempat menyita perhatian adalah saat dirinya mendampingi suami dari Heidi Murphy, wanita berkebangsaan Australia korban pembunuhan.

Kasus lainnya adalah saat dirinya menjadi kuasa hukum Loeana Kangin Nadhi, mantan Konsul Denmark untuk Indonesia, yang didakwa melakukan penipuan dan penggelapan jual beli tanah. Kasus ini kemudian bermuara pada penghentian persidangan karena kliennya dinyatakan sakit permanen.

"Filosofi hidup saya sebagai perempuan Hindu, bekerja itu adalah Yadnya, artinya saya sebagai advokat harus bekerja dengan sepenuh hati dan menjalankan tugas profesi secara professional,” ungkapnya.

Tak hanya kasus pidana, Umi juga handal di bidang litigasi. Menjadi seorang Kurator sama menariknya dengan Advokat. Memiliki tantangannya tersendiri.

Kendala yang dialami Kurator tak hanya berhadapan dengan debitor. Kreditor juga bisa menjadi beban pekerjaan kurator jika si kreditor memaksa seluruh tagihannya dibayarkan penuh.

Banyak kreditor tidak menerima kenyataan bahwa debitor pailit yang tidak bisa lagi memenuhi kewajibannya memang memiliki keterbatasan atas pembayaran utang.

Sikap profesionalnya ditunjukkan dengan totalitas mendampingi klien memperoleh keadilan. Baginya menang atau kalah bukan hal utama namun bagaimana proses tersebut berada dalam koridor hukum yang benar.

Umi merupakan sosok yang selalu berusaha menjaga persaudaraan, termasuk dengan para kliennya. “Saya selalu menjalin hubungan baik dengan klien,” ucapanya.

Karena itu, tak heran apabila klien yang pernah dia bantu dan merasa puas, akan terus menjadi kliennya, bahkan me­reko­men­dasikan kepada teman dan saudara mereka.

Kasus-kasus yang banyak ditangani kantornya adalah kasus pidana, PTUN, perdata dan kasus-kasus sengketa bisnis di Pengadilan Niaga, seperti kepailitan, PKPU dan sengketa Hak Atas Kekayaan Intelektual.

"Kita bekerja berdasarkan surat kuasa dan alat bukti. Jika anda diajukan surat kuasa tanyakan dulu klien punya alat bukti apa. Karena jika tidak ada alat bukti, anda bisa disebut provokator."

Keluarga adalah Inspirasi

Kemanapun beraktivitas, keluarga yang utama.
Padatnya aktivitas yang ia jalani sebagai advokat ditambah dengan perannya dalam organisasi (Pe­ngurus DPP AAI 2015-2020 di Bidang Pendidikan Khusus Profesi Advokat tak menjadikan Umi Martina tak lupa akan perannya di keluarga.

Keluarga adalah sumber inspirasi. Sang suami, I Gusti Made Sukadana merupakan seorang Perwira Polisi di Polda Bali. Putra putrinya I Gusti Agung Eka Pertiwi, SH,MH, me­­ngi­kuti jejaknya sebagai Advokat di kantornya. I Gusti Agung Tirta Sari Dewi, SH, M.Kn sudah memiliki kantor PPAT di Kabupaten Badung, I Gusti Agung Angga Jaya Ningrat masih kuliah di Fakultas Kedokteran di Udayana, dan I Gusti Putu Agung Ngurah Angkasa Wirajaya masih sekolah di SMPN 1 Kuta, Badung, Bali.

Menjadi wanita multi skill adalah nilai plus yang dimiliki Umi Martina. Tak hanya sukses pada karir namun juga berperan penting menjaga keutuhan keluarga hingga sukses mengantarkan putra putrinya ke gerbang cita-cita.

Di balik kisa inspiratif ini, Ni Wayan Umi Martina telah membuktikan bahwa seorang perempuan bisa menoreh prestasi di dunia hukum. Hal ini tentu mematahkan stereotipe yang mengatakan bahwa dunia hukum adalah dunia kaum maskulin. (Tim Penulis/DD)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.