Header Ads

https://daihatsu.co.id/

Prof. DR. Otto Hasibuan, SH, MM; Tekad Mewujudkan Advokat yang Primus Inter Pares

Masih ada yang dicari advokat senior Prof. DR. Otto Hasibuan, SH, MM. Harta, kehormatan, keluarga yang harmonis telah dia miliki, bahkan melebihi yang pernah dia bayangkan. Namun, ada sesuatu yang membuatnya risau, yakni  merosotnya kualitas advokat Indonesia. Ia menilai sistem multibar yang merusak kualitas advokatnya. Lalu, apakah jika kembali memimpin PERADI, apakah dia dapat mewujudkan sistem single bar?


Tangannya dilipat di dada. Kakinya juga ikut dilipat. Dia lalu menggeserkan posisi duduknya untuk bersender di kursinya. Wajahnya tampak sedikit lesu, tertunduk dan terdiam sejenak. Setelah itu, tatapannya mengarahkan ke depan dan tersenyum.

“Saya sangat prihatin, sedih dan tidak bahagia dengan perkembangan dunia Advokat di negeri kita sekarang ini,” ungkap Advokat senior Prof. Dr. Otto Hasibuan, SH, MM, pada satu petang di kantornya, di Kompleks Duta Merlin, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat.

Ada apa gerangan dengan dunia Advokat kita sekarang ini? Mengapa prihatin dan sedih? Mengapa pula dia tak bahagia? Pria kelahiran Pematangsiantar, Sumatera Utara, 5  Mei 1955 itu pun mulai bercerita..

Pada mulanya, kata Otto, adalah Surat Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia (RI) Nomor 73/KMA/HK.01/IX/2015 tentang Penyumpahan Advokat. Surat No. 73 Tahun 2015 yang ditandantangani Ketua MA Prof Hatta Ali itu secara tidak langsung mengubah eksistensi organisasi Advokat Indonesa, yang semula single bar atau wadah tunggal dan hanya ada satu yakni Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI),  lalu menjadi multibar. 

“Surat ini membolehkan organisasi Advokat di luar Peradi untuk melaksanakan perekrutan Advokat, menyelenggarakan Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA), melaksanakan ujian hingga penyumpahan di Pengadilan Tinggi,” tuturnya.

Keluarnya Surat tersebut membuat Otto heran. Pasalnya, MA dinilai melanggar UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat. Pada undang-undang tersebut dengan jelas disebutkan bahwa organisasi Advokat itu tunggal/single bar, bukan multibar. “Jelas-jelas MA melanggar UU tentang Advokat. Bagaimana mungkin seorang Ketua MA mengeluarkan sebuah surat biasa melawan undang-undang yang kedudukannya lebih tinggi? Karena itu, saya anggap MA dan terutama ketua MA, tidak taat asas. Kami sempat menggugat, tetapi ya bagaimana, MA juga yang mengadili, menyidangkan dan memutuskan” tutur Otto. 

Senantiasa memberikan ketauladanan dalam setiap aktivitasnya.
Sebagai konsekwensi dari  lahirnya Surat No. 73 itu, muncul rupa-rupa organisasi Advokat. Organisasi-organisasi yang senada dengan PERADI ini dengan gampang berdiri dengan pengurus dan tanpa anggota. Mereka lalu menyelenggarakan perekrutan Advokat. Mereka kemudian dengan penuh percaya diri melakukan kerjasama dengan pengadilan tinggi untuk penyumpahan Advokat.

“Saya bahkan mendengar, PKPA-nya tidak jelas beberapa hari, bahkan ada yang tidak melewati magang kemudian ikut sumpah. Jadilah Advokat. Saya malahan mensinyalir ada Advokatnya yang bukan sarjana hukum. Kalau ini benar, betapa rendahnya profesi Advokat ini. Memang ini profesi terbuka, tetapi jangan karena terbuka, kita suka-suka. Ini sangat merugikan profesi, merugikan para pencari keadilan, justice seeker dan masyarakat pada umumnya,” keluh pendiri dan Ketua Umum Peradi periode 2005 – 2010 dan 2010 – 2015 itu.

Saat ini, Otto menjabat Ketua Dewan Pembina PERADI yang dipimpinan Fauzi Yusuf Hasibuan.  Pada saat PERADI didirikan pada 2005, kisah Otto, tekad yang dimunculkan adalah mencetak Advokat yang “tidak ecek-ecek”. Intelektual Advokat, menurutnya, harus tinggi. Lebih dari itu, Advokat harus memiliki integritas, jujur, memiliki moral, akhlak dan budi pekerti yang luhur. “Advokat  juga menjunjung tinggi etika, tunduk, taat pada aturan organisasi dan sumpah profesi advokat,” tegasnya.

Dalam sekian tahun perjalanan PERADI, menurut Otto, organisasi ini telah berhasil mewujudkan tekadnya tersebut. Perekrutan Advokat, misalnya, benar-benar selektif melalui ujian yang tidak gampang. Ujiannya juga murni. Jika seseorang lulus ujian maka dinyatakan lulus. Begitu pun sebaliknya. Calon Advokat yang gagal dalam satu ujian bisa mencoba lagi pada lain waktu. Otto juga menjamin dalam ujian advokat PERADI, tidak ada praktik KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) dalam proses seleksi advokat jadi ZERO KKN.


Mendapat penghargaan dari Seputar Indonesia Award.
Pada waktu ujian pertama, Otto mencatat jumlah peserta yang ikut ujian Advokat mencapai 10 ribu dan terjadi pelanggaran hingga lebih dari 160-an. Jumlah yang cukup banyak. Ujian berikutnya, pelanggaran di bawah 100. Menurun. Makin tahun makin menurun hingga pernah kurang dari 6 pelanggaran dan bahkan pernah ada ujian tanpa pelanggaran.

Memang, secara kuantitas terjadi penurunan peserta ujian lantaran dari mulut ke mulut tersebar informasi bahwa ujian Advokat PERADI sangat ketat. Panitia ujian dan pengurus PERADI tidak mentoleransi pada peserta yang menyontek hingga datang terlambat. “Yang melanggar, langsung didiskualifikasi. Pernah, ada sejumlah peserta ujian yang datang terlambat dan hampir memukul panitia,” kata Otto.


ADVOKAT ADALAH PRIMUS INTER PARES

Pengukuhan sebagai Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Jayabaya Jakarta. Advokat arus Primus inter pares.
Otto dan PERADI dahulu menerapkan hal semacam itu karena ingin menghasilkan Advokat yang terbaik. Bahkan,  tidak saja yang terbaik tetapi ‘terbaik dari yang terbaik’. Otto menyebutnya sebagai primus inter pares. Primus inter pares itu adalah the best of the best, yang terbaik dari yang terbaik. Kenapa dia menjadi primus inter pares? Dia bisa menjadi penyeimbang di dalam sistem hukum, ada Jaksa mewakili negara, yang melakukan tugas menuntut orang atau warga negara yang dianggap bersalah, penyeimbangnya adalah Advokat,” tuturnya.

Jadi, ungkap Otto, kalau Advokat itu bukan orang-orang terpilih, yang tidak berkualitas baik, maka Advokat tidak akan siap untuk berhadapan dengan para jaksa dan para penegak hukum lainnya. Padahal, dia diberikan amanat untuk mewakili kepentingan masyarakat agar rakyat bisa terpayungi hak-hak hukumnya. “Kalau dia tidak berkualitas, maka yang dirugikan bukan saja dirinya sendiri dan pencari keadilan,” tegasnya.

Kembali pada UU No 18 Tahun 2003, Otto mengenang saat pembuatan regulasi tersebut tidak terdapat isu, protes, perdebatan apalagi demonstrasi terkait kesepakatan untuk mencantumkan klausul pembentukan organisasi advokat single-bar atau wadah tunggal. Memang kekurangan dari klausul itu tidak mencantumkan nama PERADI.

Seharusnya perdebatan single dan multi-bar ini telah final. Ia kemudian bercerita sekaligus merujuk konsep single-bar yang diterapkan di berbagai negara.  “Perdebatan single dan multi-bar telah selesai puluhan tahun lalu di negara-negara Eropa dan Amerika bahkan di Asia. Semua sepakat, yang terbaik adalah single bar bukan multibar. Kalau ada negara yang multibar, itu karena sistem hukumnya saja yang berbeda. Umpamanya negara itu ada soliciter dan ada barister, tentu ada organisasi barister dan ada soliciter. Namun, secara umum saya melihat di berbagai negara, sistemnya single-bar. Jadi negara-negara di dunia tidak lagi mempersoalkan single atau multibar, semuanya sudah sepakat bahwa single bar yang terbaik” ungkap Otto dengan penuh keyakinan.

Tokoh pendiri PERADI dan senantiasa memperjuangkan organisasi Advokat yang disegani.
MENCABUT SURAT MAHKAMAH AGUNG NO.73?

Otto mengharapkan agar Ketua MA Hatta Ali saat mencabut Surat 73 dan kembali ke sistem single bar. Kebijakan pencabutan Surat 73 itu dapat dipastikan mengembalikan citra, reputasi dan trust advokat Indonesia di mata para pemangku kepentingan (stakeholders) dan demi Advokat yang inter pares dan demi profesi yang officium nobile sehingga marwah advokat dan PERADI bisa kembali bersinar.

Pada era Harifin Tumpa, PERADI pecah dengan Kongres Advokat Indonesia (KAI). Apa yang dilakukan oleh Harifin? Dia mengancam ‘selama kalian tidak bersatu, saya tidak akan angkat sumpah di pengadilan tinggi. PERADI tidak disumpah dan KAI juga tidak disumpah’. Ini namanya tegas dan konsisten. “Tetapi kalau tidak konsisten, akibatnya suka-suka. Akhirnya kita damai. Kita bersatu kembali,” kenang Otto dengan mata berbinar.    

Pada bagian lain, Otto berpendapat kekisruhan dalam dunia Advokat di negeri ini terjadi lantaran adanya orang yang “suka menerabas”. Kata menerabas ini, Otto pinjam dari antropolog Prof Koentjaraningrat. Munculnya budaya menerabas ini lantaran kondisi yang majemuk. Advokat datang dari berbagai latar belakang  budaya, tradisi, suku, agama, ras, golongan, kemauan, kepentingan, pikiran dan akhirnya masa bodoh dengan aturan.

Untuk melawan mental menerabas maka solusi satu-satunya adalah dengan menerapkan teori konsistensi atau teori ajeg. Advokat yang datang dari berbagai latar belakang ketika dia masuk ke dalam sebuah organisasi kemudian dipaksa untuk mengikuti aturan, peraturan organisasi dan kode etik. “Tetapi karena dia datang dan kebetulan ini kan organisasi yang terbuka, dia masuk dengan kepentingan dan tujuan berbeda-beda. Ketika kepentingan dia tidak terpenuhi, katakanlah terkait dengan pemilihan ketua organisasi dan tidak terpilih, muncullah mental menerabas,” tutur Otto.

Pihak yang menerabas dalam komunitas Advokat, dalam pandangan Otto, adalah mereka yang tidak puas dan melakukan berbagai manuver, mencari-cari celah dan kesalahan sepele pengurus hingga panitia. “Mereka cenderung tidak mau bermusyawarah. Jika gagal bermanuver dan keinginannya tidak terpenuhi maka mereka keluar dari organisasi lalu mendirikan organisasi baru. Lalu apakah ada jaminan organisasi yang didirikan itu terus solid? “ tanyanya.

Semua sudah didapatkannya, karena berkat Tuhan Yang Maha Esa.
SEMUA KARENA TUHAN
Sebagai Advokat yang sudah hampir 38 tahun berkarya dan melayani para pencari kadilan, Otto selalu memegang prinsip bahwa dirinya harus selalu menjadi Advokat yang primus inter pares. Ia misalnya tidak berhenti belajar, baik belajar formal maupun nonformal. Tak segan-segan ia belajar dari anak buahnya, Advokat-advokat junior dan pihak lain yang memiliki latar belakang ilmu berbeda. Prinsip tidak pernah tua (jemu) dalam belajar selalu dipegangnya.

Lebih dari itu, dia juga selalu mengandalkan Tuhan. Doa memohon, bersyukur, memuji dan memuliakan Tuhan hingga memohon ampun atas semua dosa, selalu dilakukannya. Tuhanlah yang selalu menjadi jawaban kala dirinya mengalami kesulitan dalam menyelesaikan sebuah perkara. 

“Bagi saya, Tuhan adalah segala-galanya. Apa yang saya punya saat ini, semua karena pertolongan Tuhan. Sekuat dan sehebat apa pun kita, sepintar apa pun kita, kalau tidak melibatkan Tuhan, maka kita akan mengalami kesulitan,” kata Otto.

Melibatkan Tuhan, bagi Otto berarti  dipastikan dapat berguna untuk melewatkan semua godaan. Ada banyak godaan dalam dunia Advokat mulai dari harta, tahta dan lain-lain. Karena mengejar uang atau harta maka bukan tidak mungkin advokat bisa menjadi tidak jujur pada klien. “Bahaya besar kalau kita ingin kaya dalam sekejap. Jangan berpikir seperti itu,” tegasnya.

Dia selalu bilang kepada calon-calon Advokat, semua oranga ingin uang, semua advokat juga ingin kaya. Mau kaya itu baik dan tidak salah. Tetapi ketika menjadi Advokat, janganlah punya mindset menjadi Advokat untuk cari uang. “Kalau kita seperti itu maka kita berpotensi menjadi Machiavelli, menghalalkan segala cara. Di otak kita hanya uang terus,” tegasnya.

Mengabdikan ilmu yang dimilikinya di berbagai perguruan tinggi.
Menjadi Advokat berarti harus punya mindset menegakkan hukum dan keadilan.“Kami juga  ingin mewujudkan untuk jadi Advokat yang primus inter pares. Tunjukkan kualitas, kemampuan, kecerdasan, kepandaian kita dalam membela klien. Hukum harus menjadi acuan, harus ditegakkan, etika juga harus dikedepankan,” bebernya

Kelebihan lain Otto sebagai Advokat adalah selalu menjaga hubungan baik dengan klien, saling menghormati dan saling percaya.  Dirinya mengaku selalu konsisten dan loyal pada kesepakatan dengan klien.  “Kalau kita bisa mewujudkan itu semua maka harga kita pun akan naik, grade menjadi tinggi, nama baik jadi bagus. Dari mulut ke mulut. Setelah itu uang datang dengan sendirinya. Tetapi jangan juga menjadi budak klien. Jadi jangan karena klien mau bayar kita dengan mahal lalu kita ikuti maunya, apa dia omong dan perintah, kita ikuti. Melanggar hukum pun siap. Jangan begitu! Harus kuat, harus tahan. Untuk kuat dan tahan, harus bagaimana? Konsisten dan libatkan Tuhan!” tegasnya.


REJEKI TIDAK BISA DIKEJAR KARENA KAKINYA TIGA

Pencapaian paripurna di jenjang keilmuan hukum dengan menjadi Guru Besar Ilmu hukum Universitas Jayabaya.
Rejeki itu menurut Otto, tidak bisa dikejar. Mengapa?  Karena rejeki memiliki tiga kaki sedangkan manusia hanya memiliki dua kaki. “Rejeki akan mampir pada kita, tetapi semua tergantung pada kita sendiri dan kalau rejeki datang tentu kita tidak dapat menolaknya, ya kita harus terima. Harus ada pendirian seperti itu agar kita tidak menjadi rakus,” katanya.

Menurut dia,  banyak orang kerja keras tetapi belum tentu mendapatkan rejeki. Banyak orang yang kurang kerja keras tetapi banyak rejekinya. Ini rahasia Tuhan. “Menurut saya, selama orang bekerja keras asalkan bukan semata-mata untuk uang, lalu bekerja dengan tulus dan jujur, dengan kapasitas atau kemampuan intelektualitasnya, maka rejeki pasti datang dengan sendiri,” ungkap Otto dengan penuh keyakinan.

Berbuat baik, menurut Otto, juga wajib dilakukan seorang advokat, terutama untuk klien yang tidak mampu. Namun, berbuat baik untuk orang lain di luar klien, itu menjadi tantangan tersendiri.  “Berbuat baik itu harus pada siapa saja dan harus dilakukan dengan tulus. Jangan mengharapkan pamrih atau balas budi. Saya percaya, jika kita berbuat baik maka pasti akan mendatangkan kebaikan. Biasanya tidak langsung datang.” 

TIDAK RENDAH KARENA DIHINA DAN TIDAK TINGGI KARENA DIPUJI.

Prinsipnya, "Tidak Rendah karena Dihinda, Tidak Tinggi karena Dipuji"
Otto juga mengaku bukan tipe pendendam dan pembenci. Karena itu, dia selalu berusaha untuk tidak punya musuh. Setiap orang yang berbuat salah padanya, ia selalu mengampuni. Sebaliknya, jika Otto berbuat salah pada orang lain, maka ia selalu berusaha minta maaf.

“Kalau membenci dan bermusuhan dengan orang, itu menyusahkan diri sendiri. Boleh jadi rejeki itu jauh dari kita dan Tuhan sendiri membenci orang yang tidak mau mengampuni sesamanya, membenci sesamanya. Semua agama mengajarkan itu,” tandas Otto.

Untuk itu, jadilah orang yang rendah hati. Itu nasihat lain dari Otto kepada para advokat muda. “Saya tidak rendah karena dihina dan tidak tinggi karena dipuji”.  Pokoknya jangan sekali-sekali jadi orang sombong!”

Sementara itu, “cukup” dan “cukup” adalah kata yang selalu melekat di hati Otto. Barang siapa tidak pernah berkata cukup maka orang itu tidak akan pernah bahagia. Cukup yang dia maksudkan adalah cukup menurut ukuran Tuhan. “Kita mencari uang sama seperti minum air laut. Semakin diminum semakin haus. Berarti apatis dong? Tidak mau kerja? Ya bukan. Cukup menurut saya bukan berarti cukup dalam artian manusia. Cukup dalam pengertian Tuhan. Kalau Tuhan mengatakan, ‘hai Otto, kau cukup naik pesawat terbang, ya sudah.  Cukup. Atau saya cukup naik mobil Avanza, terima dengan senang hati. Ada orang yang tiba-tiba punya uang banyak sekali, lalu menggunakan uang dengan sesukanya tanpa kendali, foya-foya, narkoba hingga berbagai kenikmatan, lalu tiba-tiba mati. Bagaimana?”

Pria murah senyum ini menegaskan bahwa dirinya sudah diberi berkat oleh Tuhan. Apa yang telah ia dapatkan dari dunia advokat, sudah melampaui dari apa yang dibayangkan sebelumnya. Dengan tegas ia mengatakan, semua karena kemurahan Tuhan. Ia bahagia dengan keluarganya, dengan seorang istri dan empat orang anak dan lima cucu. Ia bersyukur kepada Tuhan dengan berbagai apa yang telah dimiliki.

Prof. Dr. Otto Hasibuan, SH, MM.
“Tetapi bukan berarti saya berhenti bekerja. Saya masih  harus terus aktif untuk bekerja, menjadi advokat dan melayani para pencari keadilan. Fokus saya, sekali lagi bukan uang, saya mencari kebahagiaan baik untuk diri sendiri, untuk keluarga dan untuk orang lain. Dengan harapan dapat menyenangkan hati Tuhan bukan berarti mengejar kebahagiaan tanpa uang. Uang untuk menggapai kebahagiaan memang perlu, namun semua ada porsinya. Walaupun misalnya saya cukup dari sisi materi, tetapi saya juga kan tidak terlalu bahagia dengan dunia advokat di Indonesia sekarang ini karena multibar. Ini mengganggu saya,” ungkapya.

Walau pernah memimpin Peradi, Otto rupanya masih diminta untuk memimpin organisasi itu. Konon, hampir semua Peradi di daerah menginginkan Otto kembali memimpin, karena mereka berharap permasalahan di Peradi jadi sangat kompleks dan dapat diselesaikan oleh Otto.

Sejak dari dulu Otto dikenal pemimpin yang suka turun ke daerah-daerah mengunjungi cabang-cabang termasuk cabang-cabang terpencil, menyapa anggota untuk mengetahui persoalan yang ada di daerah dan memberikan kuliah-kuliah umum. Hal itu telah dilakukannya dengan biaya sendiri dan sudah telah bertahun-tahun dan bukan karena adanya Munas sehingga ia dicintai oleh anggotanya di daerah-daerah.

DIMINTA JADI DUBES

Otto, pernah ditawari menjadi Dubes, tetapi waktu itu ia tidak dapat menerimanya, bukan karena tidak mau tetapi pada waktu itu PERADI sedang mengalami persoalan serius karena adanya perpecahan dengan KAI. Kalau saya terima jabatan Dubes, bagaimana nasib PERADI?

“Ini semua demi rasa cinta saya kepada PERADI. Bukan saya tidak mau jadi dubes, tetapi karena PERADI harus diselamatkan, ya saya tidak boleh tinggalkan,” katanya.

Sayangnya, hingga detik ini konflik itu belum selesai juga. Karena kondisi itu, teman-teman Otto banyak yang minta dia kembali jadi Ketua Umum PERADI. “Semua cabang minta saya jadi Ketua PERADI lagi.  Saya bilang, bagaimana saya harus kembali lagi. Ibarat petinju, saya sudah gantung sarung tinju lalu diminta naik ring lagi maka saya harus naik ring lagi,” tuturnya.


Otto Hasibuan pernah ditawari menjadi Duta Besar. Namun, karena cintanya pada PERADI, dia memilih untuk tetap di organisasi itu.
Dia juga merasa dirinya seperti dijatuhi beban dari atas. “Saya merasa matahari, bulan, bintang, bahkan langit, jatuh di pundak saya. Betapa beratnya menyelesaikan masalah PERADI sekarang ini. Mungkin bagi orang lain, mereka tidak peduli, hancur ya hancur saja.  Tetapi saya tidak.  Saya selalu berdoa untuk PERADI, untuk dunia Advokat Indonesia agar menjadi primus inter pares. Saya tidak tahu apakah orang lain berdoa untuk PERADI atau tidak?”

Otto juga mengaku sebenarnya telah lama ingin terjun ke dunia politik. Tetapi akhirnya urung terjun ke dunia politik lantaran rasa cinta dan rasa memiliki pada PERADI dan dunia Advokat. “Pak Hashim Djojohadikusumo (adik Menteri Pertahanan Prabowo Subianto), pernah dalam suatu diskusi di pesawat pribadinya kami terbang dari Jakarta ke Malang Pak Hashim lalu bilang, ‘Pak Otto, jangan salahkan jika banyak orang di dunia politik itu tidak berprilaku baik. Mengapa? Karena banyak orang yang sebenarnya baik tetapi tidak mau masuk politik!’ Dia menyindir saya juga. Ini memang fakta. Apakah nanti mau masuk politik? Biarkan saja seperti air mengalir.”

Pria berpenampilan perlente yang pernah belajar comparative law di University Technology of Sydney dan menyelesaikan program doktoral dari UGM dengan predikat cumlaude. Otto selalu mengenang dan terkesan pada saat dirinya diundang secara khusus bertemu Kaisar Hirohito dan Ratu di Tokyo, saat dirinya masih menjadi Ketua Umum PERADI.

“Ratu bertanya pada saya, ‘bagaimana Indonesia? Bagaimana PERADI?’ Ini kebanggaan saya sebagai orang PERADI. Bagaimana saya tidak bangga ya karena PERADI juga diketahui oleh kaisar dan ratu, jadi rupanya mereka ikuti perkembangan PERADI. PERADI itu kan Organisasi Advokat termuda di dunia,” kenang Otto yang populer sebagai pengacara Jessica Kumala Wongso pada 2016 dan peraih tokoh fenomenal dari RCTI.

Memang selama Otto menjadi Ketua Umum PERADI, organisasinya sangat bergengsi baik di dalam maupun di luar negeri bahkan banyak organisasi Advokat luar negeri studi banding ke PERADI antara lain Jepang, China, Iran, Vietnam dan lain-lain.(*)

REGENERASI KEPEMIMPINAN


Otto menjawab, regenerasi kepemimpinan berbeda dengan regenerasi jabatan kalau di ABRI atau pegawai negeri ada regenerasi jabatan kalau sudah umur 60 tahun maka selesailah jabatannya dan perlu regenertasi. Tetapi regenerasi kepemimpinan tidak mengenal usia dan tidak urut kacang.

Pemimpin itu dipilih oleh rakyat menurut kemampuannya dan pada zaman, kondisi, keadaan dan waktu yang tepat.

Seorang Pemimpin itu meskipun usianya sudah lanjut tetapi kalau rakyat membutuhkannya untuk kepentingan negara maka dia wajib mau untuk berbakti. Lihat Malaysia, Perdana Menteri Mahatir Muhammad sudah menjadi Perdana Menteri bertahun-tahun dan kemudian berhenti; tetapi setelah bertahun-tahun kemudian terjadi masalah ekonomi dan politik yang kacau di Malaysia termasuk masalah korupsi. Akhirnya rakyat memanggil dia kembali untuk memimpin Malaysia dan akhirnya dia terpilih di usia 94 tahun.

Demikian juga Presiden Amerika Franklin D. Rosevelt ia juga menjadi Presiden Amerika 4 periode, semua itu terjadi karena situasi Amerika pada waktu itu sedemikian rupa sehingga Franklin D. Rosevelt masih tetap dibutuhkan menjadi pemimpin untuk menyelamatkan keadaan ekonomi dan politik yang sedang kacau. Jadi intinya adalah pemimpin itu dibutuhkan karena situasi dan kondisi dan sesuai dengan kebutuhan tanpa isu regenerasi disana.
Karena sekali lagi regenerasi kepemimpinan berbeda dengan regenerasi jabatan.

KEPEMIMPINAN ORGANISASI ADVOKAT DI INDONESIA

Banyak yang meminta Otto Hasibuan untuk kembali memimpin PERADI.
Demikian juga dalam dunia Organisasi Advokat Indonesia, tahun 1980 Haryono Tjitro Subono adalah Ketua Umum PERADIN pada waktu itu namun tiba-tiba pada tahun 1985 pemerintah meminta semua organisasi advokat Indonesia bersatu dalam wadah tunggal “IKADIN”. Waktu itu dengan maksud agar organisasi advokat bisa dengan mudah dikontrol (pada waktu itu belum ada Undang-Undang Advokat).

Namun, waktu itu apa yang terjadi ternyata Haryono Tjitro Subono terpilih kembali menjadi Ketua IKADIN dan seterusnya dia menjadi Ketua IKADIN selama 3 kali berturut-turut. Jadi Haryono Tjitro Subono 4 kali menjabat sebagai Ketua Organisasi Advokat Indonesia tanpa ada yang mempersoalkan, dan tanpa ada isu regenerasi.

Hal itu bisa karena Haryono Tjitro Subono diminta kembali memimpin karena dialah tokoh yang kharismatik dan rajin turun ke daerah menyapa semua anggota-anggotanya di daerah dan berani berhadapan dengan Orde Baru.

Pada waktu itu banyak tokoh-tokoh advokat senior yang berpotensi menjadi ketua antara lain RO Tambunan, Maruli Simorangkir, Sukarjo, Adnan Buyung , Sujono dan lain-lain. Tetapi semuanya berbesar hati rela mendukung Haryono Tjitro Subono karena bagi mereka bukan siapa jadi ketua tetapi siapa ketua yang bisa menyelesaikan persoalan-persoalan advokat dan mengangkat martabat advokat.

Ini jugalah alasan dari teman-teman cabang IKADIN dan teman-teman cabang PERADI meminta dan mendesak saya untuk tampil kembali sebagai Ketua PERADI. Semua itu saya serahkan kepada kehendak Tuhan melalui Munas PERADI nanti.(Tim Penulis/DD)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.