Header Ads

https://daihatsu.co.id/

Insentif Diduga Disunat, Satpol PP Halteng Mengamuk di Kantor Bupati

Anggota Satpol PP memprotes belum dibayar dan disunatnya insentif lapangan bagi mereka yang jaga di check point Tim Gugus Tugas PP Covid-19, Senin (11/5/2020). Foto : Masdar Hi Ahmad.
Weda - Satuan Polisi Pamong Praja yang tergabung dalam Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng), Senin 11 Mei 2020, Pukul 12.30 WIT mengamuk di lantai dua Kantor Bupati Halmahera Tengah.

Pantauan media di depan Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP), terlihat sejumlah anggota Satpol PP berkumpul dan mengamuk karena merasa haknya dia
baikan dan diduga dipotong, padahal saat bertugas tidak mengenal lelah. Pasalnya, selama 24 jam berada di lokasi penjagaan portal kali Moreala Desa Wedana.

Amukan sejumlah anggota Satpol PP itu semakin tak terkendali, sehingga mereka menuju ke lantai dua untuk menanyakan kejelasan keterlambatan dan dugaan pemotongan insentif tersebut. Sampai dilantai dua sejumlah anggota satpol di sambut kepala badan (Kaban) Keuangan, Saiful Samad. Salah satu petugas Satpol PP, Robbo A. Gani kemudian menyampaikan keluhan mereka kepada Kaban Keuangan.

Robbo salah satu anggota Satpol PP menjelaskan sudah satu bulan  petugas yang melakukan penjagaan di Posko Penanganan Covid-19 yang berada di Desa Wedana belum mendapatkan insentif jaga.  Padahal, lanjut Robbo, insentif itu perminggu diterima dan pada awal minggu pertama mereka menerima, akan tetapi sekarang sudah memasuki satu bulan juga belum ada pembayaran sama sekali.

"Siang malam petugas selalu jaga sesuai dengan instruksi Pemerintah Kabupaten, tetapi kenapa honor petugas saja masih ditahan padahal anggaran Covid-19  sangat banyak," kesalnya.

Robbo juga mengatakan, insentif itu dihitung perhari Rp.150.000  sehingga perminggu satu kali terima insentif,  dengan harga Rp.1.050.000 per orang, tetapi setelah itu berkurang jadi Rp. 850,000.
"Sekarang katanya sudah tidak terima per minggu lagi, tapi per bulan baru terima sebanyak Rp. 2.000.000, tadi torang baru dengar info lagi katanya kurang jadi Rp. 1.750.000 per bulan,  baru yang tinggal di ruangan AC dapat Rp 2.000.000 (dua juta), sebenarnya ada apa," tandas.

Dia juga berharap,  kepada Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Halteng agar lebih memperhatikan petugas di lapangan. Ia menambahkan, apabila ada perubahan aturan untuk diinformasikan, agar mereka juga tahu. "Duduk santai makan minum sedap baru kita di lapangan makan hanya pisang bakar,  karena honor tidak pernah diberikan," cetusnya.

"Dia juga menambahkan, jadi kalau tidak ada kejelasan keterlambatan dan pemotongan, mereka saja (yang bertugas)," tutupnya. (DAR)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.