Header Ads

https://daihatsu.co.id/

Pemkot Tikep Dinilai Tidak Adil dalam Kebijakan Penutupan Wilayah

Motoris di Pelabuhan Rum kembali melakukan protes di Pelabuhan Penyeberangan Rum, Selasa (19/5/2020). Foto : Sukadi
TIDORE
- Langkah Pemerintah Kota Tidore Kepulauan (Tikep) untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus corona disease 2019 atau covid-19 dengan menutup pintu masuk dan keluar awalnya direspon baik oleh para motoris di Pelabuhan Penyeberangan Rum, Selasa (19/5/2020).

Penutupan pintu masuk dan keluar ini berlangsung sejak tanggal 14 -27 Mei 2020, dan hanya membuka akses penyeberangan ferry yang mengangkut logistik.

Beberapa hari ini aksi protes terus dilakukan oleh para motoris di Pelabuhan Penyeberangan Ferry. Sekitar pukul 08:00 WIT , Selasa (19/5/2020), motoris di Pelabuhan Rum kembali melakukan protes dan mengeluh atas kebijakan pemerintah daerah Kota Tidore Kepulauan yang terkesan hanya dinikmati oleh sesama pemerintah.

Pasalnya para motoris ini menilai bahwa aturan yang dibuat hanya diberlakukan untuk rakyat kecil saja, tetapi sesama pemerintah tidak berlaku, sehingga para motoris ini meminta agar kapal ferry tidak lagi mengangkut penumpang. Mereka (motoris) ini menilai bahwa surat keterangan sehat sebagai salah satu syarat untuk bepergian tidak menjamin kesehatan.

Ali menilai bahwa kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah daerah hanya berlaku dilintas pemerintah saja, sehingga menyengsarakan masyarakat kecil terutama berkaitan dengan pendapatan.

"Pemerintah bikin aturan, tapi pemerintah saja yang jalan, tapi rakyat ini cuma nonton, lama - lama tong bakar feery saja," kata Ali salah satu motoris.

Sehingga menurut Ali, kebijakan pemerintah daerah tersebut tidak adil dan menyengsarakan rakyat kecil. Aksi protes oleh para motoris ini berlangsung hingga terjadi adu mulut dengan salah satu petugas Dinas Perhubungan.

Dimana motoris ini mempertanyakan terkait dengan tujuan dilakukannya "lockdown", sehingga membatasi speedboad untuk berlayar. " Yang torang paham lockdown itu so tarada aktivitas, tapi ini ferry angkut penumpang pakai surat keterangan sehat, kalau begitu speed harus operasi lagi pakai keterangan sehat," tandas Ali.

Pernyataan Ali kemudian ditanggapi oleh salah satu petugas Dinas Perhubungan yang belum diketahui namanya, dia mengatakan bahwa pada tanggal 14 Mei memang dilakukan penutupan, namun pada tanggal 15 Mei 2020 semua akses perhubungan laut dibuka kembali dan melayani para penumpang harus melangkapi persyaratan yang sudah ditentukan untuk bepergian.

Penyampaian petugas Dinas Perhubungan, sontak ditanggapi oleh Ali. Menurut Ali, apa yang disampaikan itu tidak disosialisasi kepada para motoris.

"Ngoni bilang buka tanggal 15 Mei tapi torang tara tau karena ngoni tata sosialisasi, yang torang tau itu buka tanggal 28 Mei 2020,"ujarnya.

Para motoris ini kemudian membubarkan diri setelah kapal ferry KM.Gorango ini melepas tali dan bertolak menuju ke Kota Ternate yang hanya mengangkut mobil logistik.(LAK)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.