Header Ads

https://daihatsu.co.id/

Soal Tagihan Listrik Membengkak, PLN Akui Ada Penambahan Tagihan

EVP Corporate Communication and CSR PLN, I Made Suprateka.

Jakarta - Belakangan ini banyak masyarakat yang dibuat terkejut dengan tagihan listrik mereka. Seperti hanya Ibu Anisa di Bekasi. Memang pemakaian selama work from home (WFH) dan school from home (SFH) di masa pandemi covid-19 ini membuat konsumsi listrik meningkat, namun menurut prediksinya tak begitu melonjak seperti yang dialaminya pada bulan April lalu. Hal ini terasa sekali bagi pelanggan PLN paska bayar. Tagihan mereka di bulan April begitu melonjak drastik. Bila biasanya tiap bulan Bu Nisa itu hanya sekitar Rp.400.000-an, pada bulan April hingga Rp.1 jutaan.

Apabila dihitung secara logika, kenaikan konsumsi listrik di rumah tangga karena WFH dan SFH sekitar 30 persen. Seharusnya tagihan listriknya tidak membengkak 2 kali lipat seperti yang mereka alami pada tagihan bulan April. Mereka pun mengira, PLN mengail di air keruh. Mencoba mencari peruntungan di tengah pandemi dengan menaikkan tarif listrik diam-diam.

Terkait hal ini, EVP Corporate Communication and CSR PLN, I Made Suprateka menegaskan bahwa tidak ada kenaikan tarif listrik. Tapi diakui PLN, lanjutnya, ada tambahan tagihan listrik di bulan April. Sejak bulan Maret, PLN tak lagi mengirim petugas pencatat meteran ke lapangan untuk mencegah penyebaran virus corona.
Sebagai gantinya, PLN menagih sesuai rata-rata pemakaian pelanggan dalam 3 bulan terakhir. Tagihan untuk pemakaian listrik di bulan Maret sesuai dengan rata-rata pemakaian 3 bulan sebelumnya. Tapi dalam perkembangannya, PLN mengubah kebijakan itu.

Pemakaian listrik di Maret meningkat karena pembatasan sosial, artinya ada kelebihan pemakaian yang belum dibayar karena PLN hanya menagih sesuai rata-rata pemakaian 3 bulan terakhir ketika aktivitas masyarakat masih normal, belum ada PSBB. Kelebihan ini kemudian diakumulasikan PLN ke tagihan pemakaian bulan April.

Pada bulan April sendiri pun tagihan meningkat karena konsumsi listrik bertambah seiring dengan pemberlakuan PSBB. Oleh karena itu, tagihan listrik untuk bulan April jadi meningkat pesat. Pemakaian April sudah meningkat, lalu ditambah lagi ada sisa tagihan dari Maret.

"Misalnya rata-rata pemakaian sebulan 50 kWh, tapi kan sejak Maret itu orang mulai intensitas meninggi, sudah 70 kWh. Jadi real-nya konsumsi mereka 70 kWh tapi kita tagih 50 kWh berarti ada 20 kWh yang belum tertagih. Ini kita carry over ke April. Saat mereka pembayaran, itu ada yang 20 kWh terbawa ke tagihan Mei yang merupakan penggunaan April. Jadi itu 90 kWh. Di sana tercatat 90 kWh plus 20 kWh yang carry over bulan Maret. Jadi muncul tagihan 110 kWh seolah-olah tinggi. Ada konsumsi carry over 20 kWh di Maret dan ada peningkatan 40 kWh di April," papar I Made Suprateka dalam konferensi pers secara daring, Rabu (6/5).(AR/KM)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.