Header Ads

https://daihatsu.co.id/

Kenangan Rekomendasi Covid-19

Oleh : Aboebakar Noerdin
(Ketua DPD Partai Perindo Kota Tidore Kepulauan)

Di awal April kita dikejutkan dengan prediksi oleh seorang Guru Besar Epidemologi Universitas Hasanudin Makasar, Prof. Ridwan Amirudin, bahwa dipertengan Juni 2020 nanti jumlah pasien yang terpapar Covid 19 di Maluku Utara mencapai 574 kasus positif. Pada hal kala itu jumlah pasien yang positif di Maluku Utara baru 2 orang.

Saat itu mungkin kita menganggap remeh prediksi tersebut, karena baru 2 orang yang terkonfirmasi positif Covid 19, tetapi Ridwan telah membuat pertimbangan kepada pemerintah agar rumah sakit rujukan segera menyiapkan 83 – 100 bed, 24 ruangan ICU dan 16 ventilator untuk mengantisipasi lonjakan kasus baru. Bayangkan, hanya dengan 2 kasus positif, Ridwan merekomendasikan hal penting di atas. Lalu bagaimana dengan jumlah kasus yang sudah terkonfirmasi positif sebanyak ini. Mengerikan, sangat mengerikan

Satu rekomendsi penting lainnya adalah mewajibkan seluruh petugas rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat agar menggunkan Alat Pelindung Diri (APD)

Prediksi Ketua Umum Persakmi ini hampir tak pernah meleset jika kita melihat perkembangan kasus positif di Maluku Utara saat ini. Sampai hari kemarin, Minggu (14/06) jumlah orang yang tertular di Maluku Utara sudah mencapai 310 yang positif. Jumlah itu belum dihitung dengan 100 lebih orang yang antri menunggu hasil SWAB di lab Manado

Trend kasus yang terus meningkat ini tentu membutuhkan penanganan yang lebih serius dari kita semua. Membiarkan kasus ini terus berkembang sama halnya dengan membiarkan derita dan kematian yang makin berkepanjangan. Kebijakan membuka akses keluar masuk dan membiarkan semua orang masuk di Maluku Utara, sama halnya dengan membiarkan dan memilihara terus virus ini berkembang.

Padahal, dalam pertemuan dengan Guru Besar Epidemologi ini turut pula dihadiri oleh seluruh Kepala Daerah dan Tim Gugus Se - Maluku Utara. Bukankah dalam pertemuan tersebut Ridwan telah menegaskan bahwa untuk menghentikan penularan kasus baru salah satunya penanganan dini adalah melaksanakan intervensi skala menengah dengan karantina pulau serta melaksanakan screning  secara massive/tracing kasus untuk memutus rantai penularan

Jika kita memperhatikan rekomendasi yang disampaikan itu, pantas jika hari ini publik terus bertanya tentang keseriusan pemerintah di Maluku Utara dalam menangani wabah ini. Hanya beberapa kabupaten kota saja yang terlihat serius dan fokus pada penanganannya. Kabupaten Pulau Morotai misalnya, terlihat begitu serius melakukan penanganan itu dengan melakukan karantina secara ketat. Kota Tidore Kepulauan, Kabupaten Halmahera Tengah, Halmahera Utara dan Halmahera Selatan, sempat menutup daerahnya selama 14 hari. Sayangnya, itu tak lagi diteruskan ketika wabah ini terus meningkat. Sementara Kota Ternate yang merupakan penyumbang “kontribusi” terbesar kasus ini membiarkan orang keluar dan masuk di Maluku Utara dengan bebas. Padahal Ternate merupakan pintu utama Maluku Utara. Kita terlihat “miskin” kordinasi antar kabupaten kota dan tak terlihat serius bersatu melawan virus ini.

Kini kita diperhadapkan dengan era baru, era new normal. Penanganan wabah dikembalikan pada setiap personal untuk mematuhi protokol kesehatan. Negara terlihat kalah dan mengibarkan “bendera putih” memerangi virus ini. Hampir seluruh wilayah di Indonesia telah membuka akses keluar masuk, sementara perkembangan virus ini makin hari makin meningkat. Puluhan bahkan ratusan milyar dana yang telah dikucurkan untuk melakukan penanganan dan pencegahan akan terlihat sia-sia. Kita menyerah diwaktu yang tidak tepat

Disaat genting dan darurat seperti ini kita membutuhkan pihak yang berkompeten dan mengerti benar masalahnya. Hilangkan ego masing-masing. Kita butuh kerja sama, bersatu, bahu membahu saling mendukung untuk menyelesaikan masalah ini. Sudah cukup luka dan derita yang dialami oleh kita semua, mereka yang terpapar dan meninggal dunia, meninggalkan duka yang mendalam dan kesedihan yang berkepanjangan. Sudahi duka ini dengan komitmen dan penanganan yang jelas, terarah dan terukur.  Hapuslah air mata keluarga yang ditinggalkan dengan santunan kebijakan, tak hanya pada bantuan beras, gula, kopi telur, minyak goreng atau uang tunai, tetapi lebih diarahkan pada tindakan dan kebijakan yang fokus untuk mencegah penyebaran virus ini. Ekonomi bisa tumbuh dan berkembang, tetapi derita dan nyawa rakyat yang hilang tak bisa tergantikan. Semoga kita semua diberikan umur yang panjang, sehat selalu dan dijauhkan dari wabah ini.(*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.