Header Ads

https://daihatsu.co.id/

Pembangunan Waduk Irigasi di Desa Margomulyo Pati Dikeluhkan Petani

Bangunan Waduk di Desa Margomulyo, Tayu, Pati, Jawa Tengah, yang dikeluhkan petani. Foto : Wisnu.
Pati
- Masyarakat Desa Margomulyo, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah menyesalkan pernyataan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Faizal yang menganggap pekerjaan waduk irigasi yang dibangun di Desa Margomulyo itu sudah sesuai spesifikasi teknisnya.

Proyek irigasi yang dibangun tahun 2019 dengan anggaran Rp 680 juta lebih oleh CV. Hanandita Utama justru dianggap merugikan masyarakat petani lantaran untuk pengerjaannya tidak sesuai teknis.

Kusnan salah satu petani warga Desa Margomulyo kepada wartawan, Selasa (9/6), mengaku sebelum dilakukan pekerjaan dari pihak rekanan sudah menemui kelompok tani di sekitar waduk irigasi, dan sesuai pernyataan petani mangatakan apabila waduk itu dibangun harus lebih tinggi dengan kadar air ketika terjadi pasang.

Selain itu, lanjut Kusnan, sampah dan lumpur juga tidak mengendap, tapi yang terjadi ternyata untuk pembangunannya lebih rendah yang mengakibatkan sampah serta lumpur mengendap di sekitar waduk, bahkan ketika air laut pasang langsung masuk ke sawah warga."Air laut kalau pasang pada masa atau musim ke 8 atau 9, ketinggiannya mencapai 30 sampai 40 cm, dan air langsung masuk ke sawah warga, dan mengakibatkan tanaman yang ada banyak yang mati atau pertumbuhannya kurang bagus," kata Kusnan, Selasa (9/6/2020).

Menurutnya, sawah yang terkena dampak air asin ketika air laut pasang ada sekitar puluhan hektar dan para petani yang terkena dampaknya dipastikan akan gagal panen lantaran tanamnnya banyak yang mati.

"Kalau dihitung 1 hektare itu kerugiannya sekitar Rp 15 juta, tapi kalau sampai puluhan hektare, kerugian bisa mencapai ratusan juta, karena petani dipastikan gagal panen akibat terdampak air laut ketika pasang," ungkap Kusnan.

Para petani berharap agar dilakukan pembenahan dalam pekerjaan proyek irigasi tersebut, karena percuma dibangun apabila itu merugikan masyarakat petani yang memiliki sawah di sekitar waduk irigasi. Apalagi dalam pekerjaan yang dilakukan dianggap tidak maksimal lantaran pintu air yang ada itu dibuat swadaya oleh masyarakat.

"Kami menduga pasti ada penyimpangan dalam pekerjaan proyek itu, coba suruh Kejaksaan cek dan ukur volumenya, pasti tidak jelas, karena untuk pintu air saja tidak ada, dan masyarakat yang buat, dan saat ini masyarakat berinisiatif untuk iuran meninggikan waduk itu, agar air ketika pasang tidak bisa naik. Namun para petani ini ada yang mau dan ada yang tidak," jelas warga lain yang namanya tidak  mau disebutkan.

Sebelumnya, Kepala DPUTR A. Faizal ketika dikonfirmasi mengaku bahwa proyek irigasi yang dibuat di Desa Margomulyo itu sudah sesuai teknis dan proyek itu dibuat tidak untuk membendung air pasang, namun dibuat supaya air bisa mengalir ke lahan warga sesuai permintaan dari P3A.

"Memang sesuai teknis begitu, kalaupun ada yang tidak suka itu hanya 1 atau 2 orang saja, karena irigasi itu dibuat untuk membendung air pasang, dan itu sudah sesuai permintaan dari P3A, sebab kalau ditinggikan lagi dikawatirkan air bisa masuk. Jadi teknisnya seperti itu, dan saya sudah tanyakan ke bidang," ujar A. Faizal saat itu.(WIS)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.