Header Ads

https://daihatsu.co.id/

Pemkab Kepsul Terjunkan Alat Berat di Daerah Bencana

Sekda Kepsul, Syafrudin Sapsuha, Asisten I, Hi.Umar Umabaihi, Kadis PUPRPKP, Nursale Baenuru saat berkoordinasi dengan Kepala Desa Waitina Sirajudin Umasangadji. Foto : Ekhy Drakel.
SANANA
- Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul), Senin (06/07/2020), telah menerjunkan alat berat ke lokasi bencana banjir di Desa Mangoli Kecamatan Mangoli Tengah dan Desa Waitina Kecamatan Mangoli Timur.

Sejumlah alat berat tersebut, Selasa (7/7) besok akan beroperasi untuk menormaliasi air kali Waigafu di Desa Waitina yang menjadi sumber bencana banjir di desa tersebut.

Selain menormalisasi air kali Waigafu, sejumlah alat berat itu juga akan beroprasi membuat saluran di Desa Mangoli.

Pantauan Bizlawnews di lokasi bencana banjir di Desa Waitina, terlihat Sektertaris Daerah (Sekda) Syafrudin Sapsuha dan Asisten I Bidang Pemerintahan Pemda Kepsul,  Hi. Umar Umabaihi dan Ketua DPRD Kepsul Sinaryo Thes telah bertemu langsung dengan Kepala Desa Waitina Sirajudin Umasangaji untuk membahas rencana menormaliasi air kali Waigafu besok nanti.

Rencana normalisasi air kali Waigafu yang masih dalam tahapan pembahasan antara Pemerintah Daerah dan Kepala Desa setempat siang tadi dikarenakan ada banyak tanaman warga berupa kelapa yang ada di seputaran air kali Waigafu. Apabila normalisasi dilakukan, maka tanaman warga tersebut akan terkena dampaknya.

Dari hasil pertemuan tersebut akan ditindaklanjuti oleh Kepala Desa Sirajudin Umasangaji untuk dibahas bersama dengan masyarakat yang mempunyai tanaman kelapa yang berada di pinggiran air kali Waigafu.

Sejumlah Alat berat yang di berangkatkan dari Pelabuhan Ferry Waikalopa Kecamatan Sanana menuju ke Lokasi Bencana Banjir di Pulau Mangoli
Kepala Desa Siarajudin Umasangaji ketika diwawancara Bizlawnews, mengatakan bahwa, terkait dengan pekerjaan normalisasi air kali Waigafu, malam ini, pihak Pemerintah Desa dan seluruh pemangku jabatan di Desa Waitina serta Pemerinta Kecamatan akan berupaya semaksimal mungkin untuk berkoordinasi dan berkonsultasi dengan sejumlah warga yang mempunyai kebun di seputaran air kali Waigafu.

Demi keselamatan 222 Kepala Keluarga, lanjut Siarajudin, pihaknya akan berkoordinasi dengan warga pemilik kebun agar besok air kali Waigafu harus dinormalisasi.

Ia meandaskan, kalaupun dalam normaliasi dan ada warga pemilik kebun yang menghambat di lapangan, maka Pemerinta Desa akan memberi satu pilihan. Pilihan itu, apabila normaliasi tidak bisa berjalan maka pemilik kebun yang akan bertanggungjawab atas banjir yang akan datang.

"Pilihan tersebut kita akan buat dalam pernyataan tertulis dan dibubuhi meterai Rp6000 agar memperkuat dari sisi hukum," tandasnya. (EDL)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.