Header Ads

https://daihatsu.co.id/

Proyek Gorong-gorong dan Jembatan Sarani Payahe di Kota Tikep Disoal Warga karena Khawatir Dapat Merusak Lingkungan

Pengerukan material proyek di bibir pantai dikhawatirkan dapat merusak lingkungan dan menyebabkan abrasi. Foto : Sukardi Hi Ahmad. 
Payahe - Pekerjaan proyek, di Kelurahan Payahe, Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara, yang bersumber dari Anggaran Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang (DPUPR) disoal warga.

Pasalanya, pengerjaan proyek tersebut diduga dapat menjadi penyebab kerusakan lingkungan di Pantai Payahe. Proyek dengan nomenklatur sebagaimana tertulis di papan nama proyek, Pekerjaan Pembangunan Jembatan Gorong-gorong - Jembatan Sarani Payahe, memiliki Nilai Kontrak Rp6.770.524.000,- dengan SPK 621/6/PPK/SPMK-PM-K/12/202. Proyek itu bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Tikep dengan waktu pelaksana pekerjaan selama 180 hari Kalender Pelaksana PT. Antabatic Timur Nusantara.

Masyarakat di sekitar proyek melihat, pihak kontraktor diduga akan mengumpulkan material proyek berupa pasir di bibir Pantai Payahe dengan menggunakan alat berat eskavator. Pengumpulan material di bibir pantai ini dengan menggunakan eskavator inilah yang dipersoalkan warga.

Warga menilai, pengumpulan material proyek di bibir pantai itu bisa merusak pantai dan dapat menyebabkan abrasi. Seharusnya, menurut salah satu warga Desa Payahe yang namanya tidak mau disebutkan, kontraktor menggunakan material di tempat lain. Menurutnya, sudah diperhitungkan biaya penggunaan material apabila ditempatkan di tempat lain.

Penempatan material di bibir pantai inilah yang dipersoalkan warga Payahe. Foto : Sukardi Hi Ahmad. 
Berdasarkan pantauan wartawan di lokasi proyek Selasa (14/7) sekitar pukul 12.34 WIT, material pasir sudah dikeruk pekerja proyek dengan menggunakan eskavator. Pengerukan material menggunakan eskavator di bibir pantai dan dekat dengan perumahan warga ini diduga dapat menyebabkan rusaknya lingkungan pesisir pantai.

Menurut warga, apabila penimbunan dan pengerukan material proyek terus dilakukan di bibir pantai, maka dapat berdampak buruk ke rumah warga yang berada di dekat lokasi proyek. Hal itu dikarenakan akan dapat menyebabkan abrasi, apalagi lokasi proyek berada di dataran rendah sehingga apabila pasang maka dapat terjadi abrasi.

Ketika wartawan menanyakan kepada sejumlah pekerja proyek di lokasi proyek, mereka mengatakan pasir mereka keruk menggunakan alat berat itu merupakan perintah kontraktor.

"Matrial pasir yang dikumpulkan menggunakan alat berat, karena perintah bos. Kami tidak mungkin berkerja tanpa perintah bos," ungkap salah satu pekerjaan namanya tidak mau diketahui.

Wartawan media ini sudah mencoba untuk mengkonfirmasi ke pihak kontraktor. Namun, hingga informasi ini diturunkan masih belum dapat menemuinya pimpinan kontraktor di proyek itu.(Sukardi Hi Ahmad)

1 komentar:

  1. Warga yg ada di kampung sarani payahe tdk mempersoalkan hal ini.jadi sebelum membuat berita,wawancarai dulu warga kampung sarani.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.