Header Ads

https://daihatsu.co.id/

Tak Kunjung Mendapatkan Nomor Antrian, Sopir Angkutan Umum di Kecamatan Oba Protes dan Minta Uang Pendataran Dikembalikan

Sopir angkutan umum di Kecamatan Oba merasa diperlakukan tidak adil oleh Organda Sofifi. Foto : Sukadi Hi Ahmad. 
Tidore - Pandemi covid-19 masih mendera negeri ini. Dampaknya begitu dirasakan hingga kini. Sungguh berat beban ekonomi masyarakat. Terlebih bagi mereka yang bekerja di jalur informal.

Sektor jasa angkutan umum begitu merasakan kondisi ini. Tak tekecuali di Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara.

Di tengah himpitan ekonomi itu, masih saja ada yang mengail di air keruh. Ada persoalan yang mendera sopir angkutan umum di Kecamatan Oba.

Para sopir angkutan merasa Organda Sofifi, memperlakukan sopir Kecamatan Oba dengan tak adil. Para sopir angkutan Kecamatan Oba sudah mendaftar untuk dapat nomor antrian di Terminal Pelabuhan Sofifi. Apalah daya, bukannya mereka yang mendapatkan antrian melainkan para sopir yang bukan dari Kecamatan Oba. 

Mereka kecewa. Hal itu seperti diungkapkan Ketua Organisasi Sopir di Kecamatan Oba, Isnaini Tawari. Ia menandaskan, seharusnya Organda Sofifi memperhatikan kebutuhan anggota, terutama pada saat anggota melakukan aktivitas di terminal. Harapan mereka tinggal harapan. Mereka tak jua mendapatkan nomor antrian.

Isnaini pun mengatakan, bila mereka tak kunjung mendapat nomor antrian, seharusnya uang pendaftaran para sopir di Kecamatan Oba itu dikembalikan. 

Isnaini Tawari menambahkan, tidak semua sopir angkutan umum yang melakukan aktivitas di Pelabuhan Sofifi, karena para angkutan umum yang melakukan aktivitas keseharian harus mendaftarkan diri sebagai anggota Organda Pelabuhan Sofifi, sehingga sopir dari Kecanatan Oba tidak diwajibkan perkir dalam area terminal. 

"Persyaratan menjadi angota Organda Sofifi itu harus mengeluarkan dana sebesar Rp 3.000.000 untuk mengdaftarkan diri anggoat organda," ungkap Ketua Organda Kecamatan Oba Isnaini Tawari. 

Hingga saat ini, lanjut Isnaini, puluhan sopir angkutan umum yang berasal dari Kecamatan Oba sudah mendaftarkan ke Organda Sofifi meskipun pendaftaran dengan cara menyicil. Meskipun sudah membayarnya, hingga saat ini pihak Organda Sofifi tidak pernah meyerahkan penumpang kepada sopir dari Kecamatan Oba yang sudah mendaftarkan sebagi angota organda. 

"Kami menilai pihak Organda Sofifi memperlakukan ketidakadilan terhadap sopir yang berasal dari Kecamatan Oba, karena selama mendaftar menjadi anggota organda, belum pernah diberikan penumpang seperti sopir-sopir yang berasal dari luar Kecamatan Oba," tukas Isnaini.

Ia pun merasa aneh. Proses pembayaran uang pendaftaran yang dilakukan oleh puluhan sopir yang berasal dari Kecamatan Oba, tidak mendapatkan kuitansi sebagai bukti pembayaran. Mereka hanya mendapatkan logo Organda saja.

"Seharusnya pembayaran uang pendaftaran harus diserai dengan kuitansi sebagi bukti, namun yang terjadi tidak mengunakan kuitansi," ungkapnya. 

Ia pun menambahkan, puluhan sopir angkutan umum yang suda mendaftar ke Organda Sofifi meminta agar uang pendaftaran yang sudah diserahkan ke Organda Sofifi dikembalikan. Mereka beralasan, selama mendaftar sebagai Organda Sofifi belum pernah menerima nomor antrian penumpang. 

"Sejak menjadi angota Organda Sofifi, kami belum pernah mendapat nomor antrian penumpang. Untuk itu kami meminta agar Ketua Organda Sofifi mengembalikan uang pendaftaran," tandasnya. 

Isnaini menambahkan, Organda Kecamatan Oba, menyerahkan sepenuhnya kondisi yang dialami sopir angkutan umum di Kecamatan Oba itu terhadap para sopir. Ia juga mengatakan, pihaknya melaksanakan koordinasi dengan Organda Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng) terkait dengan sopir Kecamatan Oba, melakukan satu pangkalan di Kelurahan Payahe, dengan tujuan melakukan pembagian rejeki.

"Setalah dilakukan koordinasi dengan pihak organda Hamahera Tengah (Halteng), pihak sopir Oba juga melakukan koordinasi dengan Organda Sofifi, dan hasil koordinasi pihak Organda Sofifi merespon keinginan para sopir Kecamatan Oba dengan baik," tambah Isnaini.

Setalah melakukan koordinasi dengan Organda Hateng dan Organda Sofifi, pihak sopir Kecamatan Oba dengan cepat menemui Pemerintah Kota dalam hal ini Wakil Wali Kota. 

Setelah melakukan koordinasi antara sopir Kecamatan Oba dengan Pemerintah Kota Tikep, pada Juni 2020 lalu, Walik Wali Kota menemui mereka di Kelurahan Payahe. Bahkan Dinas Perhubungan Provinsi Maluku Utara juga sudah meninjau langsung serta menemui para sopir.

Rupanya terjadi kesalahpahaman dalam pertemuan itu. Imbasnya, mereka memblokade jalan di Desa Lola Kota Tidore. Akhirnya Pemerintah Provinsi Maluku Utara mengundang Organda Sofifi, Organda Oba dan juga Organda Halteng, untuk membahas jalur Payahe - Weda dan Weda - Sofifi. Pertemuan itu juga dihadiri Dinas Perhubungan Kota Tidore Kepulauan, Pemerintah Kabupaten Halteng dan unsur Muspida lainnya. 

Dalam pertemuan yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan Provinsi Maluku Utara itu, yang juga dihadiri Dinas Perhubungan Kota Tikep. Ternyata, pertemuan itu tidak membahas sopir Kecamatan Oba dalam melakukan aktivitas di terminal transit. Para sopir itu pun kecewa. Mereka menilai Pemerintah Kota Tidore terkesahan tidak memikirkan nasip masyarakat.(LAK)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.