Header Ads

https://daihatsu.co.id/

Ruas Jalan Payahe - Dahepodo Rusak Parah, Butuh Keseriusan Pemkot Tikep Memperbaikinya

Kondisi Jalan Ruas Payahe-Dahepodo rusak parah dan berlumpur. Jalan ini merupaken akses masyarakat di Kecamatan Oba Selatan. 

Tidore
- Infastruktur merupakan salah satu motor penggerak ekonomi. Bila infrastruktur rusak, laju perkembangan ekonomi pun terkendala. 

Biasanya, menjelang hajatan demokrasi atau biasa disebut pemilihan umum, setiap pihak yang ingin dipilih berlomba-lomba menebar janji akan memperbaiki taraf kehidupan rakyat. Mereka seolah akan menjadi pelayan rakyat paling wahid. Tak jarang, ketika hajatan demokrasi sudah usai, mereka duduk di kursi empuk yang diinginkannya. Janji itu terlewati. Malahan lupa. 

Miris memang. Betapa rakyat yang harusnya sudah sejahtera menikmati realisasi janji-janji itu, terpaksa harus kembali mendengarkan janji kembali yang meninabobokannya. 

Tak lama lagi pemilihan kepala daerah akan menjelang. Siap-siap rakyat mendengar janji dan rayuan dari pihak yang ingin didapuk di kursi kekuasaan. Hajat hidup orang banyak tetap masih merana dan belum juga ada perkembangan yang berarti. 

Salah satu yang seharusnya diperhatikan adalah infrastruktur jalan di daerah. Ambil contoh saja di Kota Tidore Kepulauan (Tikep), Provinsi Maluku Utara (Malut). Di sana, tepatnya di ruas jalan Payahe-Dahepodo di Kecamatan Oba Selatan, pada segmen Selamalofo sampai Nuku, jalanannya rusak bak kubangan kerbau. 

Masyarakat sudah berteriak akan kondisi jalan itu. Apadaya, teriakan mereka seolah hilang ditelan bumi. Hingga tulisan ini diturunkan, belum ada tanda-tanda perbaikan infrastruktur jalan di sana. Pemerintah Kota Tidore Kepualauan (Tikep) tak jua memperbaikinya lantaran status jalan itu sebagai jalan provinsi. Meskipun mereka mendengar teriakan masyarakat, dengan alibi status jalan itu jalan provinsi, kondisi jalan itu seolah menjadi tontonan. 

Apabila stutus jalan itu merupakan jalan provinsi, bukankah Pemerintah Kota Tikep bisa berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Maluku Utara untuk mempercepat pembangunan jalan tersebut. Sudah lama masyarakat mendambakan, pemerintahan yang cepat tanggap terhadap keadaan sekelilingnya bukan birokrasi yang dipertontonkannya.

Rusli M. Zen, seorang Praktisi Teknik dari  Kecamatan Oba, turut serta menyoroti hal tersebut. Ia berpandangan, “Seharusnya jalan di Kecamatan Oba Selatan menjadi pusat perhatian penuh Pemerintah Kota Tidore Kepulauan dalam hal ini dinas terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bidang Binamarga dan Bappeda. Meski berstatus sebagai jalan Provinsi, harusnya ada langkah trobosan dari Pemkot Tikep untuk mendorong agar ada sentuhan pembangunan dan ini bisa dianggap sebagai bukti ketidakseriusan Pemerintah Kota Tikep dalam menanggapi keluhan masyarakat Oba Selatan. Seharusnya Pemkot memperjuangakan hal tersebut di hadapan Pemprov.”

Lebih lanjut ia mengatakan, lepas dari segala interpretasi di tengah aroma politik Pilkada yang menyengat, semua pihak harus berani mengatakan ini adalah murni kesalahan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan. Karena tidak menunjukan upaya serius dalam memperjuangkan infrastruktur jalan Oba Selatan. Jalanan itu sebagai akses penghubung. Dengan kondisi yang rusak itu berarti masyarakat pun menjadi terganggu. 

Ia menambahkan, apabila anggaran Pemprov Malut tidak sanggup membiayai perbaikan jalan di Oba Selatan itu, seharusnya Pemprov dan Pemkot Tikep berkoordinasi bagaimana jalan keluar untuk memperbaikinya.Apalagi masyarakat sudah berulang kali menyuarakan agar segera diperbaiki, seyogianya mereka menganggarkan perbaikan jalan di Oba Selatan itu.

Pada tahun 2019 pernah dilakukan penimbulan material lokal setempat (sirtu). Cara ini dinilai kurang tepat, karena kondisi tanah yang tidak stabil. Lantara hal itulah, perlu upaya komprehensif dengan menyesuaikan kondisi tanah di sana.  

Rusli M. Zen berpandangan, dalam pekerjaan konstruksi jalan raya pengerjaan harus didasari pada kondisi tanah di sana. Apabila hanya langsung ditimbun sirtu tanpa memperbaiki kondisi tanah dasar, maka akan cepat rusak kembali lantaran tanah dasarnya berlumpur. (LAK)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.