Header Ads

https://daihatsu.co.id/

Bendungan Margomulyo Pati Tak Juga Dibenahi, Petani Merasa Dirugikan

Bendungan di Desa Margomulyo, KecamatanTayu, Kabupaten Pati dibangun tidak sesuai spesifikasi. Paletani mengaku dirugikan. Dinas terkait belum juga merehabilitasi waduk itu.

Pati 
- Proyek pembangunan bendung irigasi di Desa Margomulyo, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang dinilai mubazir dan merugikan masyarakat petani nampaknya belum ada tindak lanjut dari Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) setempat.

Dinas terkait dinilai acuh dan ngotot lantaran belum ada upaya untuk memperbaiki meskipun sesuai janji sebelumnya akan diperbaiki lantaran proyek yang nilainya ratusan juta itu dianggap tidak sesuai teknis oleh petani sekitar.

"Sesuai teknis sudah memenuhi syarat, karena fungsinya untuk menaikkan air di irigasi, apabila ada masyarakat menganggap itu kurang tinggi dan air melompat, karena fungsinya bukan itu, bukan untuk pertanian," ungkap Kepala Bidang SDA DPUTR Kabupaten Pati Sudarno beberapa waktu lalu. 

Menurutnya, apabila warga menghendaki untuk aliran sawah, maka hal itu akan dipikirkan lagi, karena proyek itu dikerjakan apabila terjadi banjir, justru akan menghalangi aliran air.

"Memang fungsinya bukan untuk aliran sawah, namun aliran irigasi," katanya. 

Disinggung soal pembangunan bendung irigasi yang tidak menguntungkan petani, bahkan dalam pembangunannya juga tidak dirapatkan dengan petani, Sudarno membantah, bahwa sebelum mengerjakan proyek tersebut sudah dirapatkan dulu melalui P3A, dan melibatkan petani disekitar bendung irigasi tersebut.

"Petani maunya bagaimana, kalau memang dianggap belum sesuai, coba nanti akan dikomunikasikan dengan teman-teman di lapangan, dan kelompok petani melalui P3A, jadi maunya bagaimana. Apabila dianggap tidak ada tindak lanjut itu salah besar, karena kita sudah pernah kesana (Desa Margomulyo, red)," katanya. 

Sudarno mengaku apabila itu menjadi permasalahan petani untuk meninggikan, nanti akan dikomunikasikan dulu dengan P3A, apabila layak untuk direhab dan diusulkan anggarannya, maka akan diusulkan. Hanya saja kalau itu berpengaruh bila terjadi banjir, maka jangan salahkan dinas.

"Apabila harus diusulkan tahun 2021, mungkin belum bisa, kemungkinan 2022, kalaupun di perubahan, kita belum tahu, namun nanti kita coba dulu, yang jelas prinsip kami untuk kesejahteraan petani," ujarnya. 

Sekedar diketahui, proyek irigasi yang dibangun tahun 2019 dengan anggaran Rp 680 juta lebih oleh CV. Hanandita Utama dalam pekerjaannya dianggap tidak sesuai teknis. Masyarakat tani menilai ada kesalahan teknis dalam pekerjaan waduk yang dibuat. Hal itu terlihat dari pintu air yang dibuat terlalu rendah, sehingga ketika terjadi air pasang mengakibatkan air dari laut lebih tinggi dari batas pintu air. Selain itu, kesalahan lainnya terlihat dari jarak waduk yang dibuat terlalu lebar, sehingga itu berpengaruh pada sampah-sampah pembuangan yang menyumbat pada tanggul.

"Aliran air laut tiap kali pasang, selalu mengalir ke sawah petani, sehingga mengakibatkan gagal panen dan karena tanaman mati akibat air pasang,"ungkap Kusnan beberapa waktu lalu. 

Informasi yang dihimpun, proyek itu juga sudah dicek pihak kejaksaan, namun hingga kini masih belum ada tindak lanjutnya. (WIS)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.