Header Ads

https://bizlawnews.id/

Akhirnya, Satu Tersangka Kasus Arisan Online Ditangkap Kejari Pati

 

Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Pati Firman Wahyu. Foto : Wisnu.

PATI- Widia (26) atau W warga Desa Tegalombo Kecamatan Dukuhseti Kabupaten Pati Jawa Tengah akhirnya dijebloskan ke Lapas Kelas IIB Pati, atas perkara dugaan penipuan jual beli arisan online. Pelaku digelandang ke LP dari Kejaksaan dengan memakai rompi merah dengan muka tertutup masker dan dikawal tim dari kejaksaan. 

"Ini masih perkara jual beli arisan, sedangkan untuk perkara arisan online masih ditangani oleh penyidik Polres Pati," ungkap Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum) Kejari Pati Firman Wahyu kepada sejumlah wartawan di halaman kantor Kejari Pati Rabu (14/4/2021).

Menurutnya, Baru W yang saat ini ditahan, hanya saja sesuai keterangannya menyebutkan bahwa masih ada pelaku lain yang saat ini kabur, dan menjadi tokoh utama dalam pengelolaan arisan online.

"Kalau hasil keterangannya, W ini hanya penyambung lidah, dan menjual arisan kepada 3 pelaku, dan disitu W mendapatkan fee Rp 100 ribu, hanya saja dari keterangannya itu kita lihat hasilnya di persidangan," ujarnya. 

Ibu-ibu yang menjadi korban arisan online mengharapkan dana mereka bisa kembali. Foto : Wisnu.

Sesuai informasi, jual beli arisan online ini sudah dilaporkan ke Polres Pati sejak satu tahun lalu, sehingga diharapkan jangan ada lagi korban-korban selanjutnya.

"Untuk kerugiannya Rp 56 juta, dan pelaku melanggar pasal 378 juncto 64, tentang penipuan dengan berkelanjutan dengan ancaman pidana 5 tahun kurungan," tegasnya. 

Ditempat yang sama, Sukma salah satu korban jual beli arisan online meminta kepada aparat penegak hukum khususnya Kejaksaan dan Pengadilan Negeri Pati untuk memberikan sanksi yang seberat-beratnya kepada pelaku, karena atas tindakannya sudah merugikan banyak orang. 

"Semoga pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal," katanya. 

W pelaku yang diduga hanya menjadi perantara jual beli arisan online digelandang ke Kejaksaan Negeri Pati. Foto : Wisnu.

Disinggung soal kerugian yang hanya Rp 56 juta, Sukma mengaku bahwa yang dilaporkan hanya 3 orang, sementara korban 50 orang lebih, dengan kerugian mencapai ratusan juta."Itu baru 3 orang yang dilaporkan, sehingga kerugiannya hanya Rp 56 juta, sementara korbannya sekitar 50 orang lebih, dan belum tertera di pengadilan," ungkapnya. (WIS)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.