Header Ads

https://bizlawnews.id/

Aksi Kibarkan Bendera Putih Sopir Bus Wisata di Depan Kantor Bupati Pati; PPKM Membuat Pelaku Wisata "Mati"

Kebijakan PPKM Mikro, PPKM Darurat dan PPKM 3 & 4 membuat objek wisata ditutup. Para pelaku usaha wisata sangat terasa imbasnya. Mereka banyak yang tidak bisa beroperasi bahkan menjual busnya. Para pelaku usaha wisata melakukan aksi demonstrasi di depan kantor Bupati Pati, Kamis (22/7/2021) untuk meminta solusi dari Pemerintah Kabupaten Pati terhadap permasalahan mereka kini. Foto : Wisnu Hendro/Pati.

PATI
- Sejumlah sopir bus melakukan aksi konvoi keliling kota Pati. Aksi ini dilakukan atas dasar kebijakan Pemerintah yang menutup tempat atau objek wisata selama masa pandemi Covid-19. Ada sekitar 8 bus pariwisata yang melakukan aksi damai dengan mengibarkan bendera putih yang berarti menyerah. 

Para sopir bus ini berhenti di depan Kantor Bupati Pati. Mereka menyalakan klakson dan mengibarkan bendera putih sebagai bentuk ketidaksanggupannya atas kebijakan pemerintah yang menutup tempat-tempat wisata, dan selanjutnya berjalan melanjutkan untuk kembali keliling kota Pati.

Kasiadi selaku koordinator aksi mengaku bahwa aksi ini dilakukan atas dasar ketidak sanggupannya para sopir-sopir bus pariwisata terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai sangat menekan para pelaku perjalanan pariwisata. Apalagi selama PPKM Mikro maupun PPKM Darurat, semua perjalanan pariwisata ditutup.

“Kami menyerah dan mengibarkan bendera putih. Selama ini kita benar-benar mati. Pendapatan kita nol, karena obyek wisata ditutup,” ungkapnya Kamis (23/7/2021).

Menurutnya, pemerintah sebelumnya sangat "menggembor-nggemborkan" dan membanggakan devisa pariwisata yang dinilai cukup besar, hanya saja atas kebijakan yang tidak mendukung, mengakibatkan pelaku pariwisata tercekik, hingga harus menjual Bus untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Kita hanya mengingatkan lagi, bahwa pariwisata itu juga sektor penting untuk ketahanan ekonomi, bagi masyarakat maupun pelaku pariwisata. Kami berharap agar pemerintah memberikan perhatian kepada kita,” keluhnya.

Pihaknya meminta agar pemerintah memberikan jalan kepada pelaku pariwisata maupun perjalanan pariwisata. Akan lebih baik apabila mereka difasilitasi kembali, yakni dengan cara jangan menutup. Kalaupun ada syarat-syarat yang harus dilakukan, pihaknya juga mengaku siap.

"Intinya jangan ditutup obyek pariwisata. Karena dengan menutup pintu rizki pelaku pariwisata, artinya mati,” pungkasnya. (WIS)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.