Header Ads

https://bizlawnews.id/

Akhirnya Teka-teki 2 T Hibah Akidi Tio Terjawab; Diduga Hanya Bohong

 

Keluarga Akidi Tio yang awalnya mengaku akan memberikan donasi 
Rp2 triliun melalui Polda Sumatera Selatan (Sumsel). Foto:  istimewa
PALEMBANG -Kepolisian Daerah Sumatera Selatan (Polda Sumsel) menggunakan pasal penghinaan negara dan penyiaran berita tidak pasti untuk menjerat Heriyanti, anak mendiang Akidi Tio terkait dengan pemberian sumbangan Rp2 triliun untuk penanganan COVID-19 yang bermasalah. 

"Akan kita kenakan UU nomor 1 tahun 1946, pasal 15 dan 16. Ancaman (pidana) di atas 10 tahun karena telah membuat kegaduhan," ujar Direktur Intelkam Polda Sumsel Komisaris Besar Ratno Kuncoro, dilansir dari cnnindonesia, Senin (2/8/2021)

Berdasarkan Pasal 15 Undang-undang Nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana disebutkan, "Barang siapa menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berkelebihan atau yang tidak lengkap, sedangkan ia mengerti setidak-tidaknya patut dapat menduga, bahwa kabar demikian akan atau mudah dapat menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya dua tahun.

" Sementara pasal 16 berbunyi, "Barang siapa terhadap bendera kebangsaan Indonesia dengan sengaja menjalankan suatu perbuatan yang dapat menimbulkan perasaan penghinaan kebangsaan, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya satu tahun enam bulan."

Lebih lanjut, Ratno berujar, saat ini penyidik masih mendalami motif yang melatarbelakangi Heryanti melakukan hal tersebut. Pihaknya pun masih menyelidiki seberapa jauh keterlibatan dokter pribadi keluarga Akidi, Hardi Darmawan, yang menjadi perantara dalam pemberian bantuan secara simbolis kepada Kapolda Sumsel Inspektur Jenderal Eko Indra Heri.

Sebelumnya, Heriyanti dijemput penyidik Polda Sumsel untuk diperiksa terkait pemberian sumbangan Rp2 triliun yang bermasalah. Dokter pribadi keluarga, Hardi Darmawan pun turut dijemput untuk diperiksa.

Heriyanti bahkan sudah ditetapkan sebagai tersangka karena dianggap menyiarkan kabar tidak pasti mengenai pemberian bantuan sebesar Rp2 triliun untuk penanganan COVID-19 di Sumsel.

Kepala Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Dian Ediana Rae sudah mengingatkan soal ini. Dia mengatakan semestinya sumbangan seperti itu bisa dikoordinasikan dengan PPATK sebelum mempublikasikan aksi sosial ini.

"Untuk ke depannya menangani pemberian sumbangan seperti ini mestinya para pihak koordinasi dulu dengan PPATK sebelum mempublikasikan sumbangan-sumbangan seperti itu. Kita kan bisa periksa dulu untuk memastikan kredibilitas setiap calon penyumbang dan menghindari spekulasi di masyarakat," katanya, dikutip dari cnbcindonesia, Senin (2/8/2021).

"Takutnya kalau tidak bisa terealisir, kan malah bisa mengganggu nama baik orang/lembaga yang terkait atau Pemerintah. Mudah-mudahan saja bisa terealisir ya," harapnya.

Di hari yang sama, polisi menetapkan anak Akidi Tio, Heriyanti, sebagai tersangka terkait bantuan Rp2 triliun. Saat ini Heriyanti sedang diperiksa di Polda Sumsel.

"Kita melakukan upaya penegakan hukum terhadap adanya polemik komitmen sumbangan COVID-19 yang ditujukan ke Kapolda Sumatera Selatan. Saat ini, tersangka inisial H sudah kita amankan dari lokasi," imbuh Dirintel Polda Sumsel Kombes Ratno Kuncoro, Senin (2/8/2021).
Hal itu disampaikan dalam konferensi pers bersama di Palembang. 

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru juga berada di lokasi konferensi pers tersebut. Dia mengatakan sudah ada bukti mencukupi untuk menetapkan tersangka. 
Dia belum menjelaskan detail perkara ini. "Alat bukti sudah mencukupi," ucapnya.

Selain itu, polisi memeriksa dokter keluarga Akidi Tio, Hardi Dermawan. Dia mengaku tak tahu-menahu soal bantuan itu.

"Saya tidak tahu. Dia mengatakan sudah ada, dia mengatakan uang itu ada. Saya belum lihat," kata Hardi saat tiba di Polda Sumsel.

"Ya kalau tidak ada saya minta maaf," sambungnya. Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru meminta agar Heriyanti yang merupakan anak Akidi Tio dihukum secara tegas karena telah menimbulkan kegaduhan.

Heriyanti diketahui sebelumnya sempat menyerahkan secara simbolis bantuan COVID-19 kepada Kapolda Sumatera Selatan, Irjen Pol Eko Indra Heri sebanyak Rp2 triliun pada Senin (26/7/2021) lalu. Namun, setelah dilakukan penyelidikan bantuan tersebut ternyata penipuan.

"Saya sebagai pemimpin Sumsel, minta kepada polri menindak tegas siapapun yang membuat kegaduhan polemik. 
Sehingga, suasana saat kita menangani pandemi COVID-19 menjadi terusik. Ini sudah bikin gaduh harus ditindak tegas," kata Herman saat menggelar konferensi pers, Senin (2/8/2021).

Dia menjelaskan, sedari awal pemberian bantuan dengan nilai fantastis tersebut ia menemukan kejanggalan. Bahkan, Herman sempat menggunakan jaringan bisnisnya untuk mencari sosok Akidi akan tetapi tak ada yang mengetahui latar belakang almarhum.

"Kita ini kan manusia yang hidup bergaul, tentu indikasinya bisa kita baca dengan pada tanggal 26 kemarin (saat memberikan bantuan) tapi sudah lengkap langkah polda dengan menangkap oknum tersebut," ujarnya.

"Kita tidak tahu apa keinginannya, sehingga melakukan hal di luar batas kemampuan berpikir kita. Saya minta tegas apa yang telah diperbuat oleh oknum individu dan keluarga, kalau berlarut bisa mempermalukan institusi," tambah Herman.

Selama ini, Herman mengaku bantuan untuk penanganan COVID-19 memang banyak yang menyumbang. Namun, rata-rata bantuan itu diberikan berupa fisik bukan uang.

"Kalau saya secara pribadi selalu selektif saya minta. Kalau orang nyumbang, Satgas COVID-19 nyumbang material bukan duit," ungkapnya. Sebagaimana diketahui, Heriyanti dan Hardi menyerahkan bantuan Rp2 triliun secara simbolis atas nama keluarga Akidi ke Polda Sumsel.

Bantuan itu diterima oleh Kapolda Sumsel Irjen Eko Indra Heri. Pemberian dana hibah triliunan itu disaksikan Gubernur Sumsel Herman Deru dan Dandrem Garuda Dempo (Gapo) Brigjen TNI Jauhari Agus. 

Penyerahan dana diserahkan keluarga Tio kepada Kapolda Sumsel Irjen Eko untuk penanggulangan COVID-19. Terutama kepada warga yang terkena dampak PPKM, yang saat ini tengah diberlakukan, Senin (26/7/2021).

"Dana tersebut diberikan salah seorang keluarga yang saya kenal sewaktu masih tugas di Aceh. Dan sekarang dia ingin membantu warga Sumsel yang terdampak COVID-19," kata Irjen Eko Indra, Senin (26/7/2021) kala itu. (RD)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.