Header Ads

https://bizlawnews.id/

Vonis Ringan Juliari; Pertimbangan "Aneh" Hakim Menjadi Candaan

Korupsi bantuan sosial di masa pandemi seharusnya dihukum seberat-beratnya. Foto : IST. 

JAKARTA -
Seolah dalam adegan drama, pemberantasan korupsi di Indonesia ini semakin membuat penonton bergelak tawa. 

Salah satu yang menjadi bahan candaan adalah, pertimbangan hakim Pengadilan Tipikor Jakarta yang meringankan terdakwa mantan Menteri Sosial RI Juliari P Batubara yang terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi bantuan sosial pandemi covid-19, adalah dirinya telah dibully oleh masyarakat yang membuatnya menderita. Hal itulah yang menurut majelis hakim menjadi faktor meringankan putusannya. 

Salah satu tokoh yang merasa pertimbangan hakim itu aneh adalah Dr. Rizal Ramli. Tokoh yang selama ini dikenal pandangannya berseberangan dengan pemerintah ini berpandangan, majelis hakim tipikor itu merupakan hakim-hakim langka yang menggunakan argumen teraneh di dunia. 

Seperti diketahui, dalam sidang yang digelar di Pengadilan Tipikor, Senin (23/8), hakim menjatuhkan vonis 12 tahun penjara untuk Juliari Batubara dan denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan.

Hukuman dijatuhkan karena Juliari bersalah menerima uang suap Rp 32,482 miliar berkaitan dengan bansos covid-19 di Kementerian Sosial.

Hal yang memberatkan menurut hakim adalah kejadian suap dilakukan saat negara sedang darurat covid-19 dan Juliari tidak mengakuinya.

Sedangkan yang meringankan, hakim menilai Juliari sudah cukup menderita karena di-bully masyarakat. 

Pertimbangan itulah yang disoroti. Malahan ada yang berpandangan, nanti setelah Juliari banding atas putusan itu, kemudian dipotong lagi hukumannya oleh Pengadilan Tinggi, hingga nanti kasasi di Mahkamah Agung sampai berkekuatan hukum tetap. Kemudian seluruh masyarakat mem-bully Juliary, akhirnya bisa saja majelis hakim merasa iba dan dibebaskan. (GR/AR)


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.