Header Ads

https://bizlawnews.id/

Dua Orang Kembali Diamankan dalam Kasus Dugaan Korupsi di PT Posfin

RDC Mantan Manajer Keuangan dan Akuntansi PT Posfin ditahan Kejati Jabar dalam kasus dugaan korupsi yang merugikan negara sekitar Rp52 miliar. Foto : Ist.

BANDUNG -
Kasus dugaan korupsi di anak perusahaan PT Pos Indonesia, yakni PT Posfin, yang merugikan uang negara sebebar Rp52 miliar masih berlanjut. Kejaksaan Tinggi Jawa Barat (Kejati Jabar) telah mengamankan lima tersangka dalam kasus dugaan korupsi di PT Posfin. Baru-baru ini, Kejati Jabar mengamankan dua tersangka baru yakni seorang broker dan pegawai bank syariah swasta di Kota Bandung.

Dua tersangka ini yaitu RA sebagai mantan Kepala Cabang PT Caraka Mulia Bandung dan SN selaku karyawan bank syariah swasta di Bandung. Adapun peran RA di sini sebagai broker.

"Peran RA dan SN ini signifikan. Sehingga akhirnya penyidik menyimpulkan terhadap dua saksi tersebut ditinggalkan menjadi tersangka hari ini juga," ujar Asisten Pidana Khusus Kejati Jabar Riyono, Senin (4/9/2021) malam.

Dua tersangka terlibat dalam proses pembayaran premi asuransi pinjaman kepada PT Berdikari Insurance. Riyono mengatakan, pembayaran yang seharusnya dilakukan PT Posfin melalui broker PT Caraka Mulia justru di mark-up oleh RA dan tersangka sebelumnya, RDC.

"Pembayaran premi di mark-up hingga Rp2,8 miliar. Namun, jumlah tersebut dibatalkan PT Berdikari Insurance," ungkapnya.

Setelah dibatalkan, RA kemudian mentransfer uang premi asuransi sebesar Rp2,8 miliar ini ke rekening tersangka MT yang merupakan mantan Kapala Cabang PT Berdikari Insurance Bandung.

"Dikirim juga ke dua rekan MT sebesar Rp871 juta. Premi yang dibayarkan ke rekening PT Berdikari Insurance dari Rp2,8 miliar hanya Rp 391 juta," jelasnya.

Parahnya lagi, Riyono bilang, sisa uang yang tidak dibayarkan itu kemudian dibagikan ke tiga orang tersangka yang sudah diamankan sebelumnya yaitu, RDC, S (sudah meninggal), MT. RA disebut mendapatkan bagian Rp672 juta lebih, SN sebesar Rp366 juta, MT sebesar Rp302 juta, RDC sebesar Rp202 juta dan S sebesar Rp700 juta.

"Selain me-mark up uang premi asuransi yang dikeluarkan PT Posfin sebesar Rp2,8 miliar, tersangka juga bersepakat membagi-bagi kelebihan yang premi asuransi dari yang diterima resmi oleh PT Berdikari Insurance," ungkapnya.

Sebagaimana publik ketahui, kasus ini berawal dari penangkapan tersangka berinisial RDC. Ia diduga melakukan tindak pidana korupsi di PT Posfin tahun anggaran 2018/2020 sebesar Rp52.612.200.000.

Tersangka RDC merupakan mantan Manajer Keuangan dan Akuntansi PT Posfin. Adapun perusahaan ini merupakan anak dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT. Pos Indonesia yang bergerak dalam bidang finansial.

RDC telah melakukan tindak pidana korupsi dengan melakukan markup anggaran dan memfiktifkan sejumlah proyek di PT Posfin.(IN)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.