Header Ads

https://bizlawnews.id/

Harga Minyak Goreng Masih Tinggi; Ternyata Ini Penyebabnya

Minyak goreng harganya semakin mahal. Harga minyak goreng di pasaran kini mencapai Rp20 ribu per liternya. Padahal sebelumnya per liter hanya Rp 10 ribuan. Foto : Ilustrasi.

Jakarta - Harga minyak goreng di sejumlah daerah dalam harganya dari hari ke hari belakangan ini semakin meningkat. Hal ini dikeluhkan masyarakat di berbagai daerah, pun demikian di ibu kota Jakarta.

Tak hanya di pasar tradisional, di perbelanjaan modern pun demikian. Harga minyak goreng yang menjadi turunan produk sawit ini meninggi. 

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menjelaskan, kenaikan harga minyak goreng di pasaran saat ini imbas dari tingginya harga minyak sawit mentah (CPO) dan kurangnya pasokan bahan baku di pasar minyak nabati dan lemak secara global.

Ia menandaskan, saat ini harga CPO global yang menjadi acuan yaitu CiF Rotterdam sedang tinggi sehingga menyebabkan harga CPO lokal ikut melonjak dan berpengaruh pada biaya produksi industri minyak goreng kelapa sawit.

Selain itu, Sahat menerangkan kondisi pasar minyak nabati dan lemak (oils & fats) global tengah mengalami kekurangan pasokan akibat pandemi dan cuaca buruk. Kategori minyak nabati hard oils ialah minyak sawit, minyak kernel, dan minyak kelapa. Kategori soft oils adalah minyak kedelai, minyak rapeseed, minyak canola, minyak bunga matahari dan lainnya. Sedangkan kategori lemak terdiri dari minyak ikan dan hewan lainnya.

Sahat menerangkan produksi minyak canola di Kanada dan produksi minyak kedelai di Argentina mengalami penurunan sehingga menyebabkan melonjaknya harga komoditas minyak nabati. Produksi CPO di Malaysia juga menurun akibat kekurangan tenaga kerja untuk memanen buah sawit.

"Hukum ekonomi supply vs demand berlangsung terjadi. Pasokan oils & fats dunia sangat berkurang. Inilah faktor utama terjadi short supply, maka harga minyak sawit di pasar global meningkat pesat sejak Januari 2021," kata Sahat.

Kondisi seperti ini pernah terjadi di tahun 2020 di mana produksi 17 jenis minyak nabati dan lemak menurun 266 ribu ton dibanding produksi tahun 2019 yang sebanyak 236.820 ribu ton. Dan pada tahun 2021 ini produksi minyak nabati dan lemak juga hampir sama dengan hasil tahun 2020.

Sahat memprediksi kenaikan harga sawit masih akan terjadi, setidaknya hingga kuartal I 2022 mengingat kedua faktor penghambat produksi minyak nabati yaitu pandemi COVID-19 dan cuaca buruk.

"Suasana kenaikan harga sawit ini juga didukung oleh minyak bumi (Brent Oil) yang sekarang ini harga global berada di level 85,53 USD per barrel, dari harga USD 43,8 per barrel di tahun lalu," kata Sahat.

Sementara itu, Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri memiliki penjelasan yang hampir sama. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan menjelaskan alasan di balik naiknya harga minyak goreng dalam negeri. 

Menurutnya, kenaikan harga ini tak lepas dari pengaruh pasar global. "Pengaruh utamanya adalah pasokan minyak nabati dunia terganggu," kata Nurwan, Jumat (12/11/2021). 

"Gangguan yang paling signifikan di antaranya adalah pemasok Canada Canola Oil dan di Argentina terjadi gangguan produksi sehingga turun sekitar 7 persen," imbuhnya. (MR/KM)


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.